Soni Santoso, 38 tahun, mengaku tak dapat bekerja dengan penuh konsentrasi jika tak meneguk segelas kopi. Karyawan swasta yang berkantor di Jakarta Selatan ini setiap hari biasa menghabiskan lima gelas kopi. Tak ada alasan khusus Soni melakukan kebiasaannya ini. "Ada atau tidak ada kegiatan, saya pasti minum kopi," ujar ayah satu anak ini akhir pekan lalu. 


Soni, yang berdomisili di kawasan Pamulang, Tangerang, mengaku telah meminum kopi sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Namun hingga saat ini ia tidak mengalami gangguan pencernaan, khususnya gangguan pada lambung.

Dokter spesialis penyakit dalam Ari Fahrial Syam menjelaskan, pada prinsipnya seseorang boleh meminum kopi sepanjang lambungnya tidak bermasalah. Masalah pada lambung biasanya terlihat dari gejala perut kembung dan terasa begah (perut terasa penuh seperti terlalu kenyang).

Perut kembung dan begah, kata dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, disebabkan oleh kafein yang meningkatkan asam lambung. Jika ini terjadi secara terus-menerus, lambung akan mengalami luka. "Kalau ini terjadi, harus segera ke dokter untuk diobati," kata Ari.

Obat yang biasanya digunakan untuk gangguan pada lambung, menurut Ari, terdiri atas dua jenis. Obat jenis pertama mengandung antazida, yang berfungsi untuk menetralkan asam lambung. "Obat seperti ini dijual bebas," kata Ari.

Jenis obat kedua adalah obat yang menekan produksi asam lambung. Obat jenis ini biasanya mengandung ranitidine atau omeprazol. Obat jenis ini biasanya menggunakan resep dokter.

Namun bila tak mengalami keluhan pada lambung, kata Ari, seseorang masih dibolehkan untuk meminum kopi. "Tapi dengan jumlah terkendali," ujar peraih Young Clinician Award di World Congress of Gastroenterology Bangkok 2002 ini.

Batasan jumlah gelas kopi yang aman diminum, kata Ari, bergantung pada jenis kopi, kadar kafein di dalamnya, dan kesiapan lambung seseorang. "Biasanya kopi daerah, misalnya kopi Aceh, memiliki kadar kafein yang tinggi," kata Ari.

Namun, untuk kopi biasa, ia menyarankan agar membatasi konsumsi kopi maksimal 100-150 miligram per hari. "Atau setara dengan 3 gelas berukuran 200 cc. Tapi itu paling maksimal," katanya. Untuk amannya, menurut Ari, orang yang tidak mengalami keluhan lambung lebih baik membatasi minum kopi hanya segelas per hari.

Kafein dalam kopi, kata Ari, memang merangsang otak. "Sehingga lebih alert," katanya. Itulah sebabnya, peminum kopi akan merasa lebih segar dan tidak mengantuk. Kafein dalam kopi, Ari melanjutkan, merangsang organ tubuh, namun dapat membuat jantung berdebar lebih cepat.

Tapi penelitian yang dilakukan oleh Bristol University, Inggris, Juni lalu, justru menyimpulkan hal sebaliknya. Penelitian itu menyebutkan, kafein tidak membuat seseorang menjadi "alert" sehingga bisa tetap terjaga. Orang yang sering mengkonsumsi kopi, menurut penelitian yang diterbitkan di jurnal Neuropsychopharmacology itu, justru akan mengalami toleransi terhadap efek kegelisahan dan stimulasi yang dihasilkan kafein.

Penelitian ini menyimpulkan, kesegaran yang diperoleh setelah meminum kopi hanya merupakan tanda dari pembalikan efek kelelahan akibat mengkonsumsi kafein. Penelitian itu juga menunjukkan bahwa kafein malah meningkatkan kegelisahan dan tekanan darah.

"Penelitian kami menunjukkan tidak ada keuntungan yang didapat dari meminum kafein, walaupun kita merasa seolah-olah segar karena kafein," tulis Dr Peter Rogers dari Jurusan Psikologi Eksperimental di Bristol. FANNY FEBIANA | MEDICAL NEWS TODAY

sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2010/09/19/Sehat/index.html, akses tgl 19/09/2010.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours