Dari Telur Asin, Ida Raup Omzet Rp 20 Juta per Bulan

Jambi memang bukan sentra industri rumah tangga dengan produk telur asin. Tapi justru di sana peluang datang.


Ida Rochani, jeli melihat peluang itu. Padahal usaha yang kini memberinya omzet hingga puluhan juta bermula sekadar mengisi waktu luang.

Kalau saja Ida tak turut saran sang suami yang memintanya berhenti bekerja, barangkali ia masih berada di kuadran kiri atas sebagai employe atau karyawan.

Selepas mengundurkan diri dari sebuah kantor konsultan, ia akhirnya fokus mengurus rumah tangga serta ketiga orang anaknya.

Dari sanalah ia berpikir untuk mengisi waktu luang dengan membuat suatu usaha. Bermodalkan ilmu yang didapat dari internet, ia mantap membuat telur asin tersebut dan melemparnya ke toko-toko kecil.

"Saya awalnya nyoba buat dengan 15 butir telur bebek, terus saya coba menitipkannya ke toko dekat rumah. Alhamdulilah pihak toko meminta lagi untuk dititipkan. 15 butir telur tersebutlah modal awal saya," kata Ida, Minggu (12/5).

Sadar memiliki peluang akhirnya Ida menambah jumlah produksinya dan menitipkan di lebih banyak tempat. Alhasil usaha yang dijalaninya sejak 2011 tersebut kini menuai hasil yang manis. Saat ini telur asin buatannya sudah dipesan oleh beberapa swalayan dan minimarket di Kota Jambi. Bila Anda penyuka telur asin, bila dikulitnya ada brand nama "Annisa" itulah telur asin buatan Ida.

"Saat ini saya sudah memasukkan telur asin buatan saya ke 20 minimarket dan dua swalayan yang ada di Kota Jambi," ucapnya.

Selain itu bisnis yang ditekuni Ida saat ini juga berdampak baik terhadap daerah sekitarnya. Dirinya mengajak beberapa ibu rumah tangga sekitar untuk membantunya memproduksi telur-telur asin. Kini dari kediamannya di Jalan Sari Bakti nomor 80 A Kelurahan Beliung, tak kurang 2.400 butir telur asin ia produksi.

"Saya bersyukur sekali, dengan beberapa bantuan dari sesama ibu rumah tangga disekitar, produksi pembuatan telur asin menjadi lebih ringan," bebernya.

Saat ini dalam sebulan, Ida memerlukan 2.400 butir telur bebek untuk diolah. Tantangannya saat ini adalah memenuhi pasokan bahan baku. Maklum saja, Kota Jambi bukan sentra peternakan bebek. "Ada pengepul telur dari Kerinci yang biasa membawa ke Jambi, nah saya pesan telur dari mereka, karena untuk produksi telur bebek dalam jumlah banyak masih susah di Jambi," jelasnya.

Merespon keinginan pasar yang beragam, ia menjual si asin secara butiran dan kemasan isi empat dan enam butir. Per butir dijual Rp 2.800. Adapun kemasan empat dan enam butir masing-masing, Rp 7.900 dan Rp 11.200.

Dan belakangan, Ida bukan menjual telur asin saja, ia mengemas pula telur ayam kampung. Ia juga menjualnya ke minimarket dan swalayan yang bermitra dengannya. Kini omzet yang diterima Ida dalam sebulan bisa mencapai Rp 15 juta hingga Rp 20 juta.

Tak mau setengah-setengah dalam berwirausaha, ibu tiga anak ini juga mengantongi izin dari Dinkes. Artinya, telur produksinya sehat dan aman dikonsumsi.

Mengenai proses produksi, ia menuturkan butuh waktu hingga enam hari. Agar rasa tak terlalu asin, pembuatan adonan pembukus telur harus lebih teliti. Jumlah produksi telur asinnya akan meningkat mendekati hari raya Idul Fitri. Tak jarang dirinya kewalahan dengan banyaknya pesanan.

"Apabila mau mendekat puasa kita bisa menambah produksi telur sampai 50 persen, karena telur asin biasanya menjadi incaran masyarakat untuk berbuka puasa atau untuk sahur," jelasnya.

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Eko Prasetyo
sumber : https://www.tribunnews.com/bisnis/2013/05/14/dari-telur-asin-ida-raup-omzet-rp-20-juta-per-bulan, akses tgl 20/08/2019.

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget