Saking sehatnya, pengidap ortoreksia justru tidak sehat.


Mengadaptasi gaya hidup sehat dengan diet seimbang ditambah olahraga, memang dianjurkan. Terutama bagi masyarakat daerah perkotaan. Tapi, terlalu terobsesi pada gaya hidup sehat, ternyata juga berpengaruh negatif bagi kesehatan. Malah, hal itu menjadi fenomena baru di kalangan urban.

Fenomena itu disebut ortoreksia. Istilah ortoreksia pertama kali muncul pada 1997, diperkenalkan oleh Dr. Steven Bratman, penulis buku “Health Food Junkies”. Istilah tersebut kemudian diklasifikasikan dalam kategori kelainan pola makan, di mana pengidapnya terlalu terobsesi pada pola makan sehat, sehingga justru menjadi tidak sehat.

“Diet sehat yang seimbang itu penting, namun jika sudah terobsesi, hal tersebut bisa berujung pada kelainan pola makan yang disebut ortoreksia,” ujar Bratman, dilansir New York Magazine.

Lebih lanjut, Bratman menjelaskan, terdapat gejala khusus mengapa seseorang bisa dimasukkan dalam kategori ortoreksia, yakni:

1. Terlalu sering membaca label pada makanan kemasan
Berhati-hati dengan kandungan bahan kimia dengan membaca label makanan kemasan memang baik. Namun, jika dilakukan berlebihan, hal itu justru bisa menimbulkan ketegangan sendiri bagi tubuh dan memicu stres.

2. Menghindari makanan
Berbeda dengan pelaku diet, ortoreksia akan selalu menghindari makanan di setiap acara, mulai dari acara ulang tahun hingga pesta pernikahan. Mereka terlalu takut memasukkan makanan dalam tubuh karena tidak tahu kandungan bahan di dalamnya dan paranoid dengan efek kesehatan yang akan ditimbulkan.

3. Menghindari perjalanan
Pengidap ortoreksia sangat berhati-hati dengan makanan, sehingga mereka kerap menolak tugas atau menghindari liburan ke luar kota hanya karena takut makanan di kota tersebut meracuni mereka. Mereka juga ketakutan tidak bisa menemukan makanan yang sesuai dengan kriteria kesehatan yang mereka tetapkan sendiri.

4. Yakin diet mereka yang paling benar
Mereka akan menganggap remeh jenis diet lain dan berusaha memengaruhi orang lain melakukan diet mereka. Selain itu, mereka kerap mengunggah gaya diet mereka di media sosial agar banyak orang melihat.

5. Terobsesi berolahraga
Gaya hidup sehat sudah tertanam kuat di benak mereka. Mereka sangat fanatik dengan olahraga, tanpa peduli waktu dan bahkan semakin ekstrem seiring berjalan waktu.

6. Punya peraturan ketat soal makanan
Pengidap ortoreksia punya peraturan sendiri soal diet, misalnya hanya boleh makan daging di hari Minggu atau makan cokelat cukup sekali dalam sebulan.

7. Hanya berteman dengan sesama ortoreksia
Pengidap ortoreksia biasanya tidak tahan pada orang yang mereka anggap punya kebiasaan makan serampangan. Imbasnya, mereka hanya mau berteman dengan sesama ortoreksia.

8. Membiarkan diri kelaparan
Ini gejala paling ekstrem pengidap ortoreksia. Bagi mereka, makanan tidak lagi “aman” dikonsumsi. Misalnya, nasi mengandung terlalu banyak gula dan buah-buahan cepat membusuk dalam lambung. Akibatnya, mereka takut menyantap makanan dan berujung pada kelaparan. (art)

Lesthia Kertopati
sumber : http://life.viva.co.id/news/read/552898-mengenal-ortoreksia--obsesi-sehat-yang-timbun-penyakit, akses tgl 04/11/2014.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours