Lebih dari dua minggu mengisi topik utama hampir seluruh media cetak dan elektronik, kasus gizi buruk Asmat menyedot perhatian semua orang. 


Mendadak sontak tiket pesawat jurusan Papua habis terjual, walaupun tidak semua komunitas masyarakat ikut menggalang dana apalagi siap berjihad seperti waktu Palestina dan Rohingya didera politik agama.

Yang pasti, banyak pihak lebih gencar melemparkan kritik atas kinerja pemerintah atau mempertanyakan ke mana larinya dana pembangunan daerah.

Tak elak profesi dokter menuai hujatan, seakan-akan sekolah hanya demi gengsi, bukan untuk mengabdi pada negri.

Iming-iming 14 juta rupiah gaji per bulan tak digubris membuat Pak Bupati terheran-heran. Padahal, lebih mengherankan lagi jika beliau tidak menyadari bahwa ini bukan perkara uang. Bahkan, jumlah ‘segitu’ dalam waktu singkat habis hanya untuk kompensasi bahan bakar speedboat puskesmas keliling atau menghantar pasien ke rumah sakit.

Kengerian seorang dokter bukan karena menghadapi kasus gawat darurat di meja operasi, melainkan saat dia tidak berdaya menghadapi anak kelaparan setiap hari dan perempuan meregang nyawa saat melahirkan tanpa fasilitas bedah sesar.

Yang ingin saya tarik sebagai sudut pandang, justru cara-cara orang yang hidup di luar kantong-kantong kemiskinan kesehatan, ‘menolong’ masyarakat yang dianggap butuh bantuan.

Impulsivitas sesaat karena rasa iba, bila tidak terarah justru akan menjadi bumerang.

Tak usah jauh-jauh ke Papua, hanya dua jam sedikit bermobil keluar dari Jakarta, masih ada seorang ibu yang menggendong anak tulang berbungkus kulit menunggu kedatangan ‘sinterklas berkala’ – yang selalu disambutnya dengan mata berbinar, karena dibawakan beberapa kotak susu bermerek, amplop berisi uang, sekarung kecil beras, ditambah gula, minyak goreng dan teh.

Padahal, anaknya menderita TBC dan kurang darah akibat gangguan gizi yang dideritanya.

Tenaga puskesmas bukanlah satu-satunya penggerak mobilisasi kesehatan. Jika begitu banyak sektor usaha dan upaya penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara juga dipegang unsur swasta, maka kontribusi publik dan masyarakat umum di ranah kesehatan juga memegang andil besar akan terciptanya kondisi hidup sehat yang diinginkan.

Sayangnya, sinkronisasi tindakan dan kontribusi itu tidak terjadi, sehingga pelbagai aksi dan kegiatan memberi dampak yang bukan hanya tidak signifikan, tapi justru berbalik sebagai ‘counter effect’.

Memang lebih mudah menyisihkan sejumlah uang donasi atau membeli makanan kemasan termasuk susu bubuk untuk disumbangkan, sekadar mengobati rasa bersalah jika sama sekali tidak tergerak melakukan apa pun.

Tapi adakah yang berpikir, bahwa barang-barang itu hanyalah produk konsumsi yang akan habis sesaat – sedangkan hidup manusia berjalan terus?

Lebih parah lagi, penerima donasi membentuk persepsi: seakan-akan barang-barang tersebutlah yang dianggap terbaik, tercepat mengatasi rasa lapar dan penderitaan fisik.

Tak heran di gubuk-gubuk penduduk Asmat lebih banyak ditemukan rokok dan mi instan. Bisa jadi, merupakan kelanjutan imbas dari ‘perkenalan pertama’ mereka beberapa saat yang lalu, saat bencana diberi ‘produk pangan’ berdus-dus.

Sangat memilukan untuk mengajarkan manusia kembali mengonsumsi hasil kebun dan menanamnya kembali.

Bukankah tragedi bila lahir di atas rawa, besar di tengah rawa, tapi tak mampu menangkap ikan, bahkan tidak tahu mau makan apa?

Cukup banyak rakyat kita melihat ikan, sayur, buah dan hasil bumi hanya sebagai barang dagangan, yang dijual demi uang. Bukan sebagai barang konsumsi, yang membuat mereka bertahan hidup sehat.

Program penyelamatan generasi jangka panjang tidak boleh kalah pamor dari gerakan cepat tanggap yang barangkali hanya berlangsung satu-dua bulan.

Angka cakupan vaksinasi yang tinggi, tanpa disertai kondisi gizi anak yang baik pun akan menuai kesia-siaan.

Bakteri yang dilemahkan dengan harapan mengulik kekebalan aktif yang dihasilkan tubuh tidak akan terjadi.

Saat gizi buruk, jangankan membuat sel darah putih untuk menangkal penyakit, menumbuhkan otot dan merajut syaraf otak saja tubuh tidak mampu.

Begitu pula sawar selaput lendir (mucosal barrier) di sepanjang saluran cerna, tidak terbentuk sempurna pada kasus gangguan gizi kronik, sehingga infeksi mudah menyerang.

Tindakan pro aktif penyedia layanan kesehatan, jika tidak berjalan sinergis bersamaan dengan edukasi sesuai taraf kebutuhan lokal, juga akan menimbulkan masalah baru yang tidak kalah mengerikannya.

Penyesuaian konten materi edukasi pun wajib selaras dengan kondisi demografis dengan harapan tidak akan terjadi ‘culture shock’.

Sudah cukup satu contoh miris: orang Papua lebih lahap makan nasi bungkus ketimbang menyantap papeda dengan ikan.

Edukasi yang benar tidak akan mencerabut suatu budaya dari akarnya. Apalagi, mengganti keseluruhan warna kehidupan.

Edukasi tidak pernah bertujuan seperti itu. Edukasi yang baik dan benar membuat mereka tetap makan papeda berlauk ikan – hanya sebelum bersantap, ritual cuci tangan dilakukan. Sisa sampah makanan dibuang, diangkut, dikumpulkan sesuai syarat sanitasi.

Pendidikan gaya hidup tidak boleh membuat orang menjadi terbeban atau malah hanya dilakukan jika ‘polisi’nya masih mengawasi.

Yang dididik perlu merasakan manfaatnya, sekaligus ingin mempertahankan manfaat itu. Celakanya, untuk bisa sampai menikmati manfaat dan rasa memiliki, butuh perjalanan yang tidak singkat.

Asmat dan banyak kabupaten lain barangkali sudah kehilangan satu generasi – yang tidak lagi bercocok tanam, apalagi punya keterampilan menangkap ikan. Semua sudah tergantikan dengan membeli makanan jadi atau bahkan makanan siap saji.

Pendidikan, edukasi, tidak hanya melatih orang mempunyai keterampilan dan menemukan makna hidup – justru beroleh pencerahan spiritual yang tidak melulu berarti menjalankan ritual agama saja.

Teredukasi menjadikan manusia bertemu dengan identitas, berdaya menapak menuju tingkatan kebutuhan yang lebih tinggi.

Makan tidak hanya untuk kenyang, tapi demi kesehatan. Punya pasangan hidup bukan lagi sekadar pemuas secara seksual, tapi karena kebutuhan kasih sayang dan rasa aman.

Punya jabatan bukan soal kekuasaan demi kerakusan harta, melainkan amanah untuk mengayomi dan memberdayakan lebih banyak orang.

Alangkah baiknya, jika kontributor pilar pembangunan generasi bukan berwujud sinterklas yang hanya muncul sesaat, membawa berkarung-karung donasi. Kita butuh sinergi membangun negeri.

DR.dr.TAN SHOT YEN,M.HUM.
sumber : https://lifestyle.kompas.com/read/2018/02/04/080500020/gizi-vaksinasi-edukasi--tiga-pilar-membangun-generasi?page=all, akses tgl 14/08/2019.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours