Di antara para ibu muda yang aktif dengan sosial medianya, muncul topik hangat terbaru soal Makanan Pendamping ASI yang ‘ngetren’ disebut MPASI – setelah bayi lulus dengan ASI ekslusifnya. 


Topik hangat sekaligus laris manis buat peluang bisnis. Bagaimana tidak? Dengan menebarkan teknik marketing of fear seperti biasa, peluru komersialisasi MPASI diluncurkan dengan target para ibu yang takut anaknya nanti disebut stunting, takut timbangan tidak naik-naik, takut anaknya jatuh dalam anemia alias kekurangan darah.

Para ibu yang kadung rendah diri dengan kemampuan mengolah makanan dan adanya dapur di rumah seakan hanya sebatas keharusan denah rumah.

Jika untuk menghidupi diri saja cukup membeli lewat aplikasi pesan layan antar – maka pemberian makan anak dan bayinya akan dipercayakan pada ‘yang lebih ahli', industri yang mempekerjakan begitu banyak ahli gizi yang katanya pintar menghitung kebutuhan nutrisi manusia.

Ditambah pula menawarkan kepraktisan hidup: tidak usah berpeluh-peluh ke pasar atau belanja, berpanas ria di dapur, apalagi kalau harus mengulek dan mencincang.

Belum lagi bingung sisa makanan satu hari mau disimpan di mana. Ada juga yang bilang makanan bayi tidak boleh dipanaskan ulang.

Tak kalah meramaikan kebingungan, beberapa pakar sengaja menayangkan hasil penelitian yang mengatakan MPASI rumahan hampir semuanya hanya berisi karbohidrat, alias bentuk bubur beras.

Bahkan, salah satu penelitian di pulau Jawa menunjukkan 75% subjek jarang mengonsumsi protein nabati, lebih parah lagi: 89% subjek jarang mengonsumsi protein hewani.

Penelitian-penelitian lain serupa ini, lalu dijadikan alasan kuat untuk menawarkan solusi baru: membuat racikan ajaib agar seluruh kebutuhan nutrisi tercapai.

Lalu katanya ini yang disebut win-win solution: yang membuat solusi untung, ibu-ibu pun nyambung - bak gayung bersambut. Lalu MPASI rumahan mendapat label nista: bikin bayi dan anak kurang gizi.

Fenomena di atas rasanya membuat otak dan hati berontak. Pertama, kok tega-teganya kita menawarkan solusi tanpa menyelesaikan sumber perkara.

Masalah sebetulnya jelas: semua kebutuhan nutrisi seorang bayi untuk tumbuh kembang tanpa cacat gizi dimiliki oleh bumi pertiwi.

Hanya karena ketidaktahuan dan pembiaran berpuluh tahun, maka para ibu akhirnya terpaksa memberikan sebatas apa yang mereka pahami, dengan akibat pertumbuhan bayi dan anak yang tidak optimal.

Jadi, amatlah sangat janggal apabila kemurahan bumi tempat kita berpijak ini harus melalui ‘perantara’ lebih dahulu untuk diproses industri – ketimbang para ibu mampu meracik dari sumber aslinya langsung, sebagai makanan sehat, karena semakin sedikit campur tangan olahan manusia.

Kedua, Selama 10 tahun Indonesia sudah mempunyai modul pelatihan pemberian makan bayi dan anak, begitu pula fasilitator sudah banyak dihasilkan. Bahkan, rekomendasi organisasi kesehatan dunia WHO telah diperkenalkan dan mestinya dijalankan.

Jika ini semua diaplikasikan dengan baik dan benar, mustahil angka stunting masih bertengger di atas 30%.

Kenyataannya, para calon ibu muda di masa kehamilan lebih sibuk mengikuti kelas yoga seperti selebrita, ketimbang meminta dokter atau bidannya mengajarkan teknik menyusui yang benar. Dikira, menyusui itu sekadar insting dan dengan mudahnya bayi menikmati proses menyusu.

Begitu pula Posyandu, hanya sekadar tempat meminjam timbangan, ketimbang menjadi wadah para ibu belajar membuat MPASI yang bermutu.

Akhirnya yang kencang terdengar pesan MPASI rumahan sebatas jenis bahan makanannya saja, yang dikenal sebagai menu 4 bintang, ada karbohidrat, protein nabati, protein hewani, serta sayur dan buah. Padahal, itu saja tidak cukup.

MPASI berkualitas harus mempunyai nilai 6 pass. Saya menyebutnya begitu agar lebih mudah diingat – jadi biarkan si ayah saja yang punya perut 6 packs, tapi MPASI anaknya yang berusia 6 hingga 24 bulan butuh 6 pass, yaitu:

  1. Pas dengan umur bayi: Mulai dapat meraih makanan yang dimasukkan ke mulut, sebab koordinasi mata mulut dan tangan sudah ada, duduk dengan kepala yang dapat tersangga tubuh,tertarik pada makanan yang dilihatnya sedang dimakan orang lain, dapat menelan makanan, sebab jika tidak, risiko tersedak atau dikeluarkan lagi. 
  2. Pas dengan variasi bahannya, yang disebut 4 bintang tadi: karbohidrat, protein nabati, protein hewani, serta sayur dan buah. 
  3. Pas dengan teksturnya: dimulai dengan bubur saring, meningkat menjadi tim cincang hingga makanan yang sama dengan keluarga. 
  4. Pas dengan jumlah kebutuhan makro dan mikro nutrien. Jadi bukan hanya variasi 4 bintangnya, tapi jumlah bahan dan kualitas bahan yang dipilih mampu mencegah kekurangan zat besi dan mineral lainnya yang dibutuhkan saat tumbuh kembang. 
  5. Pas dengan frekuensinya: pemberian MPASI bisa rutin hingga 3x sehari dengan selingan buah sementara ASI jalan terus. 
  6. Pas dengan standar kebersihan, tentunya. Kebersihan MPASI menjadi syarat mutlak, karena jangan sampai tujuan pemberian makan yang mestinya memastikan tumbuh kembang bayi, malah menjadi petaka karena diare.

Pemberian makan bayi dan anak tidaklah semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi demi mencegah stunting atau gizi buruk di 1000 Hari Pertama Kehidupannya, tapi juga membentuk pola makan di usia selanjutnya.

Itu sebabnya di negara-negara yang sudah lebih maju, pemberian sayur dan buah bukan lagi persoalan kebutuhan serat, tapi juga sebagai makanan perkenalan yang nantinya di usia yang lebih besar harus diasup dalam jumlah lebih banyak.

Justru yang lebih menarik, adanya vitamin C dalam buah semakin meningkatkan kualitas asupan zat besi.

Begitu pula bila kita ikuti riset Amerika tentang pemberian makanan bayi dan anak (Feeding Infants and Toddlers Study) yang diadakan setiap 6 tahun sekali, tren terbaru semakin menunjukkan sumber lemak yang justru di Indonesia dielu-elukan, oleh mereka sudah tidak dianjurkan lagi.

Sumber lemak terbaik bagi anak yang sedang tumbuh kembang justru ada di kelapa sebagai santan, kacang-kacangan, berbagai jenis telur, ikan laut, dan masih banyak lagi.

Sanggahan bahwa ada istilah ‘anti nutrien’ alias penghalang nutrisi yang disebut fitat dalam sayur dan kacang-kacangan, sebetulnya harus dipahami dengan bijak.

Fitat akan hilang ketika kacang-kacangan direndam, direbus atau difermentasi seperti tempe. Begitu pula bila sayur dimasak.

Akibat di fakultas kedokteran tidak ada lagi blok khusus mata kuliah ilmu gizi, maka sudah saatnya para ahli gizi non-dokter memiliki posisi sentral dan krusial saat kita mengatasi masalah gizi di masyarakat.

Hanya segelintir dokter yang meneruskan sekolahnya menjadi ahli gizi. Sebagian besar yang bertugas di pelosok, bekerja di puskesmas, adalah para dokter umum yang hanya dengan kuliah 3.5 tahun sudah bergelar Sarjana Kedokteran, ditambah ko-asistensi 2 tahun yang berkutat mengobati pasien

Barangkali kita menempatkan beban terlalu besar bagi mereka untuk menjadi agen preventif dan promotif, apalagi diandaikan bisa memberi nasihat nutrisi.

Membangun bangsa cerdas yang dimulai dari pemberian makan di usia dini merupakan pekerjaan rumah yang tak kunjung usai.

Dibutuhkan pemberdayaan sesungguhnya di semua lini, agar MPASI rumahan tidak lagi disejajarkan dengan fakta muram MPASI yang saat ini masih kurang berisi.

DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum 
Editor : Bestari Kumala Dewi
sumber : https://lifestyle.kompas.com/read/2019/03/20/101500220/mpasi-rumahan-tidak-sama-dengan-mpasi-murahan, akses tgl 01/08/2019.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours