IBU-ibu yang sedang mengikuti arisan di rumah nyonya berambut tinggi, Marge Simpsons, langsung bubar ketika mengetahui botol minuman untuk anak-anak mereka mengandung bisfenol A. Mereka berteriak histeris setelah melihat kode angka "7" di bagian bawah botol. "Kami tak mau hadir lagi jika Anda tak bisa menyediakan makanan sehat, juga untuk anak-anak kami," ujar seorang nyonya peserta arisan memprotes ibu bayi Maggie. 

Film kartun The Simpsons yang ditayangkan pada Senin pekan lalu itu seperti turut serta dalam heboh pelarangan botol bayi yang mengandung bisfenol A. Uni Eropa, pada pekan terakhir November lalu, menetapkan pelarangan penjualan botol minum bayi yang mengandung bisfenol A (BPA). Peraturan berlaku mulai pada Januari 2011.Kandungan bahan kimia itu berbahaya bagi kesehatan anak-anak. "Di kawasan Uni Eropa, mulai pertengahan 2011, tidak diperbolehkan lagi menjual botol minum bayi yang terbuat dari plastik yang mengandung BPA," kata John Dalli, Komisaris Uni Eropa Bidang Kebijakan Kesehatan dan Konsumen.

Selama ini di Eropa baru dua negara yang tegas melarang peredaran botol minum bayi yang memiliki kandungan berbahaya, yaitu Prancis dan Denmark. Kanada menjadi negara pertama di dunia yang menggolongkan BPA sebagai bahan beracun, meskipun ditentang pelaku industri di negara tersebut. Di Inggris, walau penggunaan bisfenol A ditentang keras, dan ada penelitian tentang bahaya yang ditimbulkan zat tersebut, negara itu belum tegas melarang. Amerika Serikat, melalui US Environmental Protection Agency (EPA), menetapkan batas toleransi seperti yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO), yakni 0,05 mikrogram per 1 kilogram berat badan per hari. Menurut EPA, seseorang baru akan sakit jika mengkonsumsi bahan pangan yang mengandung sekitar 250 gram BPA. Singapura sudah melarang penggunaan botol bayi yang mengandung BPA.

Adapun Badan Pemeriksa Obat dan Makanan (BPOM) masih mentoleransi ambang batas BPA layak konsumsi sebesar 50 mikrogram per 1 kilogram berat badan per hari. "Seperti nipagin dalam mi instan yang diributkan dulu, di Indonesia boleh dalam ambang batas tertentu, sedangkan di Taiwan dan Singapura harus nol. Bahan ini memang masih menjadi kontroversi," kata dosen teknologi pengemasan Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, Profesor Rizal Syarief.

Menurut Direktur Centre for Alternative Dispute Resolution IPB, bahaya bisfenol A ini karena disebut kontaminan yang bisa mengganggu kesehatan manusia. Bahan ini mengganggu organ reproduksi, termasuk menyebabkan bayi cacat. "Kalau mengkonsumsi secara rutin dan dalam jumlah signifikan yang terus-menerus," kata Rizal.

Penelitian Departemen Kimia Universitas Nasional Singapura menyimpulkan bisfenol A adalah bahan kimia yang bekerja sebagai endokrin pengganggu. "Dosis kecil sekalipun akan menyebabkan kelainan," kata pengajar Teknologi Pangan IPB lainnya, Nuri Andarwulan. Pada laki-laki, bisfenol A dapat menurunkan produksi sperma, menyebabkan penambahan berat prostat, dan menimbulkan kanker testis. Pada perempuan, endokrin pengganggu itu memicu infertilitas dan kanker payudara. Janin dan bayi baru lahir juga paling rentan jika terkena, yaitu menyebabkan kacaunya keseimbangan hormon. Selain itu, penelitian lanjutan menunjukkan pengaruh negatif BPA terhadap perkembangan otak, perilaku, dan kelenjar prostat pada janin, bayi, dan anak-anak.

Nah, bagaimana bisfenol A bisa masuk ke tubuh? Zat tersebut bisa terurai lalu bercampur dengan makanan dan minuman. Hal itu terjadi, menurut Rizal, karena panas dan sudah ada "luka" pada wadah plastik tersebut. Misalnya, botol bayi kalau dicuci dengan sikat akan mengakibatkan goresan. Dari goresan itulah bisfenol A bercampur dengan susu formula yang dikonsumsi bayi. Padahal ancaman yang ditimbulkan dari zat tersebut tidak main-main, yakni penyakit hati, kelainan enzim hati, dan diabetes. Itu yang diprihatinkan dokter spesialis anak Rumah Sakit Kemang, Asti Praborini. "Bukan hanya susu formula yang berbahaya bagi bayi, tapi botol yang dijual bebas juga mengancam kesehatan anak," katanya.

Tudingan bahwa botol susu semacam itu dijual bebas, seperti dikatakan Asti, memang nyata. Ketika Tempo mengunjungi sebuah supermarket terkenal di Bogor, botol bayi bening ukuran 250 mililiter dikemas menarik dengan gambar binatang-binatang yang lucu. Botol itu bisa dibeli seharga Rp 14.900. Di bagian bawah botol ada gambar segitiga melingkari angka 7. Artinya, botol itu mengandung bisfenol A. Memang ada gambar lain yang agak buram, yakni gelas dan garpu, yang menandakan "aman" sebagai wadah. Namun, seperti dikatakan Profesor Rizal, goresan luka plastiknya bisa mengkontaminasi susu formula yang dikonsumsi bayi.

Menurut peneliti senior di pusat teknologi, ilmu pertanian dan pangan Asia Tenggara, negara yang konsumsi susu formulanya banyak harus ketat dalam mengawasi penggunaan botol plastik yang mengandung bisfenol A. "Di Indonesia, jika ibu-ibu tak memberi bayinya susu formula, tak jadi masalah. Cuma perlu hati-hati," ujar Rizal.

Bisfenol A (BPA) adalah bahan kimia dengan rumus C15H16O2, yang banyak digunakan pada benda kebutuhan manusia. Bahan itu digunakan untuk pembuatan plastik polikarbonat, resin epoksi pelapis bagian dalam kaleng, dan bagian dalam tutup botol logam. BPA juga digunakan pada pembuatan plastik vinil klorida (PVC), komponen penambal dan pelapis gigi, bahan antiapi, dan karton atau kertas daur ulang. Plastik polikarbonat (bahan olahan BPA) inilah yang kemudian diolah menjadi botol susu bayi.

Botol bening dari plastik polikarbonat itu terkenal tahan pecah, tahan panas, dan bisa dibentuk bermacam-macam. Selain menjadi botol susu, plastik polikarbonat itu dijadikan bahan untuk membuat cakram digital dan alat kesehatan. Bila dicampur dengan bahan lain, plastik polikarbonat dapat digunakan pula untuk membuat komponen telepon seluler, alat rumah tangga, dan beberapa bagian komponen mobil.

Barang yang mengandung BPA biasanya ditandai dengan angka "7" di dalam logo "tiga tanda panah melingkar". Bahan yang mengandung BPA tetap dikategorikan aman untuk alat konsumsi, biasanya diberi tanda tambahan yaitu gambar gelas dan garpu.

Jadi, sikap hati-hati dan bijak memang perlu, tapi panik tidaklah perlu. Baik Asti maupun Rizal sepakat, cara terbaik agar anak tak terdampak bisfenol A adalah memberi bayi air susu ibu semaksimal mungkin, minimal setahun. Jika harus menggunakan botol susu, Rizal menyarankan agar konsumen memperhatikan tanda-tanda di bawah botol tersebut. "Lihat kode plastik menurut penggunaan. Artinya, jangan menggunakan plastik yang tidak sesuai dengan produk yang diwadahinya," ujarnya. Selain itu, walau sudah ada kode, penggunaan yang salah berisiko pada kesehatan. (Ahmad Taufik)

*****

Perhatikan "Pantat"-nya 

Dunia menyepakati ada tujuh nomor untuk mengidentifikasi produk plastik, biasanya diletakkan di bawah botol:

  • Plastik berbahan polyethylene terephthalate (PET atau PETE), yang hanya untuk sekali pemakaian.
  • High density polyethylene (HDPE), yang aman untuk sekali pakai.
  • Polyvinyl chloride (PVC) yang tidak aman untuk produk makanan.
  • Low density polyethylene (LDPE). Jenis ini baik untuk tempat makanan.
  • Polypropylene (PP). Jenis terbaik dan aman untuk wadah makanan.
  • Polystyrene (PS), yang sangat berbahaya karena dapat mengganggu otak dan organ reproduksi.
  • Plastik jenis lain yang tidak masuk ke kelompok 1 sampai 6. Salah satunya adalah polikarbonat, termasuk bisfenol A. Aman-tidaknya kemasan plastik dapat ditunjukkan oleh gambar logo gelas dan garpu atau tulisan "food grade". Namun, perlu diwaspadai, banyak produsen yang mencantumkan logo gelas dan garpu atau tulisan "food grade" secara tidak sah.


sumber : http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/12/20/KSH/mbm.20101220.KSH135407.id.html, akses tgl 22/12/2010.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours