Keutamaan susu sebagai sumber nutrisi pun masih sangat melekat bagi masyarakat Indonesia. Apalagi dengan beredarnya adagium pola hidup sehat dengan memakan makanan bergizi yang terdiri atas makanan 4 sehat 5 sempurna (4S5S). 

Beberapa pekan yang lalu, media massa serta masyarakat Indonesia ramai membicarakan mengenai keabsahan susu kental manis sebagai susu. Permasalahan ini dipicu oleh keluarnya surat keputusan dari BPOM di penghujung bulan Mei 2018. Surat tersebut mengatur mengenai penggunaan label dan iklan pada produk susu kental manis. Dalam surat keputusan tersebut, BPOM mengatur visualisasi iklan serta label untuk produk susu kental manis (SKM). Di antaranya seperti pelarangan anak-anak dalam iklan SKM, karena hal tersebut dapat mendorong asumsi bahwa SKM baik untuk anak-anak. Kemudian visualisasi bahwa SKM mengandung nutrisi yang baik, setara dengan produk susu sapi lain, baik susu segar, maupun yang telah diolah dan dikemas sebagai susu bubuk maupun cair (UHT atau pasteurisasi).

Susu Sebagai Sumber Nutrisi

Polemik SKM ini sebenarnya dapat dilihat dari beberapa sisi. Pertama adalah keutamaan susu bagi kesehatan. Hampir semua orang mempercayai kegunaan susu bagi kesehatan. Susu yang dimaksud di sini dan seterusnya dalam pembahasan ini adalah susu sapi.

Susu tentu memiliki kandungan gizi yang tinggi, sebab susu merupakan sumber asupan energi dan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan bagi semua hewan mamalia, termasuk juga manusia. Jika hewan mamalia berhenti konsumsi susu setelah masa penyapihan, tidak demikian dengan manusia. Setelah berhenti ASI, manusia dapat terus mengonsumsi susu serta produk turunannya. Selain susu sapi, hewan lain yang susunya dikonsumsi manusia di antaranya kambing, domba, unta. Ada juga susu yang dihasilkan dari tumbuhan, seperti susu kedelai dan susu almond.

Bagi sebagian besar masyarakat, susu masih dipercaya sebagai sumber nutrisi. Susu memiliki kandungan protein yang tinggi (32gr/liter), lemak, vitamin, dan berbagai mineral yang berguna bagi tubuh, di antaranya kalsium, zat besi, dan kalium. Selain mengandung nutrisi penting dan berguna bagi tubuh, susu juga dikatakan sangat baik dalam membantu pertumbuhan dan pencegahan keropos tulang, serta dapat mencegah beberapa penyakit (Pereira, 2013). Studi yang dilakukan oleh (Pereira, 2013) menyebutkan bahwa kandungan nutrisi yang terdapat pada susu sapi dapat mencegah penyakit jantung coroner, beberapa jenis kanker, obesitas, serta diabetes.


Keutamaan susu sebagai sumber nutrisi pun masih sangat melekat bagi masyarakat Indonesia. Apalagi dengan beredarnya adagium pola hidup sehat dengan memakan makanan bergizi yang terdiri atas makanan 4 sehat 5 sempurna (4S5S). Di mana unsur kelima sebagai unsur penyempurna adalah susu.

Konsep 4S5S ini dinyatakan tidak sesuai lagi. Pada tahun 2014, Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan sebuah kampanye “Pedoman Gizi Seimbang” atau seringkali disingkat menjadi PGS. PGS memberikan arahan mengenai pola hidup sehat yang tidak melulu merujuk pada makanan sehat dan bergizi, namun juga memberikan arahan mengenai pola hidup sehat.

Terkait dengan pola makan menurut PGS, empat unsur utama sebetulnya tidak berbeda dengan konsep 4S5S, yang terdiri atas  makanan pokok, lauk pauk, buah-buahan, serta sayuran. Pola makanan bergizi untuk porsi sekali makan digambarkan dalam konsep “Piring Makanku”. Berbeda dengan 4S5S yang memberikan konsep bahwa gizi akan sempurna jika mengonsumsi susu, tidak demikian dengan “Piring Makanku” ala PGS. Justru, minuman yang tergambar dalam piring makanku adalah air putih. Dan sebagai catatan tambahan, penekanan juga diberikan dengan memberikan informasi tambahan untuk membatasi gula, garam, dan minyak.


Pertumbuhan Ekonomi dan Peningkatan Pendapatan

Isu lain yang mendasari polemik SKM adalah peningkatan pendapatan. Perekonomian Indonesia dalam kurun waktu sepuluh tahun menunjukkan tren yang positif. Sepanjang 2005 hingga 2017, meski fluktuatif, pertumbuhan ekonomi mencapai angka antara 4 hingga 6 %, dengan rata-rata pertumbuhan yang mencapai 5,5%. Pertumbuhan ekonomi yang terus positif mendorong kenaikan pendapatan per kapita. Pendapatan per kapita Indonesia di tahun 2017 mencapai USD 3847, meningkat 8% dibandingkan pendapatan perkapita di tahun 2016. Selain itu, dalam kurun waktu 2005 hingga 2017, pendapatan per kapita Indonesia tumbuh rata-rata sebesar 10%.

Implikasi dari peningkatan pendapatan per kapita adalah peningkatan konsumsi, baik dari segi peningkatan jumlah barang yang dikonsumsi, maupun dari segi peningkatan kualitas barang yang dikonsumsi. Ketika pendapatan naik, kemampuan untuk berbelanja meningkat, dan di sisi lain, kesadaran akan pentingnya kesehatan dan perhatian terhadap nutrisi juga meningkat. Salah satu sumber yang dianggap sebagai sumber nutrisi baik adalah susu.

Kemudian, jika kita lihat data konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia, mengacu pada data USDA, konsumsi susu di tahun 2016 mencapai 14,3 liter/tahun, meningkat 39% dibandingkan konsumsi di tahun 2009, sebesar 10,3 liter/tahun/kapita. Kemudian, sepanjang tahun 2009 hingga 2016, rerata kenaikan konsumsi susu per kapita adalah 5% pertahun.

Dari segi produk, secara umum susu yang dipasarkan di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga kategori, susu cair, susu bubuk, dan susu kental manis. Jika mengacu pada laporan yang diterbitkan oleh USDA, susu bubuk merupakan susu yang paling diminati masyarakat, menguasai 39% pangsa pasar, diikuti oleh susu kental manis lalu susu segar.


Kebutuhan Edukasi

Susu sebagai pelengkap nutrisi harian sedemikian melekat dalam benak masyarakat Indonesia, sebab konsep 4S5S telah diperkenalkan sejak 1952 oleh Prof. Poorwo Soedarmo, yang juga merupakan Bapak Gizi Indonesia. Konsep ini sebetulnya mengacu pada prinsip Basic Four Amerika Serikat , di mana menu makanan terdiri atas makanan pokok, lauk pauk,sayuran dan buah-buahan, serta minum susu untuk menyempurnakan menu tersebut (RI, 2014).

Oleh sebab itu, susu seolah-olah menjadi sebuah keharusan dalam menu masyarakat Indonesia, dan SKM merupakan jenis susu yang sangat diminati. Salah satu faktor yang mendorong tingginya permintaan SKM sejalan dengan kesadaran gizi adalah jangka waktu penyimpanan yang lebih lama. Sistem logsitik dan distribusi di Indonesia masih buruk, akibatnya makanan dan minuman olahan yang tahan lama lebih diminati dan sesuai untuk pemasaran di Indonesia. Oleh karena itu, susu cair masih sedikit peminatnya, dibandingkan SKM dan susu bubuk.

Tujuan dikeluarkannya surat keputusan BPOM sebetulnya baik. Pertama, memang ada kecenderungan dan kesalahpahaman mengenai SKM ini, ditambah lagi pola komunikasi penyampaian iklan SKM, yang memang memberikan simbol SKM dapat diminum seolah-olah menggantikan susu. Permasalahannya bukan pada kandungan gizi yang tidak sesuai, namun kandungan gula yang cukup tinggi.

Kedua, alasan BPOM mengeluarkan pernyataan ini dapat dilandasi oleh permasalahan kesadaran gizi yang semakin meningkat, namun di sisi lain, kasus kekurangan gizi, seperti kasus anak balita pendek (stunting) masih tinggi. Data terakhir yang dimiliki pemerintah adalah data Riset Dasar Kesehatan (Risdaskes) tahun 2013, yang menyatakan bahwa prevalensi stunting pada anak balita adalah 37%, dengan kata lain, terdapat 1 di antara 3 balita yang mengalaminya. Selain stunting, permasalahan kekurangan gizi lain yang dilaporkan dalam Risdaskes 2013 adalah kejadian anak balita kurus (wasting) sebesar 12,1%; gizi kurang (underweight) sebesar 19,6%.

Prevalensi kekurangan gizi ditambah SKM yang masih diminati tidak hanya sebagai pemanis dalam minuman maupun makanan tetapi juga dianggap sebagai susu, merupakan sebuah peringatan bagi pemerintah akan keutamaan edukasi. Indonesia sudah memiliki Pedoman Gizi Seimbang. Namun tampaknya jargon ini belum mampu mengalahkan adagium 4 sehat 5 sempurna. Kisruh SKM sebagai susu palsu, seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk menggalakkan pedoman gizi seimbang ini. 

Oleh: Sita Wardhani S, SE, MSc*
*Peneliti Utama Visi Teliti Saksama dan Staf Pengajar FEB UI

Referensi:

  • Kementerian Kesehatan RI. (2014). Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
  • Pereira, P. C. (2013). Milk nutritional composition and its role in human health. Nutrition.


sumber : https://www.validnews.id/POLEMIK-SKM--KESADARAN-GIZI-YANG-MINIM-PENGETAHUAN-EBF, akses tgl 30/01/2019.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours