Tak Semua Daging Merah Membawa Masalah

SELAIN merupakan sumber protein bernilai biologis tinggi (Nilai Biologi = 74), daging merah terutama yang berasal dari sapi juga merupakan sumber besi-hem (heme iron), yang lebih gampang diabsorpsi tubuh, hingga bisa diandalkan dalam membantu proses metabolisme energi, mendongkrak kemampuan belajar, serta meningkatkan sistem kekebalan.


Unsur lain yang juga mesti diperhitungkan adalah vitamin B12. Dalam Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Sunita Almatsier mencatat kadarnya 1,4 g/100 gr. Walau sedikit, jumlah tersebut sudah dapat menutupi kebutuhan harian tubuh akan vitamin ini mulai balita hingga orang tua, yang memiliki kisaran antara 0,1 g -1,0 g/hari, sedangkan untuk wanita hamil dan menyusui perlu mendapat tambahan sebanyak 0,3 g/hari.

Dalam kaitan dengan peningkatan mutu sumber daya manusia, peran vitamin yang memiliki nama lain kobalamin ini terbilang penting. Penelitian Rogers dkk. di Guatemala pada 553 anak sekolah usia 8 sampai 12 tahun mendapati, mereka yang mengalami defisiensi vitamin B12 mempunyai waktu reaksi lebih rendah pada tes neu-ropsikososial terhadap persepsi, memori, dan pertimbangan/pemikiran, serta kerap menghadapi masalah dalam urusan prestasi akademik dibanding anak yang tidak mengalaminya.

CLA

CLA (conjugated linoleic acid) atau asam linoleat terkonjugasi merupakan suatu cam-puranisomer dari asam linoleat (18 2n-6) yang di luar kelaziman, ikatan rangkap terkonjugasi diantara! oleh metilen.

Berbagai penelitian membuktikan, unsur yang bisa dijumpai dalam hewan ruminansia penghasil daging merah, termasuk pada bagian lemaknya ini bermanfaat bagi kesehatan, di antaranya, pertama, mengobati dan mencegah terjadinya obesitas.

Hasil studi pada tikus, babi, dan mencit, mendapati CLA mampu "menyikat" lemak sekaligus meningkatkan bobot otot Demikian halnya pada manusia, sebagaimana dibuktikan oleh penelitian di Swedia pada 2003.

Para pakar memperkirakan terjadinya situasi tersebut, lantaran kemampuannyadalam meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga asam lemak dan glukosa dapat menembus membran sel otot dengan mudah, tidak terdeposit dalam jaringan lemak.

Adapun perkara kelihaiannya dalam mencegah obesitas, para ahli memprediksi pengaruhnya dalam penurunan hormon lep-tin yang bertanggung jawab terhadap mekanisme lapar kenyang di dalam tubuh. Jika hormon leptin berkurang, tidak ada sinyal lapar yang dikirimkan, sehingga orang tidak berkeinginan untuk makan atau ngemil yang sering kali menjadi pencetus utama terjadinya obesitas.

Kedua, mencegah aterosklerosis. Hasil observasi pengaruh diet penyebab aterosklerosis pada dua kelompok hewan, yang diberi suplemen CLA (sampel) dan yang tidak (kontrol), menunjukkan, penyumbatan arteri ternyata lebih banyak terjadi pada hewan dari kelompok kontrol. Kemampuan CLA dalam "menggusur" lemak, yang kerap disebut sebagai biang keroknya, boleh jadi merupakan salah satu penyebabnya.

Ketiga, merupakan penghadang kanker dalam setiap perkembangannya. Berdasarkan hasil penelitian pada binatang, konsentrasi 0,1 - 1% CLA dalam diet dapat berperan sebagai antikanker.

Sebagai contoh, disebutkan Prof. Dr. Ir. Faisal Anwar dan Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan pengarang Makan Tepat Badan Sehat, pada kasus kanker payudara. CLA mampu menghambat penyebaran kanker jenis ini, baik lokal maupun sistematis, sehingga tidak menerabas sampai ke paru atau sumsum.

Selain melalui mekanisme pemblokiran protein cell cycle, yang mengatur pertumbuhan sel baru, sehingga proliferasi (pembiakan subur) sel kanker dapat dihentikan, kemungkinan lain terjadinya hal tersebut yakni melalui pencegahan proses angi-ogenesis, yaitu suatu proses pembentukan jaringan penyuplai darah baru, yang memungkinkan tumor leluasa berkembang. CLA diduga mendorong terjadinya apoptosis atau kematian sel yang terprogram alias bunuh diri sel kanker.

Keempat, sebagai bahan alternatif untuk mencegah flu. Hal ini mungkin terjadi karena CLA mampu meningkatkan sistem imun dan mencegah aktivitas suatu jenis imunoglobulin penyebab alergi, yang kadang berujung pada terjadinya flu.

"Sapi salon" vs "Sapi negong"

Yang acap kali menjadi pertanyaan, kenapa kasus kematian gara-gara kanker di Amerika tinggi? Padahal penduduknya terbilang rajin mengonsumsi daging merah, Data statistik di AS menunjukkan, satu dari lima kematian dikarenakan oleh kanker. Padahal, hasil penelitian pada populasi yang rajin mengonsumsi daging merah di Argentina menunjukan, meskipun subjek yang diteliti mengonsumsi sedikit serat dan ikan, ternyata insiden kanker kolon tidak banyak dijumpai. Apakah khasiat CLA menjadi loyo tatkala berhadapan dengan bangsanya sang Rambo?

Usut punya usut, rupanya ini berhubungan dengan cara pemeliharaan ternak.

Daging yang berasal dari "sapi salon", yakni sapi yang dimanjakan sedemikian rupa dalam peternakan modern, yang banyak dikonsumsi masyarakat Amerika, cenderung lebih merugikan kesehatan ketimbang daging yang berasal dari "sapi negong", yaitu sapi asal peternakan tradisional, yang biasa menjadi santapan sampel penelitian di Argentina.

Kajian Dr. Ir. Muhammad Ahkam Subroto, M App.Sc., penulis Real Food True Health, merinci tiga perbedaan pokoknya dilihat dari pemberian dan jenis pakan yang dikonsumsi, perlakuan dan pemeliharaan yang diperoleh sapi serta hormon dan antibiotik yang ada dalam tubuh api-sapi terse-but Umumnya "sapi negong" memiliki nilai lebih dari "sapi salon". Maka, agar efeknya terhadap kesehatan lebih terasa, jika ingin mengosumsi daging, pilihlah daging merah yang berasal dari "sapi negong".***

Yuga. Pramita, 
petugas Promkes Puskesmas Panyileukan, Bandung.
sumber : http://bataviase.co.id/node/623081, akses tgl 29/07/2011

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget