Ridwan Setiawan kecil sangat suka susu. "Pokoknya, kalau nangis karena apa pun--jatuh, berantem, atau dimarahin bapaknya--diamnya ya cuma dikasih susu," kata Eti Nurbaeti, ibu Ridwan. Dua adik Ridwan, Rizki dan Rinto, juga minum susu, meski tak sebanyak sang kakak. Eti, 50 tahun, masih ingat, 20 tahun lalu, dia terpaksa mencampur susu dengan tepung agar susu kaleng 2,5 kilogram bisa cukup untuk sebulan. 

"Kalau enggak dicampur, anggaran rumah tangga habisnya buat susu si Ridwan doang," kata Eti, mengenang. Kini Ridwan, 26 tahun, tumbuh menjadi lelaki bertubuh besar dan atletis. Tingginya 182 sentimeter dan berbobot 80 kilogram. Ridwan paling tinggi dan besar di antara dua saudaranya yang lain. Hingga saat ini Ridwan masih mengkonsumsi susu, meski tak sebanyak waktu kecil dulu.

Banyak dari kita menyadari manfaat susu bagi pertumbuhan anak. Namun, menurut Dr Samuel Oetoro, SpGK, susu tak hanya dibutuhkan selama masa tumbuh-kembang anak. "Seumur hidup manusia membutuhkan susu," kata dosen konsulen gizi klinis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu dalam peluncuran kampanye "Raih Esokmu" di Ballroom Hotel Ritz-Carlton, Jumat lalu.

Pada tahun-tahun pertama kehidupannya, seorang bayi membutuhkan air susu ibu. Di usia balita, anak, dan remaja, susu dibutuhkan untuk mendukung proses tumbuh-kembang, membantu anak memiliki ingatan yang lebih baik, serta mengurangi jumlah anak tumbuh pendek. Minimnya konsumsi susu pada anak akan menyebabkan pertumbuhan yang lambat. Di usia ini, susu juga bermanfaat untuk menabung kalsium. "Di usia 30 tahun, kemampuan tulang dalam menyerap kalsium berkurang, dan kalsium dalam tulang mulai dikeluarkan," kata Samuel.

Kalau kadar kalsium dalam tulang berkurang, bukan mustahil pengeroposan tulang (osteoporosis) terjadi. "Di Indonesia, insiden osteoporosis cukup tinggi," kata Samuel. Data Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi Kementerian Kesehatan menunjukkan 41,8 persen laki-laki dan 90 persen perempuan Indonesia memiliki gejala osteoporosis. Sedangkan 28,8 persen laki-laki dan 32,3 persen perempuan di Indonesia terserang osteoporosis.

Di Indonesia, jumlah konsumsi susu masih rendah, meskipun terus meningkat. Data South East Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) 2008 menunjukkan konsumsi susu di Indonesia sebanyak 7,7 liter per kapita per tahun. Pada 2010, data Kementerian Pertanian menunjukkan konsumsi susu di Indonesia sebanyak 11,7 liter per kapita per tahun.

Namun konsumsi susu itu masih cukup rendah dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Thailand dengan 31,7 liter per kapita per tahun, dan bahkan Vietnam dengan 12,1 liter per kapita per tahun. Finlandia sendiri merupakan negara dengan konsumsi susu tertinggi di dunia dengan 130 liter per kapita per tahun.

Hendro H. Poedjono, Trade Marketing Director Frisian Flag Indonesia, menyebutkan, pertumbuhan konsumsi susu cair meningkat lebih dari 20 persen per tahun di Indonesia. "Ini menunjukkan kecenderungan gaya hidup masyarakat Indonesia yang semakin praktis," kata Hendro.

Menurut Samuel, salah satu cara mencukupi kebutuhan gizi harian adalah dengan mengkonsumsi susu setidaknya dua gelas sehari. Segelas susu mengandung sumber nutrisi terbaik. Bukan cuma kalsium, tapi juga karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin B1, B6, B12, A, serta D. Selain itu, ada laktofenin, yaitu zat yang sangat penting untuk menstimulasi kekebalan, dan osteoprotogenik, yang berfungsi mentransfer kalsium untuk masuk ke dalam tulang serta matriks tulang yang membentuk tulang sempurna. | AMANDRA MUSTIKA MEGARANI 

Susu Mana yang Lebih Baik 

- Susu segar memiliki nutrisi yang baik karena mendapat proses pasteurisasi, yaitu proses pemanasan dalam waktu singkat untuk membunuh mikroorganisme, kemudian didinginkan, sebelum diminum. Proses pemanasan yang singkat membuat kandungan nutrisi lebih terjaga. Namun, sebelum diminum, susu segar harus selalu disimpan dalam keadaan dingin. Susu segar memiliki waktu kedaluwarsa yang singkat.

- Susu cair mendapat proses ultra high temperature (UHT), yaitu proses pemanasan ke suhu yang lebih tinggi (ketimbang pasteurisasi) dalam waktu yang singkat. Panas yang lebih tinggi menyebabkan kandungan nutrisi pada susu cair tak sebanyak susu segar. Namun susu cair UHT dapat disimpan dalam suhu normal dan memiliki waktu kedaluwarsa yang lebih panjang.

- Susu bubuk dan susu kental manis mengalami proses yang lebih panjang. Meski kandungan nutrisinya tak sebanyak susu segar atau susu cair, susu bubuk mendapat tambahan (fortifikasi) vitamin, mineral, dan zat lainnya untuk meningkatkan kandungan nutrisinya. Waktu kedaluwarsa jenis susu ini lebih panjang. Namun, setelah kemasan dibuka, susu jenis ini harus disimpan dalam tempat yang tertutup rapat. Semakin banyak terkena udara, akan terjadi proses oksidasi yang bisa mengurangi kandungan nutrisi dalam susu bubuk.

Menurut Dr Samuel Oetoro, SpGK, cara menyajikan susu dari jenis susu bubuk juga perlu diperhatikan untuk menjaga kandungan nutrisinya. "Jangan menyeduh susu bubuk dengan air mendidih atau air yang terlalu panas karena dapat mengurangi kandungan nutrisinya," kata Samuel. AMANDRA MM

sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2010/12/15/Gaya_Hidup/krn.20101215.221012.id.html, akses tgl 15/12/2010.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours