Karena golden age membutuhkan nutrisi terbaik. 


Bayi tiga tahun (batita) memang sudah memiliki suatu kecenderungan. Baik itu tingkah yang dia sukai. Termasuk makanan atau minuman yang sangat dia ingin konsumsi. Hal ini yang dialami Rahma Novanti, seorang ibu yang tinggal di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, terhadap Rio, anaknya yang berusia 2,5 tahun. Rio emoh makan sayur dan buah.

Tapi dia lebih suka makanan yang renyah dan gurih. “Pokoknya serba digoreng dan kering. Dia juga enggak terlalu suka minum susu,” ungkap Rahma. Entah berhubungan atau tidak, kata Rahma, yang pasti Rio kerap diradang diare. Hampir setiap bulan, Rio selalu mengalami mencret, mules, dan gangguan pencernaan lainnya 2-3 kali.

Divisi Mikrobiologi University of California, AS, pada tahun lalu, pernah melansir soal penelitian yang berkolerasi seperti kasus di atas. Bahwa penyebab batita kerap menderita diare atau gangguan pencernaan lainnya lantaran kekurangan nutrisi, khususnya prebiotik. Menu-menu yang monoton dan tidak kaya vitamin, mineral, dan protein menambah parah kondisi batita tersebut.

Prebiotik adalah bakteri hidup atau mikroorganisme yang membantu kekebalan. Sederhananya, ibarat bakteri untuk antibiotik. Salah satu turunannya adalah kelompok organisme Lactobacillus rhamnosus GG (alias LGG) dan Saccaharomyces boulardi yang dapat menangani diare.

”Mereka (prebiotik) menyediakan nutrien untuk bakteri hidup dan meningkatkan kemampuan bertahan dan berkembang biak di dalam pencernaan anak dengan membentuk isi saluran pencernaannya,” ujar David Mills, PhD, kepala penelitian tersebut. Mills menambahkan, prebiotik dapat ditemukan di makanan kaya serat seperti gandum, buah dan sayuran, termasuk susu di dalamnya.

Bukan soal pencernaan saja. Kekurangan nutrisi dan susu pada batita bisa dianggap ”tanda bahaya”. Pasalnya, batita merupakan termasuk golden age, di mana pertumbuhan dan perkembangan mencapai masa-masa terbaiknya. Prof Dr Ir Ali Khomsan MS, pengajar Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor, mengungkapkan perkembangan jaringan otak pada masa itu sampai 80-85 persen.

“Perkembangan dan kecerdasan anak dipengaruhi dua hal. Gizi yang baik dan stimulasi yang baik pula,” ujar dia ketika menjadi pembicara di acara “Dancow Batita: Ayo ke Posyandu-TAT” pada awal pekan ini. Khomsan menyebutkan bahwa kekurangan nutrisi itu dapat didukung dengan pemberian susu yang baik.

Tentunya susu pertumbuhan yang baik tentu harus mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan batita. Menurut Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS), ada patokan yang disebut nutrisi seimbang atau balanced nutrition bagi batita, yakni nutrisi makro yang dikonsumsi dari kalori yang dibutuhkan dengan rasio karbohindrat (60-75 persen), protein (10-15 persen), dan lemak (10-25 persen).

Bagi batita, balanced nutrition akan memberi fungsi menyeluruh untuk mengoptimalkan pertumbuhan (Growth), kekebalan tubuh (Immunity), pencernaan (Digestion), dan tingkat kecerdasan (Brain). Khomsan juga memberi petunjuk beberapa syarat susu pertumbuhan yang dianggap baik. Misalnya, susu itu harus mengandung unsur asam amino, karbohidrat, lemak dan kalsum. Termasuk nutrisi aktif berupa prebiotik yang berfungsi menjaga saluran pencernaan dan asam lemak esensial (asam lineleat/LA dan asam linolenat/ ALA), kolin dan taurin untuk perkembangan otak.

Aktif dan Tanggap 

Lalu, apa yang terjadi bila batita kekurang nutrisi dan asupan pendukung seperti susu? Mayke Sugainto Tedjasaputra, psikolog dan play therapist, menyebutkan batita itu tidak akan tumbuh sempurna. Padahal, untuk mengidentifi kasi hal itu dapat dilihat dari tiga indikator, yakni batita itu tumbuh, aktif, dan tanggap. Tumbuh, misalnya, idealnya ketika usia satu tahun, berat anak itu sudah tiga kali ketika lahir dan empat kali berat lahir ketika usia dua tahun (atau sekitar 12-14 kilogram).

Yang kemudian berat itu bertambah 2-3 kilogram per tahun. Sedangkan tingginya plus 25 sentimeter dari panjang badan lahir dan plus 88 sentimeter pada usia dua tahun dan plus 96 sentimeter ketika menginjak tiga tahun. Namun untuk tinggi badan ini juga dipengaruhi faktor genetik. Sedangkan pengertian aktif, batita itu menunjukkan energi yang tinggi.

Dia bersemangat, punya rasa ingin tahu yang besar, banyak bertanya, tidak mudah menyerah, mau mencoba, dan ingin melakukan sendiri. Dan terakhir, tanggap, dapat dilihat bila batita itu mempunyai kemampuan berkomunikasi dua arah, menyukai hal-hal baru, dapat menyimak, memahami ucapan, ingin bermain, dan sudah dapat berbagi dengan orang lain dalam bentuk yang sederhana “Untuk mendukung hal itu, nutrisi dan stimulus perlu berimbang diberikan.

Permainan kognitif, psikososial, dan motorik, merupakan beberapa bentuk stimulasinya,” ujar Mayke. Bentuk konkretnya, misalnya, dengan mengajak sang batita bermain membangun ruang atau disebut temmpo, story telling, nesting plate dan stacking toys (menyusun gelang-gelang), menggambar yang baik untuk saraf motoriknya.

Masih Rendah 

Sayangnya, meski begitu pentingnya susu, tingkat konsumsi anak Indonesia masih rendah. Rata- rata hanya 7,7 liter per kapita per tahun alias 19 gram per hari. Alhasil, kondisi itu berdampak pada rendahnya kualitas gizi balita dan anak Indonesia. Survei kesehatan 2007 menunjukkan bahwa menyebutkan 5,4 persen balita berada dalam gizi buruk dan gizi kurang sebesar 13 persen di 19 provinsi.

Yang artinya, bila diperkirakan saat ini terdapat 20 juta balita, maka ada 2,5 juta yang kurang gizi dan satu juta yang gizi buruk. Di sisi lain, produksi susu dalam negeri hanya mampu memenuhi 25,11 persen dari total kebutuhan nasional (2009). Sisanya? Indonesia mengimpor susu. Tak heran bila keluarga Indonesia yang menyimpan susu di rumah, rata-rata bisa dikatakan nol. Berbanding terbalik dengan keluarga-keluarga di Vietnam yang masih menyisakan dua liter susu di rumahnya.

nala dipa
sumber : http://koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=70603, akses tgl 28/12/2010. 

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours