Kandungan alkohol dalam produk, baik minuman berenergi maupun obat selalu menjadi perbincangan. Terutama apakah kandungan alkohol diperbolehkan dan bagaimana aturan syariat tentang hal itu. Cendekiawan Muslim, Yusuf al-Qaradhawi, melalui fatwanya menyatakan Muslim boleh mengonsumsi minuman berkadar alkohol 0,5 persen. 


Menurut dia, meminum minuman sejumlah kecil alkohol yang berasal dari hasil fermentasi alami tidak dilarang. Ia memberikan pandangan ini merespons pertanyaan mengenai minuman berenergi yang beredar di pasaran, khususnya Qatar. Namun, sejumlah pihak menentang pandangan al-Qaradhawi itu.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) memiliki pandangan yang hampir sama dengan al-Qaradhawi. Ketua MUI Amidhan yang dikutip dalam risalah fatwa MUI mengatakan, minuman berenergi bukan khamar. Mungkin keluar fermentasi berupa zat ethanol. "Kalau kadarnya di bawah satu persen, itu ditoleransi," katanya.

Minuman berenergi, menurut Amidhan, tidak dimaksudkan untuk menjadi minuman memabukkan. Angka satu persen adalah batas yang dinilai tidak akan menyebabkan mabuk. Masyarakat harus membedakannya dengan khmar, seperti arak, bir, atau minuman anggur (wine) yang memang sengaja dibuat untuk memabukkan.

Alasan fermentasi alami adalah hal yang tidak bisa terhindarkan dari pengolahan sejumlah makanan. Masyarakat sudah tahu kalau durian, tape, aren, secara alami memang berfermentasi. MUI tidak mempermasalahkan hal itu. Seperti fermentasi alami dari buah dan untuk dimakan, seperti tape dan durian, yang bisa lebih dari lima persen.

Selain itu, kegunaan alkohol banyak digunakan untuk melarutkan bahan-bahan aktif, masih menimbulkan polemik. Obat batuk merupakan salah satu yang banyak menggunakan alkohol. Bahan ini sering dikonotasikan dengan minuman keras yang diharamkan dalam Islam.

Dalam situs halalguide.com disebutkan bahwa fungsi alkohol untuk melarutkan atau mencampur zat-zat aktif, selain sebagai pengawet agar obat lebih tahan lama. Berdasarkan penelitian di laboratorium, diketahui bahwa alkohol dalam obat batuk tidak memiliki efektivitas terhadap proses penyembuhan batuk.

Sehingga dapat dikatakan bahwa alkohol tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan frekuensi batuk yang dialami penderitanya. Akan tetapi, jika dikonsumsi secara terus-menerus akan menimbulkan ketergantungan pada obat tersebut. Maka itu, lebih baik menghindarinya.

Menurut Anton Apriyantono dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB), hal lain yang menjadi perbincangan adalah parfum beralkohol. Pangkal perdebatannya hampir sama, yaitu anggapan bahwa alkohol itu sama dengan khamar.

Dia menjelaskan, alkohol sebagai pelarut organik statusnya sama dengan pelarut organik lainnya, seperti aseton yang juga sering digunakan dalam kosmetik. Dengan demikian, jika konsumen Muslim hendak berparfum tak harus menggunakan parfum yang tidak beralkohol.

Ia menambahkan, bagi konsumen sebenarnya sudah ada panduan mudah untuk memilih produk minuman ataupun obat. Panduan itu adalah label halal dan nomor registrasi. Jika ada nomor registrasi resmi, seperti kode MD dan ML serta label halalnya, produk itu terjamin kehalalannya. ed: ferry kisihandi

Oleh Indah Wulandari
sumber : http://republika.co.id:8080/koran/52/128561/Alkohol_dalam_Beragam_Produk, akses tgl 06/02/2011 

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours