KECANDUAN minuman bersoda? Banyak orang melaporkan hal yang sama. Masalahnya, beberapa produk mengandung hingga delapan sendok teh gula. Karena itu, minuman ini seringkai dikaitkan dengan masalah obesitas. 

Apa yang membuat Anda keranjingan soda? Saat Anda mengonsumsi soda bergula, terang Sian Porter dari British Dietetic Association, terjadi peningkatan kadar gula yang Anda terjemahkan sebagai peningkatan energi.

"Tapi karena gula sederhana seperti sukrosa dan glukosa dalam minuman ini digunakan tubuh dengan cepat, peningkatan tersebut akan diikuti dengan penurunan energi, yang akan membuat orang merasakan kelelahan dan perlu minum lagi," tutur Porter, seperti dikutip situs dailymail.co.uk.

Kandungan gula dalam minuman bersoda juga bisa memicu ketergantungan. Tikus yang diberikan gula dosis tinggi dalam diet mereka, terang Bart Hoebel dari Princeton University, menunjukkan perubahan di area otak, sama seperti efek yang dtimbulkan kokain, morfin dan nikotin.

Selain itu, minuman bersoda seperti kola juga tinggi kafein. Satu kaleng kola bisa mengandung sekitar 34,5 mg kafein. Jumlah ini setara dengan setengah cangkir kopi instan. Kandungan kafein ini bisa menyebabkan ketergantungan dan jika tidak dikonsumsi beberapa hari saja bisa memicu gejala, seperti sakit kepala, insomnia dan keletihan.

Minuman bersoda juga seringkali mengandung asam fosfat, kandungan yang memberikan rasa tajam dan menggelitik lidah. Dalam jumlah besar, menurut studi dari Harvard University, asam fosfat bisa mengganggu kulit dan otot serta merusak hati dan ginjal dalam jangka panjang.

"Keseimbanagn fosfat dalam tubuh memengaruhi proses penuaan. Jadi, jangan mengonsumsi mineral ini dalam jumlah berlebih," terang peneliti Dr Shawkat Razzaque. Fosfat yang dilepaskan dari dua minuman bersoda saja seminggu bisa membuat kalsium larut dari tulang. Kola khususnya sangat merusak.

Penelti dari Tufts University di Boston menemukan, perempuan yang secara teratur minum tiga kaleng atau lebih soda sehari memiliki kepadatan mineral tulang empat persen lebih rendah di pinggul dibandingkan perempuan yang mengonsumsi tipe minuman ringan lainnya.

Selain itu, ada bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang yang secara teratur mengonsumsi minuman ringan tidak bisa mengontrol asupan kalori seefektif orang-orang yang minum air putih. Otak mereka gagal mengenali kalori gula dalam cairan. Karena itu, otak mengirim sinyal bahwa mereka masih lapar."Akibatnya, mereka mengonsumsi kalori lebih banyak dibandingkan jumlah seharusnya," terang Porter.

Hal ini,bisa menjelaskan mengapa minuman ringan meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

Efek pada gigi 
Dan jangan lupa gigi Anda. "Meskipun produk ini berasa manis, kandungan asam fosfat di dalamnya menurunkan tingkat PH, sehingga membuat produk ini asam," terang Laura Wyness dari British Nutrition Foundation.

Hal ini, terang dia, sangat buruk untuk gigi. Menurut laporan di British Dental Journal, minuman berkarbonasi merupakan faktor terbesar penyebab erosi email gigi pada anak-anak.

"Cobalah menahan diri. Dikonsumsi dalam jumlah kecil sekalipun tetap tidak bermanfaat untuk Anda," terang Porter. (IK/OL-06)

sumber : http://www.mediaindonesia.com/mediahidupsehat/index.php/read/2010/07/14/2866/3/Kenali-Penyebab-Keranjingan-Soda, akses tgl 24/11/2010.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours