Gizi merupakan salah satu fokus pembangunan kesehatan di Sustainable Development Goals (SDG's) tahun 2016-2030. Ia menjadi faktor kunci dalam keberhasilan perbaikan status kesehatan masyarakat Indonesia dan dunia. Gizi yang baik meningkatkan standar kesehatan masyarakat. 


Indikator keberhasilan SDG's diterjemahkan dalam enam poin, yakni peningkatan ASI eksklusif, makanan pada ibu hamil serta anak, menekan jumlah balita pendek, ibu hamil penderita anemia, kurang energi, dan balita kurus. "Tujuan dalan SDG's sudah ada dalam RPJMN 2015-2019 bidang kesehatan," kata Direktur Bina Gizi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Doddy Izwardy, Kamis (17/9).

Pemilihan enam poin dalam bidang gizi terkait laporan Global Nutrition Report tahun 2014 yang menyatakan Indonesia merupakan satu dari 117 negara yang menderita tubuh pendek (stunting), kurus (wasting), dan obesitas akibat ketidakseimbangan asupan gizi.

Karenanya, perbaikan status gizi dimulai pada asupan di 1.000 hari pertama kelahiran. Kecukupan gizi untuk janin selama 9 buan dalam kandungan memungkinkan anak lahir dalam kondsi sehat. sayangnya, sampai saat ini 10 persen dari bayi yang lahir memiliki berat kurang dari 2.500 gram dan panjang tubuh tak lebih dari 48 sentimeter. Sekitar 20 persen anak Indonesia lahir dalam kondisi kurus dan pendek akibat minimnya asupan.

Untuk itu, kata Doddy, langkah pertama untuk mengubah kondisi tersebut adalah memperbaiki asupan untuk ibu sebelum dan saat hamil. Ibu hamil harus mengonsumsi cukup gizi, zat besi, dan vitamin supaya tidak mengalami kurang energi kronis yang berdampak buruk panda kondisi janin dan dirinya. "Jangan lupa untuk rutin memeriksakan kehamilan sebelum persalinan," ujarnya.

Kedua, menjaga status gizi anak ketika sudah lahir dan harus menjalani inisiasi menyusui dini (IMD) minimal satu jam untuk memastikan kecukupan konsumsi kolostrum yang merupakan protein pembangun daya tahan tubuh manusia.

Meski tak ada data yang pasti, namun bayi yang lahir umumnya menjalani IMD kurang dari satu jam mengakibatkan konsumsi kolostrum tak cukup. Untuk itu, perbaikan konsumsi kolostrum bisa dilakukan dengan menjalani perawatan gabung antara ibu dan bayi yang baru lahir.

Ketiga, memastikan anak mengonsumsi ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kelahirannya. Dalam Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, cakupan ASI eksklusif di Indonesia mencapai 42 persen. Dengan keberhasilan, Indonesia mampu memenuhi target 2025 yang mengharuskan cakupan ASI ekslusif mencapai 50 persen.

"Bayi yang mengonsumsi ASI biasanya lapar tiap 10 menit sekali, akibatnya ibu akan merasa sangat lelah. Pada tahap inilah suami dan lingkungan sekitar harus memberi dukungan supaya tak beralih pada susu formula," kata Doddy.

Keempat, memastikan anak mengonsumsi makanan pengganti ASI (MP-ASI) yang bergizi pada usia 6 bulan-2 tahun. Kecukupan konsumsi MP-ASI memastikan anak tidak mengalami stunting yang menjadi momok turunnya fungsi tubuh akibat tumbuh kembang yang tak optimal.

Meksi menyisakan sejumlah pekerjaan rumah, Doddy optimis indikator keberhasilan SDG's bisa tercapai, karena dilaksanakan secara partnership antar intansi pemerintah pusat dan daerah. "Kita bekerja sama sehingga peluang keberhasilan SDG's menjadi lebih besar. Partnerhip memastikan ada pola yang menunjang keberhasilan SDG's," ujarnya.

Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Kerja Sama dan MDG's Diah Saminarsih senada. Selain kerja sama lintas intansi, masyarakat juga harus mengerti SDG's dan keuntungan yang diperoleh bila berhasil melaksanakannya, antara lain memastikan kesehatan masyarakat dan keturunannya kelak.

"Pastinya akan selalu ada yang tidak paham SDG's. Namun, kita tidak boleh bosan bicara, sehingga seluruh komponen masyarakat bisa melaksanakan tujuan SDG's," katanya.

Reportase : Rosmha Widiyani
sumber : http://www.harnas.co/2015/09/18/sdgs-fokus-perbaiki-gizi, akses tgl 20/01/2019.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours