Tak hanya halal zatnya, tapi juga halal cara memperolehnya.


Islam mengandung kejelian dan ketelitian. Menurut dosen Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidyatullah, KH Ahmad Mukri Ajie, dua hal itu juga melekat pada hal yang berkaitan dengan makanan. Islam menjaga agar umat mengonsumsi makanan dan minuman yang baik dan tentu saja halal.

Dengan demikian, sumber makanan dan minuman yang dikonsumsi itu tak mengandung mudharat (bahaya), mafsadah (kerusakan), serta menjadi ancaman bagi eksistensi kehidupan umat. "Jangan sampai nanti, minum atau memakan sesuatu kemudian menjadi sakit, lalu mengancam jiwa hingga meninggal dunia," katanya.

Kalau seorang Muslim meninggal disebabkan mengonsumsi sesuatu yang mengancam jiwanya, baik dia tak tahu apalagi tahu mengenai hal itu, hal tersebut adalah sesuatu yang dibenci Allah SWT. Misalnya, minum racun, alkohol, atau mengonsumsi, baik bangkai maupun darah.

Kiai Mukri juga menjelaskan, hadirnya ayat-ayat ataupun hadis yang melarang umat Islam mengonsumsi yang haram, ada filosofinya. Sangat penting bagi seorang Muslim untuk memakan makanan halal. Sebab, Allah menginginkan kehidupan Muslim setiap detik hingga akhir hayatnya terbebas dari dosa akibat pangan yang tak halal.

Ia menjelaskan, dari penelitian para pakar Muslim, tak diperbolehkan makan binatang yang mati dengan cara dicekik. Mereka menekankan, binatang itu harus melalui penyembelihan yang membuat terputusnya urat yang mengeluarkan darah dan napas. Kedua urat tersebut harus benar-benar terputus.

Maknanya, binatang yang disembelih itu tak mengalami paksaan ketika mengeluarkan napas terakhirnya. Penyembelihan yang sesuai syariat merupakan sebuah penghormatan pula terhadap hewan tersebut. Selain itu, dituntut agar alat untuk menyembelih mesti yang tajam agar tak menimbulkan siksaan. "Islam memperhatikan seperinci itu."

Dengan demikian, setiap Muslim perlu bertanggung jawab atas apa yang dikonsumsinya, yaitu hanya produk-produk dan sembelihan yang halal. Bukan hanya substansi makanannya, tetapi juga dari mana asal makanan itu. Secuil saja makanan haram yang masuk dan berkembang menjadi daging maka akan berdampak buruk.

Tidak akan pernah  nyaman orang yang badannya walaupun gemuk, ujung-ujungnya, kalbunya gelisah karena barang haram yang masuk ke dalam tubuhnya. Apalagi, barang itu juga dikonsumsi oleh anak-anaknya. "Kita mesti peduli soal produk halal sebab semua intinya di situ," jelas Ketua Umum MUI Kabupaten Bogor ini.

Selain individu, keluarga juga berperan penting bagi terwujudnya kondisi yang memungkinkan Muslim hanya memasukkan makanan dan menggunakan produk halal. Dibiasakan mengambil makanan, minuman, dan produk-produk halal, baik secara substansi maupun prosesnya.

Lingkup yang lebih besar adalah masyarakat. Jika mereka mempunyai tanggung jawab yang tinggi soal halal ini, semua anggota masyarakat juga hanya mendapatkan barang halal. Di dalamnya, termasuk produsen yang jujur dengan produk yang dijualnya apakah statusnya halal atau sebaliknya.

Jangan sampai, papar Kiai Mukri, produsen mengakali konsumennya melalui produk yang dijualnya. Mereka menempelkan label halal, misalnya, meski sebenarnya label itu hanyalah tipuan karena palsu. Sebab, produsen tak secara resmi mendapatkan label itu dari lembaga yang berwenang mengeluarkannya. "Jika itu terjadi, sangat berbahaya."

Dampak buruk 

Secara terpisah, Pimpinan Pesantren Luhur Hadis Daarussunah, Ciputat, Tangerang Selatan, KH Ali Mustafa Yaqub, mengingatkan tentang dampak yang sangat buruk bagi seseorang yang mengonsumsi makanan haram. Ada tiga dampak bagi mereka yang melakukannya.

Pertama, makanan haram akan menyebabkan seseorang harus berada di neraka. Kiai Ali Yaqub menjelaskan tentang hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam At-Tarmizi dan Imam Ahmad. Setiap daging yang tumbuh dari bahan makanan haram, jelas dia, tempat paling layak adalah neraka.

Dampak kedua, membuat ibadah seseorang ditolak. Begitu juga doa yang dipanjatkan mereka yang memakan barang haram sebab doa adalah bagian dari ibadah. Sedangkan yang ketiga, mereka yang karib dengan makanan haram kelak akan membahayakan kesehatannya sendiri.

"Terbukti barang-barang yang diharamkan Allah SWT membahayakan kesehatan, seperti yang mengandung racun dan sebagainya," kata Kiai Ali Yaqub, di Jakarta, Selasa (18/1). Pakar hadis mengatakan, haram sendiri ada dua macam, yaitu haram karena zat dan asalnya, misalnya babi.

Jenis yang kedua adalah haram karena faktor eksternal atau prosesnya, seperti hasil mencuri dan korupsi. Tentang hal ini, ia mengungkapkan hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah. Rasulullah mengisahkan, ada seorang musafir yang berkelana di padang pasir. Biasanya, doa musafir mustajab.

Namun saat berdoa kepada Allah, anehnya doa yang musafir panjatkan itu tak dikabulkan. Mengapa?  Karena ternyata, pakaian dan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya statusnya haram. "Oleh karena itu, Muslim harus meninggalkan makanan yang diharamkan," ujarnya.

Kiai Ali Yaqub menekankan agar Muslim mampu meninggalkan barang yang haram, baik secara zatnya maupun prosesnya. Ia mengaku, saat ini sudah banyak Muslim yang mampu meninggalkan makanan ataupun produk yang tak halal secara zat dan asalnya. Makanan yang mengandung babi sudah ditinggalkan.

Sayang, masih banyak Muslim yang tak meninggalkan makanan ataupun barang yang karena faktor eksternal dan prosesnya halal. Hasil curian, korupsi, dan menipu banyak yang dikonsumsi Muslim. Menurut dia, jeruk yang asalnya halal dikonsumsi akan menjadi haram kalau cara mendapatkannya dengan cara haram.

Menurut Kiai Ali Yaqub, dalam masyarakat yang heterogen, mereka yang bertanggung jawab memberi penyuluhan tentang pentingnya produk halal adalah orang yang mengerti hukum agama, yaitu ulama.

Oleh Damanhuri Zuhri 
ed: ferry kisihandi
sumber : http://republika.co.id:8080/koran/52/127694/Konsumsi_yang_Halal, akses tgl 21/01/2011

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours