Walau sudah 2 jam disuapi ibunya, Randi, dua setengah tahun, hanya mau sedikit mengunyah makanan. "Cuma dapat satu suapan," kata ibunya, Lena, 30 tahun. Itu pun bukan makanan lengkap yang disajikan. Hanya nasi dan daging ayam nugget. 


"Makanan lain susah masuknya," kata dia. Selain sulit makan, acara makan tak bisa dilakukan dengan fokus. Harus dibarengi dengan main, nonton televisi, lari-lari, atau melakukan aktivitas yang lain. Walhasil, makanan singgah lama di mulut dan aktivitas makan berlangsung lama, tapi hanya sedikit makanan yang masuk.

Pengalaman Dyah, 30 tahun, lain lagi. Putri semata wayangnya, Neisa, 2 tahun, hanya menyukai tiga jenis makanan: bubur, bakso, atau telur. Kalau disuapi dengan sayur atau buah, bocah itu akan menolak. Ketika diberi sayur, walaupun sudah diiris kecil-kecil, si bocah tetap tahu. "Dia sudah bisa membedakan rasa," kata Dyah. Maka asupan gizinya banyak dipasok dari susu cair.

Lena dan Dyah tak sendirian. Banyak orang tua mengalami hal serupa. Perilaku sulit makan (picky eating) memang banyak dialami anak-anak. Dr Aryono Hendarto, dari Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik pada Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, mengatakan perilaku sulit makan ini didefinisikan sebagai ketidakmampuan anak dalam mengkonsumsi makanan yang diperlukan secara alamiah, wajar, dan dengan menggunakan mulut secara sukarela. Sulit makan ini bukan bagian tahap pertumbuhan anak. "Tapi ada sebabnya. Penyebabnya pun macam-macam," kata Aryono dalam workshop di Jakarta.

Kesulitan yang paling banyak dikeluhkan adalah anak hanya mau makan makanan lumat/cair. Lalu diikuti kesulitan mengisap, mengunyah, menelan, kebiasaan makan yang aneh, tak menyukai banyak macam makanan, hingga telat makan mandiri.

Pada anak normal, prevalensi anak yang mengalami sulit makan ini mencapai kisaran 50 persen. Menurut penelitian Harris Interactive Michigan, Amerika Serikat, di Indonesia, masalah makan pada anak usia 1-6 tahun mencapai 45 persen.

Aryono menyatakan, umumnya, picky eating terjadi pada anak usia 1 tahun ke atas. Sebab, pada usia itu anak umumnya sudah mulai bisa berjalan. "Mereka lebih tertarik mengeksplorasi lingkungan sekitar daripada makan."

Karena mengalami picky eating, kebutuhan energi dan pola makan anak terganggu. Dalam studi yang dilakukan pada 494 anak pada usia 5 tahun, 30 persen dari jumlah itu dilaporkan sebagai poor eater. "Picky eater ditemukan lebih pendek, berat badan kurang, dan mendapatkan kalori dari snack," kata Aryono. Selain itu, mereka tak cukup mengkonsumsi vitamin C dan E, sedikit mengkonsumsi protein, kalori dan lemak, serta lebih sedikit konsumsi sayur, daging, dan buah. "Ukuran paling mudah adalah berat badan anak kurang," Aryono menambahkan.

Selain itu, picky eater lebih sedikit mengkonsumsi mikronutrien (kalsium, zat besi, zinc, vitamin A, dan vitamin B6) ketimbang anak yang bukan picky eater. Secara psikologi, psikososial dan perkembangan emosi picky eater terganggu. "Pemberian makan merupakan sarana belajar bagi anak untuk berinteraksi sosial," kata Tjhin Wiguna, psikiater anak dari Divisi Anak dan Remaja Departemen Psikiatri UI-RSCM.

Aryono menyatakan faktor penyebab picky eating ini beragam, dari anaknya, makanannya, hingga si pemberi makan. "Misalnya karena anak alergi terhadap makanan tertentu, memiliki penyakit, atau faktor psikologis," kata dia.

Tjhin mengatakan orang tua perlu menciptakan suasana yang nyaman buat anak saat memberi makan agar anak merasa nyaman. Orang tua juga perlu menimbang porsi makan. Sebab, kemampuan lambung tiap anak berbeda. Anak tak harus menghabiskan makanan dalam jumlah banyak. Ciri-ciri jika anak kenyang, kata Tjhin, adalah mereka mulai mengantuk serta relaks meregangkan badan dan jemarinya.

Jika anak Anda mengalami kesulitan makan, konsultasikan hal itu dengan dokter. Selain itu, ada tiga jenis penanganan: edukasi bagi orang tua, membentuk perilaku si kecil, serta suplementasi dengan makanan produk yang lengkap dan seimbang.

Aryono menjelaskan, proses makan tidak harus dilakukan dengan pemaksaan. "Orang tua harus mengerti tentang mengatur ekspektasi pertumbuhan dan nutrisi anak," kata dia. Selain itu, orang tua harus mengerti tentang prinsip-prinsip pemberian makan (feeding).

Makanan suplemen dibutuhkan untuk mencegah risiko kekurangan nutrisi karena si kecil susah makan, bukan sebagai pengganti makanan.

"Suplementasi membantu proses tumbuh kejar pada anak yang mengalami berat badan kurang dan mengurangi pemaksaan pada saat pemberian makan," kata Aryono.

NUR ROCHMI 

==============================================================
CARA MEMBERI MAKAN 


Cara terbaik untuk mencegah masalah makan (picky eating) adalah dengan mengajari anak-anak makan sendiri sedini mungkin, menyediakan mereka dengan pilihan yang sehat, dan memungkinkan eksperimen.

"Makan harus menyenangkan dan menyenangkan, dan bukan paksaan," kata Dr Aryono Hendarto.

TIP MEMBERI MAKAN ANAK 

  • Pemberian makan harus fleksibel, tapi usahakan dengan jadwal yang teratur.
  • Dudukan anak di kursi dan menghadap ke depan.
  • Hindarkan anak dari gangguan, seperti mainan, buku, atau tayangan televisi.
  • Duduklah di sebelah anak pada saat anak makan, paling tidak berada dekat dengan anak. Jangan biarkan anak tidak terjaga.
  • Batasi durasi makan. Maksimal 30 menit.
  • Pada anak yang lebih besar, biarkan mereka menyentuh makanan dan makan menggunakan tangan mereka sendiri.
  • Biarkan anak makan sendiri dan menentukan berapa banyak porsi yang mereka makan.
  • Perkenalkan makanan secara bertahap, dan jangan khawatir bila hanya memilih makanan tertentu. Carikan alternatif makanan yang tidak disukai anak.


NUR ROCHMI
sumber :  http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2010/12/13/Gaya_Hidup/krn.20101213.220744.id.html, akses tgl 13/12/2010.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours