Ikan Asin Picu Kanker Nasofaring

Konsumsi ikan asin berlebih ternyata menjadi penyebab kanker nasofaring. Hal ini tecermin dari masyarakat China Selatan yang sebagian besar penduduknya adalah nelayan dan hampir setiap hari makan ikan asin, ternyata angka kejadian kanker nasofaring sangat tinggi. Di China Selatan sebanyak 40 hingga 50 orang di antara 100 ribu penduduknya menderita kanker nasofaring. Sementara di Eropa hanya 1 di antara 100 ribu penduduk yang terkena kanker nasofaring.


“Di China, penyakit ini sudah dianggap biasa seperti halnya sakit flu yang banyak diidap orang. Tinggal disembuhkan saja dengan pergi ke dokter,” ujar Budianto Komari dari KSMF THT RS Kanker Dharmais dalam acara penyuluhan ilmiah untuk awam “Diagnosa & Penatalaksanaan Karsinoma Nasofaring” di RS Kanker Dharmais, Jakarta, pekan lalu. Setelah diteliti oleh para pakar di China, ternyata pencetus utama kanker yang menyerang rongga hidung itu adalah nitrosamin yang terkandung di dalam ikan asin.

Nitrosamin menyebabkan virus Epstein-Barr yang merupakan penyebab utama kanker nasofaring (kanker tenggorokan atau THT) menjadi aktif membentuk sel kanker. Nitrosamin ini tidak diberikan langsung pada proses pengawetan ikan namun muncul saat proses pengasinan. Saat proses pengasinan dan penjemurannya, sinar matahari bereaksi dengan nitrit (hasil perombakan protein) pada daging ikan, sehingga membentuk senyawa yang disebut nitrosamin.

“Nitrosamin ini pencetus utama kanker nasofaring, namun tidak hanya ada di ikan asin, karena ada juga pada makanan yang diawetkan,” kata Budi lebih lanjut. Menurut Budi, virus Epstein- Barr terdapat di udara bebas dan terdapat di mana saja. Virus ini masuk saat proses bernapas dan tidur di dalam nasofaring. Hanya saja tidak semua akan menjadi kanker, virus ini akan tetap “tidur” di nasofaring jika tidak dipicu faktor-faktor tertentu seperti polusi udara.

Selain ikan asin, mediator lain yang juga bisa ikut menimbulkan kanker nasofaring adalah lingkungan dengan ventilasi yang kurang baik, pembakaran dupa, kontak dengan zat karsinogen seperti pada pekerja pabrik bahan kimia, ras, dan keturunan. Budianto tidak melarang orang mengonsumsi ikan asin. Namun konsumsi jangan dilakukan dengan intensitas tinggi. “Kalau sekali-kali makan ikan asin tidak apa-apa. Tapi jangan sering-sering, jangan tiap hari.

Terpenting adalah makan dengan variasi dan terutama menyantap makanan segar, gado-gado misalnya. Jangan terlalu sering makan makanan awetan atau kalengan,” jelas Budi. Sementara Aru Sudoyo, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) mengatakan kalau ditambah dengan nasi panas yang masih mengepul, maka uap-uap nasi itu akan membawa nitrosamin ke pori-pori kulit khususnya daerah mulut, leher dan tenggorokan.

Bila terlalu sering makan ikan asin ditambah nasi panas bisa memicu kanker nasofaring (kanker tenggorokan atau THT) dalam kurun waktu lama. Kanker nasofaring timbul jika kekebalan tubuh rendah. Karena itu, Aru menyarankan anak-anak untuk tidak mengonsumsi ikan asin karena kekebalan tubuhnya masih rendah. Jika dari kecil sudah sering makan ikan asin maka ketika dewasa lebih rentan terkena kanker nasofaring.

wan/L-1 
sumber : http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=70314, akses tgl 16/12/2010.

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget