Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek menyinggung bahwa daun kelor memiliki manfaat sangat baik. Saking kandungan nutrisinya sangat banyak, daun kelor bisa dibudidayakan untuk masyarakat agar asupan gizinya meningkat dan terjaga. 


"Kelor ini bisa dipakai barangkali bisa kita budayakan," ujarnya saat ditemui di Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Jl Hang Jebat III Blok F3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (8/2/2018).

Bisakah kelor dikonsumsi oleh masyarakat Asmat untuk menjaga stabilitas gizi mereka? Ahli pangan dari Universitas Sahid Jakarta, Prof dr Hardinsyah, MS mengatakan belum tentu semua masyarakat Asmat suka untuk mengonsumsinya.

"Gampang tumbuh (pohon kelor), tapi orang terbiasa atau nggak? Contoh, orang tahu kalau daun katuk bagus buat ASI, tapi ada yang nggak doyan. Ini masalah cita rasa," ujarnya kepada detikHealth.

Namun menurut Prof Hardin sapaan akrabnya, pohon kelor ini jarang sekali ditemukan di tanah Papua. Kelor atau Moringa oleifera ini lebih banyak ditemukan di Jawa.

Sementara itu menurut Nutrisionis Persagi, Dr Rita Ramayulis, DCN, MKes, daun kelor ini bisa menjaga atau meningkatkan gizi seseorang karena mengandung berbagai macam nutrisi penting.

"Iya ada (manfaat) terutama untuk mencukupi vitamin, mineral, dan serat," tegasnya.

Daun kelor kaya akan vitamin dan mineral, serta serat juga fitokimia. Kandungan vitamin dan mineralnya jauh lebih tinggi dibandingkan sayuran lain pada umumnya.

"Daun kelor saat ini jarang dikonsumsi sebagai sayuran, lebih sering dimanfaatkan sebagai tanaman obat-obatan," pungkasnya.

Widiya Wiyanti
sumber : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-3858017/bisakah-daun-kelor-tingkatkan-gizi-seseorang-ini-kata-ahli-pangan, akses tgl 13/08/2019.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours