Memberikan yang terbaik diajarkan dalam Islam. Bagi seorang ibu, pemberian terbaik bagi bayinya adalah air susu ibu (ASI). Pakar hadis dan Direktur Pusat Kajian Hadis Jakarta, Dr Lutfi Fathullah MA, mengatakan, ASI merupakan makanan paling bagus dan cocok bagi para bayi yang dimiliki perempuan Muslim.


Selain itu, langkah ibu memberikan air susu kepada bayinya pada masa selanjutnya berdampak bagi hubungan antarkeduanya. "Mereka akan memiliki ikatan emosi yang erat. Akibatnya, ada kepatuhan anak kepada ibunya karena melihat jasa dan kasih sayang yang diberikan kepadanya," kata Lutfi di Jakarta, belum lama ini.

Karena di Indonesia tidak lumrah tukang menyusukan anak sebagaimana Halimah al-Sa'diyah, yang menjadi ibu susu Rasulullah, maka kepada para ibu diminta untuk menyusui sendiri anak-anaknya. Boleh saja seorang ibu tak menyusui anaknya kalau memang menghadapi keadaan tertentu.

Misalnya, si ibu tidak sehat termasuk karena mempunyai penyakit menular dan yang tak keluar air susunya. Si anak disusui oleh ibu susu baik karena profesi maupun kekerabatan. Si ibu, jelas Lutfi, menyusui anaknya selama dua tahun. Ada hikmah mengapa kurun waktu ini ditetapkan.

Menurut dia, dua tahun merupakan batas anak mempunyai kekebalan tubuh untuk menghadapi kuman dan virus. Walaupun ada batasan dua tahun, boleh juga seorang anak disusui melebihi waktu tersebut. Hal ini terjadi pada diri Muhammad SAW. Ia disusui oleh ibu susunya, Halimah hingga usianya mencapai sekitar empat tahun.

Islam, jelas pakar tafsir Alquran Dr Muchlis M Hanafi MA, menetapkan berbagai ketentuan dalam kehidupan keluarga, termasuk menyusui anak setelah dilahirkan hingga waktu tertentu. Jauh sebelum ada berbagai penelitian mengenai pentingnya menyusui, Islam telah menetapkan ajaran soal itu baik lewat Alquran maupun sunah.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 233, dijelaskan, ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Sedangkan, kewajiban ayah adalah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya.

Surah tersebut menyatakan, janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula ayah menderita karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, tidak ada dosa atas keduanya.

Bila ingin menyusukan anak kepad a orang lain, tak ada dosa bagi mereka dengan memberikan bayaran dengan cara yang patut. Menurut Muchlis, surah itu menunjukkan pentingnya menyusui anak. Dari redaksinya yang bersifat umum, para ulama mengatakan, menyusui itu berlaku bagi setiap ibu baik yang masih terikat perkawinan maupun yang telah bercerai.

Terlepas dari hal itu, kata dia, seorang ibu adalah orang yang paling berhak untuk menyusui anaknya. Komposisi ASI yang diungkap oleh beragam penelitian, jelas Muchlis, berpengaruh pada perkembangan anak dan keseimbangan emosi serta kejiwaannya.

Menurut dia, hukum menyusui ada dua, yaitu sunah dan wajib. Hukum sunah berlaku jika memenuhi tiga syarat, yaitu sang ayah mampu menyewa ibu susu, ada perempuan lain selain ibunya yang bisa menyusui si anak, dan anak yang disusui mau menerima susu dari selain ibunya. Bila salah satunya tak terpenuhi, ibu wajib untuk menyusui anaknya.

Melihat begitu pentingnya kegiatan menyusui dalam pandangan agama, para hukum Islam sepakat menyatakan seorang ibu harus "dipaksa" menyusui bayinya. Dalam kondisi ini, kata Muchlis, suami bisa memaksa istrinya meski telah bercerai untuk menyusui anaknya. Namun, tak boleh ada pihak yang dirugikan.

"Begitu pentingnya menyusui, Islam membolehkan ibu yang sedang menyusui untuk tak berpuasa Ramadhan," kata Muchlis. Dikhawatirkan rasa lapar sang ibu saat berpuasa akan berpengaruh pada kualitas dan kuantitas ASI yang dihasilkan. Di sisi lain, ujar dia, Islam pun mengatur masa menyusui.

Ada sejumlah surah yang mengatur masa menyusui bagi seorang ibu. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 233, dinyatakan, masa itu mencapai dua tahun penuh. Surah Lukman ayat 14,  menerangkan bahwa anak dapat disapih setelah dua tahun. Dan, pada Surah Al-Ahqaf ayat 15, dijelaskan masa mengandung sampai menyapih selama 30 bulan.

Dua tahun masa penyusuan ini merupakan saat-saat yang sangat berarti bagi pertumbuhan bayi, baik secara fisik, intelektual maupun mental. Secara fisik, bayi yang mengonsumsi ASI memiliki sistem kekebalan yang lebih dibanding bayi yang tak mengonsumsinya.

Tak hanya itu, ASI pun mendorong perkembangan kecerdasan bayi. Penelitian menunjukkan tingkat IQ bayi yang hanya diberi ASI lebih tinggi dibandingkan bayi yang diberi susu formula. Dekapan ibu yang disertai kasih sayang saat menyusui, jelas Muchlis, menjadi faktor utama terbentuknya kejiwaan yang stabil. ed: ferry kisihandi

Oleh Damanhuri Zuhri
sumber : http://rol.republika.co.id/koran/52/130816/Memberikan_yang_Terbaik, akses tgl 12/03/2011

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours