Masa pertumbuhan anak sebagian besar terjadi pada usia di bawah lima tahun, atau sering dikenal dengan periode emas masa pertumbuhan. Pada masa itu, selain berat dan tinggi badan, otak anak juga bertumbuh, baik secara kuantitas maupun kualitas. Untuk itu, anak perlu mendapat asupan gizi yang cukup ketika menginjak periode emas pertumbuhan.


Faktor pendukung pertumbuhan dan pemenuhan energi tersebut tidak melulu berupa makanan utama, tetapi juga camilan. Makanan selingan diperlukan pula karena kebutuhan gizi anak-anak cukup tinggi, tetapi kapasitas pencernaan mereka masih terbatas. “Camilan juga dapat membantu mempercepat pertumbuhan, walau efeknya tidak langsung dapat dirasakan dalam jangka pendek,” kata Ali Khomsan, pakar gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Sebenarnya, kebiasaan memberikan camilan kepada anakanak kerap dilakukan orang tua. Pada umumnya, sebelum putra-putri mereka berangkat ke sekolah, para orang tua memberi uang untuk membeli jajanan ketika waktu istirahat tiba. Memang, bisa dikatakan waktu ngemil yang dirasa tepat ialah pada saat jam istirahat. Bahkan, sebuah penelitian di Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa waktu ngemil merupakan waktu yang paling ditunggutunggu oleh anak-anak.

Berdasarkan penelitian diketahui pula bahwa seperempat dari energi yang digunakan anak-anak untuk beraktivitas didapat dari camilan. Oleh karena itu, dapat dikatakan kebiasaan memberikan camilan pada anak-anak tidaklah buruk, asalkan makanan diberikan secara terukur dan tepat. Tidak hanya tepat waktu, tetapi juga tepat gizi.

Apabila pemberian camilan itu tidak diatur, anak-anak bisa menomorduakan makanan utama. Untuk itu, para orang tua mesti bijak mengatur bahan makanan yang dikonsumsi putraputri mereka. “Orang tua harus mengontrol apa yang dimakan anaknya, terutama jika anak sedang berada di sekolah. Dengan begitu anak akan terlatih memilih makanan yang baik bagi dirinya hingga dewasa kelak,” ujar Ali.

Pengawasan itu tidak terlepas pula dari alasan bahwa sebagian besar jajanan yang ada di sekolah terkategorikan pangan yang tidak aman, banyak mengandung zatzat pengawet dan pewarna. Perhatikan Gizi Untuk mengurangi kebiasaan anak jajan sembarangan, orang tua dapat mengantisipasinya dengan memberikan sarapan pagi yang cukup sebelum anak beraktivitas. Ada baiknya pula jika orang tua membuat sendiri camilan bagi buah hatinya.

Pasalnya, dengan mengolah sendiri camilan, orang tua dapat memastikan kandungan-kandungan gizi yang ada di dalam menu. Ali mengatakan camilan untuk anak sebaiknya terdiri dari bahan makanan yang mengandung kalori dan protein. Unsur-unsur itu, selain untuk membantu pertumbuhan anak, dapat memberikan tenaga kepada anak agar tidak lemas ketika beraktivitas.

Unsur vitamin juga dapat disusupkan dengan menambahkan menu sayuran ke dalam camilan tersebut. Salah satu contoh camilan sehat yang bisa dibuat sendiri ialah kue pastel. Di dalam kue itu terkandung unsur karbohidrat dan vitamin. Jika membuat pastel dianggap cukup merepotkan, orang tua dapat membuat menu yang lebih praktis seperti pisang goreng.

Selain bahannya murah dan mudah didapat, pisang goreng termasuk pula camilan yang sehat. Apabila tidak memiliki banyak waktu untuk mengolah camilan sendiri, orang tua paling tidak dapat memilihkan dan membelikan penganan tambahan. Namun, satu hal yang tidak boleh dilupakan, orang tua mesti membatasi camilan yang akan dikonsumsi buah hati.

Camilan, termasuk yang berwujud keripik, tidak boleh diberikan terlalu banyak kepada anak. “Makanan jenis keripik hanya mendatangkan kalori dan lemak, sedikit sekali kandungan gizi lainnya,” kata Ali. Lebih lanjut, Ali mengatakan, akan lebih baik jika anak-anak diberikan buah-buahan sebagai menu untuk ngemil. Pasalnya, selain mengenyangkan buah-buahan memiliki nilai gizi yang tinggi.

Orang tua juga harus kreatif membuat menu-menu camilan yang berbeda dalam periode-periode tertentu. Tujuannya, kata Ali, agar anak tidak merasa bosan. Selain itu, orang tua juga harus mengenal jenis makanan apa saja yang disukai dan tidak disukai anak, caranya misalnya dengan meminta pendapat anak saat mengatur menu camilan.

Menurut Ali, demokrasi harus diciptakan pula di meja makan. Apabila anak diikutsertakan dalam pengaturan menu camilan, bukan tidak mungkin dia akan lahap mengonsumsi makananmakanan yang diberikan. Lahap atau tidaknya anak mengonsumsi makanan selingan yang dibuat orang tua juga sangat ditentukan oleh pemilihan waktu penyajian makanan tersebut.

Ali mengatakan waktu yang tepat untuk memberikan camilan adalah di antara waktu makan utama. Jika makanan utama diberikan tiga kali dalam sehari, yakni pagi, siang, dan sore, camilan dapat disisipkan di antara waktu-waktu tersebut. Anak bisa diberikan snack sebanyak dua kali, pada saat posisi Matahari sepenggalah dan sore hari.

cit/L-2 
sumber : http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=67435, akses tgl 11/11/2010.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours