Myths and Facts about Medicines

Suatu opini yang bila terus menerus diceritakan dan ditularkan maka lama kelamaan dianggap suatu kebenaran.

Demikian juga opini mengenai obat, banyak orang memiliki opini yang keliru karena mitos obat yang beredar. Di bawah adalah beberapa mitos yang diyakini oleh banyak orang tetapi sebenarnya adalah hal yang keliru.

Pernahkah kamu mendengar orang mengatakan

1. “Minum obat sebaiknya setelah makan”

Hal ini sepertinya masuk akal. Opini ini berkembang terutama di kalangan orang tua berusia >50 tahun.

Nyatanya:

Aturan makan obat berbeda-beda satu antar lainnya. Coba cek etiket pada obat resep atau pada kemasan obat bebas. Sering tertulis 1 hari 3 kali sehabis makan, tetapi tidak jarang juga tertulis 1 hari 3 kali sebelum makan. Untuk obat-obat maag, anti muntah, analgetik (parasetamol) dan banyak obat lain, efektifitas obat akan lebih baik bila dimakan sebelum makan.

Obat memiliki sifat kimia dan fisika. Karena setiap obat berbeda zat berkhasiatnya otomatis masing-masing obat berbeda-beda pula sifat fisika dan kimia yang dimiliki. Sifat tersebut mempengaruhi penyerapan obat dalam tubuh. Obat yang satu lebih mudah diserap bila sudah ada makanan, tetapi obat yang lain lebih mudah diserap bila perut dalam keadaan kosong, dan ada juga obat yang lebih cepat diserap bila dimakan bersamaan dengan makanan. Setelah obat tersebut terserap barulah obat dapat bekerja dalam tubuh, sehingga efek obat mulai terasa.

Mungkin kamu juga sering mendengar orang mengatakan:

2. “Saya suka minum obat tradisional (obat herbal) karena tidak punya efek samping”

Saya sendiri sering mendengar pernyataan tersebut, bahkan dari orang kesehatan sekalipun.

Coba kita bahas sedikit, mengapa tanaman obat bisa berkhasiat? tentunya karena mengandung zat berkhasiat. Hanya saja karena zat berkhasiat yg dikandungnya masih bercampur dengan zat lain yang ada dalam herbal tersebut (belum diisolasi), sehingga yang sebenarnya berkhasiat hanya sedikit sekali, maka efek sampingnya sering diabaikan atau dianggap tidak ada. Beda dengan obat modern yang sudah langsung berisi hanya 1 zat berkhasiat saja dengan kadar yg sudah tertentu, misalnya parasetamol 500 mg, sehingga berdasarkan referensi dapat dengan mudah diketahui efek sampingnya. Oleh karena itu minum obat tradisional harus disertai pengetahuan mengenai cara penggunaan dan takaran jumlah (dosis) yang sesuai. Karena meskipun zat berkhasiatnya hanya sedikit tetapi karena sering diminum dan dengan jumlah besar, akumulasi zat berkhasiat dalam obat tradisional tersebut dapat menimbulkan efek samping. Jadi kalau ada yang promosi obat herbal adalah obat tanpa efek samping jangan percaya.

Mitos obat berikutnya.

3. Sebagian orang dengan enteng mengatakan” jika anak sakit berikan saja obat kita (orang dewasa) tapi dengan takaran setengahnya”

Anak-anak bukan miniatur orang dewasa. Pada masa anak-anak, tubuh masih mengalami perkembangan karena masih ada bagian-bagian sel dan jaringan tubuh yang belum terbentuk dengan sempurna. Beberapa obat hanya bisa diserap oleh tubuh bila jaringan tubuh tertentu sudah utuh, sehingga bila obat tersebut diberikan kepada anak-anak hanya akan menjadi zat asing yang memperberat kerja organ tubuh atau bahkan dapat mengganggu atau menghambat proses pertumbuhan anak. Jadi jangan berikan kepada anak obat yang biasa diminum orang dewasa dengan dosis separuhnya, misalnya obat anti muntah, obat penghilang sakit, dlsb yang bagi orang dewasa dianggap obat ringan, tetapi belilah obat bebas yang memang diperuntukkan buat anak di apotek dengan berkonsultasi ke apoteker atau kalau penyakit lebih serius konsultasikan penyakit anak ke dokter.

Hampir semua orang baik itu dokter, apoteker, tenaga kesehatan lain dan orang awam setuju bahwa

4. “Obat antibiotik harus selalu diminum habis”

Pendapat itu tidak sepenuhnya salah tapi juga tidak sepenuhnya benar.

Antibiotik harus selalu dihabiskan sesuai dengan takaran yang telah diberikan oleh dokter. Bila tidak dihabiskan khawatir kuman/bakteri yang ada belum tuntas terbasmi, sehingga bila diberi antibiotik pada kesempatan berikutnya dikhawatirkan bakteri tersebut  akan menjadi resisten (kebal) dan antibiotik tersebut tidak ampuh lagi.  Tetapi bagaimana kalau kita minum antibiotik di awal-awal saja sudah terjadi gangguan alergi seperti badan gatal-gatal, atau tubuh meriang panas dingin, atau kita merasa sesak napas. Kalau itu terjadi segeralah stop konsumsi antibiotik tersebut jangan diteruskan apalagi dihabiskan. Ternyata tubuh anda tidak cocok atau tidak kuat mengkonsumsi obat tersebut. Konsultasikan kembali masalah tersebut kedokter dan ceritakan masalah ketidak cocokan anda terhadap antibiotik yang telah dikonsumsi.

Nah opini yang satu ini juga sering kita dengar

5. “Vitamin sebaiknya diminum pada pagi atau siang hari sebelum beraktifitas”

Kapan sebaiknya minum vitamin? Tergantung jenis vitaminnya. Bila itu multivitamin yang tujuannya untuk kesegaran jasmani maka memang sebaiknya dikonsumsi pada pagi hari, tapi bila itu vitamin yang kaya dengan kalsium dan magnesium sebaiknya di minum pada malam hari atau sebelum tidur untuk membantu tubuh tidur lebih nyenyak dan membantu meregenerasi sel-sel tubuh. Pada umumnya vitamin sebaiknya diminum setelah makan.

Ada juga orang yang berpendapat

6. “Obat yang harganya mahal lebih berkhasiat  dari obat yang harganya murah”

Bener nggak sih?? Kalau obat harga nya mahal tapi pemberian nya tidak tepat indikasi, apa bisa menyembuhkan? tentu saja tidak.  Kalau ada 2 macam obat yang sama, yang satu buatan pabrik A dan yang satu buatan pabrik B, obat merek A harganya 2 kali lebih mahal dari obat merek B, apakah dikatakan obat A lebih berkhasiat dari obat B?

Ayo kita bahas. Sebenarnya harga obat tersusun akibat dari beberapa komponen biaya obat, dan salah satu komponen terbesar adalah komponen biaya promosi. Bila obat A melakukan promosi besar-besaran dan habis-habisan dan obat B melakukan promosi hanya sekenanya, tentunya komponen biaya promosi obat A lebih besar yang berdampak terhadap harga obat yang dijual kepada konsumen dapat lebih tinggi. Demikian pula komponen biaya yang lain juga mempengaruhi, misalnya biaya kemasan. obat A kemasannya cantik dan seksi, obat B kemasannya sederhana. Maka komponen biaya kemasan yang lebih mahal akan berdampak terhadap harga obat. Jadi bisa disimpulkan obat A dengan biaya promosi dan kemasan yang tinggi menyebabkan harga obat A lebih mahal dari obat B. Tetapi sebenarnya tidak ada hubungan antara harga obat dengan khasiat obat. Selama obat A dan obat B sama-sama dibuat melalui proses good manufacturing product (GMP) atau disebut “cara pembuatan obat yang baik” (CPOB) maka khasiat kedua obat tersebut sama. Masih mau beli obat yang lebih mahal?

Mitos lain                          

7. “Obat generik adalah obat untuk orang miskin”

Mitos yang ini masih berhubungan dengan mitos no.6 di atas. Definisi sederhana obat generik adalah obat dengan nama merek dagang yang menggunakan nama dari zat berkhasiat yang dikandung dari obat tersebut. Mitos ini muncul karena obat generik itu harganya relatif murah. Apa yang menyebabkan harga obat generik itu murah? 1.) Obat tersebut tidak lagi dilindungi oleh pemegang hak paten penemu obat tersebut, sehingga pabrik obat generik tidak harus bayar fee paten. 2). Biaya promosi obat generik dilakukan oleh pemerintah, sehingga pabrik tidak keluar biaya untuk promosi. 3). Kemasan obat generik sederhana bahkan ada yang tanpa blister (obat telanjang). 4). Harga obat generik dikontrol oleh pemerintah, pabrik tidak bisa menentukan harga obat sendiri.

Obat generik tersedia hampir di seluruh apotek, hanya saja kebanyakan obat generik memang hanya bisa diperoleh dengan resep dokter, tidak dijual bebas. Obat generik juga diproduksi melalui proses good manufacturing product dan khasiat & kualitas sama dengan obat merek lain yang harga nya lebih mahal, serta obat generik bisa dibeli oleh siapa saja baik oleh orang kaya maupun orang yang kurang mampu. Aku sendiri walaupun mampu beli obat bermerek, aku lebih senang mengkonsumsi obat generik, karena aku sudah merasakan tidak ada perbedaan khasiat antara obat generik dengan obat bermerek lain yang lebih mahal. Ayo rame-rame minta resep obat generik pada waktu berobat ke dokter.

Mitos apa lagi ya?? oh ya yang ini:

8. “Setiap anak selesai divaksinasi pasti akan demam”

Anak yang menderita demam setelah divaksinasi biasanya disebabkan oleh reaksi lokal pada bekas tempat suntikan, seperti kemerahan dan bengkak, dan biasa terjadi pada anak yang rewel atau kurang sehat pada waktu divaksinasi. Tidak semua vaksin menyebabkan demam, umumnya vaksin yang berdampak demam pada anak adalah vaksin DPT, atau vaksin campak yang demamnya muncul setelah 2 atau 3 hari sehabis divaksinasi. Hal ini dapat diatasi dengan memberi obat demam sebelum atau setelah divaksinasi. Masih banyak anak yang tidak mengalami demam setelah divaksinasi.

Sebagian orang berpendapat:

9. “Suntikan lebih manjur dari obat makan”

Cara pemberian obat kepada orang sakit macam-macam, ada yang melalui suntikan, mulut (ditelan), dioleskan pada kulit, di teteskan pada mata/telinga, dlsb. Cara pemberian obat tersebut dibuat sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pengobatan serta efektifitasnya bagaimana obat dapat mencapai tempat kerjanya di dalam tubuh. Kalau dengan cara ditelan saja obat sudah berkhasiat mengapa harus dengan disuntik. Orang yang alergi tertentu bila disuntik dapat mengalami shock, sehingga dapat dikatakan suntikan lebih beresiko daripada obat yang diberikan dengan ditelan. Ilustrasinya seperti kalau dari Jakarta ke Bogor bisa ditempuh dengan mobil selama 1 jam, kenapa harus naik pesawat yang persiapannya ribet J

Akhirnya mitos yang ke:

10. “Pada waktu kita sakit parah, semakin tinggi dosis obat yang kita pakai maka akan lebih cepat sembuh”.

Setiap takaran dosis obat yang diresepkan oleh dokter ke pasien sudah berdasarkan perhitungan efektifitas penyembuhan obat tersebut terhadap penyakit yang diderita. Bila dosis tersebut dinaikkan, tidak menyebabkan penyakit lebih cepat sembuh, malahan dikhawatirkan akan memicu timbulnya efek samping dari obat yang diberikan atau yang terburuk menimbulkan keracunan obat. Jadi patuhi saja dosis obat yang sudah diberikan oleh dokter dan apoteker anda.

 Mudah-mudahan sudah lebih jelas perbedaan antara mitos dan kenyataan mengenai obat. Sebenarnya masih banyak mitos obat yang lain, ada yang mau menambah?? You are very welcome.

by Almeta
sumber : http://www.allmedicinestalk.com/informasi-obat-mitos-dan-kenyataan-mengenai-obat/, akses tgl 07/01/2019.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours