Studi epidemiologi cross-sectional melaporkan adanya hubungan antara testosteron dalam plasma, sensitivitas insulin dan diabetes mellitus tipe 2. Pria dengan diabetes mellitus tipe 2 mempunyai konsentrasi testosteron lebih rendah dalam serum dibandingkan pria tanpa riwayat DM, demikian pula  terdapat hubungan terbalik antara level testosteron dengan konsentrasi glycosylated hemoglobin (HbA1c), sebagaimana diutarakan Svartberg, 2007 serta Stanworth and Jones, 2009). Menurut Zitzmann dan rekan pada tahun 2006, pada pria dengan testosteron rendah dalam plasma mempunyai resiko terjadinya peningkatan Diabetes Mellitus tipe 2.

Karenanya, dilakukan studi selama 52 minggu dengan melakukan diet dan olahraga serta tambahan menggunakan testosteron transdermal, dalam mengurangi sindroma metabolik dan meningkatkan kontrol glikemik pada pria yang baru didiagnosa mengalami Diabetes tipe 2 dan testosteron plasma yang subnormal. Studi ini dilakukan oleh Dr. Heufelder dan rekan-rekan dari Jerman, Belanda dan Uni Emirat Arab.

Berdasarkan studi, peningkatan level testosteron rendah dapat memperbaiki gambaran dari sindroma Metabolik dan kontrol glikemik.  Secara buta tunggal ( single blind), dilakukan studi klinis secara randomisasi selama  52 minggu , dengan efek yang diawasi termasuk diet dan exercise/olahraga (D&E) dengan atau tanpa pemberian Testosteron transdermal dalam komponen sindroma Metabolik, khususnya dilakukan pada pria hipogonadisme dengan  diagnosa  sindroma metabolik dan  baru mengalami diabetes.

Sebanyak total 32 pria dengan hipogonadisme (testosteron  total <12 16="" 2="" 52="" adalah="" adult="" amp="" and="" ba1c="" baru="" d="" dalam="" dan="" dengan="" diabetes="" diagnosis="" diberikan="" didefinisikan="" federation.="" federation="" gel="" glukosa="" glycosylated="" gula="" hari="" hasil="" hdl="" hemoglobin="" high-density="" iii="" international="" juga="" kedua="" kelompok="" kolesterol="" kombinasi="" komponen="" konsentrasi="" lingkar="" lipoprotein="" menerima="" metabolik="" mg="" minggu.="" n="16)." nbsp="" nmol="" oleh="" p="" pada="" panel="" pengobatan="" pengukuran="" penurun="" perbaikan="" periode="" pinggang="" plasma="" preparat="" puasa="" satupun="" sebelum="" selama="" serum="" setelah="" setiap="" sindroma="" studi.="" terapi="" testosteron="" testosterone="" the="" tidak="" tipe="" treatment="" trigliserida="" yang="">
Hasil studi menunjukkan bahwa penambahan testosteron secara signifikan meningkatkan perbaikan dari parameter pengukuran dibandingkan hanya menjalankan diet dan exercise/olahraga saja.

Seluruh penderita yang menjalani D&E ditambah testosteron mencapai sasaran  HbA1c kurang dari 7,0%;  dan 87,5% diantaranya mencapai HbA1c kurang dari 6,5%. Berdasarkan pedoman dari Adult Treatment Panel III  tersebut  81,3%  penderita yang diacak dari D&E dengan testosteron tidak lagi masuk kedalam kriteria sindroma metabolik, sedangkan 31, 3% pada peserta yang hanya melakukan  D&E saja yang masuk dalam kriteria tersebut. Tambahan juga ,  pengobatan testosteron memperbaiki sensitivitas  insulin , adiponektin, dan sensitivitas tinggi dari C-reactive protein.

Kesimpulan studi yang dilakukan dengan penambahan testosterone pada diet dan exercise/olahraga akan memberikan perbaikan terapeutik terhadap  kontrol glikemik dan sindroma metabolik setelah 52 minggu pengobatan pada penderita hipogonadisme dengan sindroma metabolik dan yang didiagnosa Diabetes mellitus tipe 2.

Oleh: IWA 
sumber : http://www.kalbe.co.id/articles/20770/transdermal-testosteron-dengan-diet-dan-olahraga-memperbaiki-sindroma-metabolik-dan-dm.html, akses tgl 06/12/2010.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours