Mungkin ibu kerap menemukan istilah yang 'agak memusingkan' terkait nutrisi yang dibutuhkan bayi seperti FOS, GOS, probiotik, sinbiotik, nukleotida dan sebagainya. 


Kami mencoba merangkum sejumlah istilah yang kerap muncul dalam nutrisi bayi, namun belum sepenuhnya dipahami maknanya. Semoga dengan membaca ini, ibu menjadi lebih mengerti ya:

1. FOS & GOS
FOS (Frukto Oligosakarida) dan GOS (Galakto Oligosakarida) adalah 2 jenis oligosakarida yang merupakan salah satu jenis prebiotik yang terdapat di ASI.  Oligosakarida sendiri adalah sejenis karbohidrat yang secara selektif di metabolisme di usus besar sehingga mampu meningkatkan jumlah bakteri baik secara alami di dalam saluran cerna.  Tidak dicerna oleh enzim manusia. Menjadi makanan bagi bakteri baik sehingga jumlah bakteri baik  meningkat. Dengan meningkatnya pertumbuhan bakteri baik, maka fungsi saluran cerna pun semakin sehat.  Pada saluran cerna, terdapat 80% dari sistem imunitas tubuh anak.  Uji klinis terhadap 1600 bayi menunjukkan bahwa komposisi FOS:GOS 1:9 dengan kadar yang signifikan (FOS 0.08gr/100 ml : GOS 0.7 gr/100ml) dapat membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan. 

2. Gangliosida
Gangliosida adalah istilah umum untuk gula yang mengandung lipid atau sel lemak, secara alami terdapat dalam ASI. Berfungsi untuk membantu proses komunikasi antar sel (dalam hal membantu pengolahan signal atau rangsangan). Semua susu formula mengandung gangliosida karena memang sudah ada secara alami pada susu sapi (dengan jumlah kandungan berbeda dengan ASI)

3. Karotenoid
Karotenoid adalah nutrisi yang penting untuk melindungi anak dari terjadinya infeksi, menjaga pertumbuhan yang normal dan meningkatkan ketajaman penglihatan karena merupakan bahan baku pembentuk Vitamin A. Karotenoid alami terdapat dalam bentuk beta karoten, lutein dan lainnya. Konsumsi karotenoid bagi anak usia 1 – 4 tahun yang dianjurkan adalah 60 – 90 mg/hari (untuk total karotenoid, termasuk beta karoten, lutein, dan lainnya).

4. Nukleotida
Nukleotida merupakan struktur pembentuk inti sel - DNA dan RNA yang penting untuk perkembangan sel, fungsi-fungsi tubuh dan penggantian jaringan yang rusak. Nukleotida tersebut terdapat di semua sel tubuh. Nukleotida juga berperan dalam metabolisme sel, berperan penting dalan membangun kekebalan tubuh terhadap infeksi. Hal tersebut merupakan salah satu alasan mengapa anak yang diberikan ASI jarang terkena batuk, pilek, dan berbagai penyakit lain.

5. Omega 3
Omega 3 atau asam alfa linolenat adalah asam lemak esensial dan asam lemak tidak jenuh ganda rantai panjang, yang jika dikonsumsi bisa membantu tubuh membentuk DHA.  Asam  lemak ini tidak dapat dibentuk oleh tubuh sehingga pemenuhannya harus disuplai melalui makanan. 

6. Omega 6
Omega 6 atau asam linoleat adalah asam lemak esensial dan asam lemak tidak jenuh ganda rantai panjang,  yang jika dikonsumsi bisa membantu tubuh membentuk AA. Asam  lemak ini tidak dapat dibentuk oleh tubuh sehingga pemenuhannya harus disuplai melalui makanan. 

7. Prebiotik
Prebiotik adalah serat pangan yang berfungsi secara selektif menstimulasi pertumbuhan bakteri baik dalam usus besar.  Salah satunya adalah bifidobacteria. Prebiotik secara alami ada dalam ASI, salah satunya adalah oligosakarida. Dalam proses produksi makanan, prebiotik sangat stabil, dimana tidak terpengaruh proses produksi dan kondisi penyimpanan. Memberikan manfaat yang sangat penting untuk meningkatkan kesehatan saluran cerna selain meningkatkan kemampuan penyerapan mineral secara optimal oleh tubuh dan membantu menjaga daya tahan tubuh.Dengan konsumsi prebiotik, keseimbangan bakteri dalam usus meningkat, sehingga memberikan dampak yang positif pada kesehatan.

8. Probiotik
Probiotik adalah bakteri baik yang jika diberikan dalam jumlah yang signifikan, dapat membantu fungsi saluran cerna. Namun harus dicermati bahwa bakteri baik di saluran cerna jumlah banyak sekali dan terdiri dari berbagai strain atau jenis (lebih dari 500 jenis). Sehingga penambahan bakteri baik  atau konsep probiotik harus memikirkan spesifikasi strain/jenis bakteri baik. Probiotik tidak terdapat secara alami pada ASI dan tidak tahan panas.

9. Sinbiotik
Sinbiotik adalah perpaduan antara prebiotik dan probiotik. Berfungsi untuk mempertahankan fungsi saluran cerna.

10. Sphyngomyelin
Sphyngomyelin adalah sejenis lemak yang ditemukan di sel membran, terutama di jaringan saraf. Berfungsi untuk membantu saraf memproses perubahan signal atau rangsangan yang diterima. Semua susu formula mengandung sphingomyelin karena memang sudah ada secara alami pada susu sapi.

11. Kolin
Merupakan komponen dari Vitamin B yang berfungsi untuk mencegah membran sel tidak gampang rapuh/ bocor sehingga proses regenerasi sel berjalan lancar. Sel-sel yang paling butuh komponen kolin adalah sel sel yang memiliki struktur lemak. Sel sel ini paling banyak terlokalisasi di membran otak (sphyngomyelin dan fosfatidilkolin).  Itu sebabnya kolin dibutuhkan otak untuk meregenerasi/memperbaharui sel-selnya. Kolin juga dibutuhkan untuk mendukung aktifitas sistem saraf pusat dengan cara membantu proses pengiriman pesan di otak.

12. Lactoferin
Lactoferin adalah zat pengikat zat besi yang terdapat pada pecahan protein whey ASI. Berguna untuk meningkatkan penyerapan zat besi dan mencegah infeksi oleh bakteri.

13. Laktosa
Laktosa, atau sering juga disebut sebagai gula susu, adalah bagian dari susu yang memberikan rasa manis dengan tingkat kemanisan lebih rendah dari sukrosa. Laktosa berfungsi untuk membantu penyerapaan natrium dan kalsium.  Juga memberikan efek positif terhadap fisiologis  usus, termasuk efek prebiotik, melunakkan kotoran dan membantu mengikat air.

14. Laktulosa
Laktulosa adalah gula sintetis yang tidak dapat dicerna oleh tubuh, dan dapat membantu untuk pertumbuhan Lactobacillus dan Bifidobacteria dalam usus besar.  Berfungsi untuk menyembuhkan atau mencegah konstipasi dan komplikasi hati.

15. Lutein
Lutein merupakan karotenoid, sama seperti beta-karoten. Ditemukan di berbagai jenis sayuran. Beberapa studi menunjukkan bahwa Lutein dapat menyembuhkan penyakit makula mata yang berhubungan dengan usia (pada usia lanjut) seperti degenerasi makula dan katarak. Namun, belum ditemukan bukti klinis bahwa lutein dapat mencegah penyakit ini serta belum ada bukti klinis tentang fungsi lutein terhadap perkembangan sistem fungsi penglihatan balita.  (berbagai sumber).

sumber : http://www.go4healthylife.com/articles/5602/1/Yuk-Kenali-Istilah-Nutrisi-Bayi/Page1.html, akses tgl 13/07/2012.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours