Politik 'Mie Racun'

Indomie ‘aman’ dikonsumsi di Indonesia. Mie instan ini dianggap ‘berbahaya’ hanya di Taiwan. Negeri Chiang Kai Sek itu menerapkan ‘standar racun’ lebih rendah. Karena itu mie produksi Indonesia ini harus ditarik dari peredarannya. Benarkah begitu? Adakah ini bukan politik dagang?


Memang Indomie bukan barang pertama dari Indonesia yang ditolak Taiwan. Sebelumnya sudah ada gula dan gula-gula. Ketiganya bukan pada materi yang dikonsumsi, tetapi lebih pada pengawetnya. Kadar nipagin lebih tinggi dari yang dipersyaratkan.

Zat pengawet itu tidak menyimpang. Bahkan Indofood sebagai produsen bilang produk itu sudah memenuhi ketentuan dari Departemen Kesehatan setempat. Kalau kemudian barang-barang itu harus ditarik dari supermarket, maka hampir pasti inilah ekspresi konkrit perang dagang. Mengapa?

Mie instan merupakan produk unggulan Indonesia. Itu tak lepas dari rasa (taste) lidah Nusantara. Kegurihan rasa China, keasinan rasa India, dan kehambaran rasa Eropa, serta kerasnya aroma rempah Timur Tengah menjadi rasa sempurna ketika diolah warga negeri ini. Itu kelebihan mie instan Indonesia.

Kare India  yang menjadi menu keseharian pun harus takluk dengan kare negeri ini. Mereka lebih lahap menyantap kare Indonesia ketimbang kare negeri sendiri. Itu pula yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara berselera. Jago kuliner.

Mie instan itu yang hingga kini belum tergoyahkan di luar dan dalam negeri. Jika tepung terigu dan gandum satu rangkaian produk yang ‘dimainkan’ asing, tidak  demikian dengan mie instan. Kita masih boleh berbangga, kendati di dalam negeri persaingan ketat antar anak-bangsa tak terhindari.

Kebutuhan mie instan, terigu, dan tentu gandum, terus melambung  tinggi di dunia. Dan kebutuhan terigu Indonesia saja dari tahun ke tahun meningkat tajam, di atas 100 % (impor). Malah pernah impor di atas 200% tahun 2009. Ditambah bahan baku (gandum) impor dan pasar bebas, maka negeri ini menjadi ‘buangan sampah’. Produk sampah dari dalam dan luar luber di pasaran.

Tengok saja terigu Turki yang mendominasi pasar negeri ini (hampir 60%). Harga murah yang diindikasikan dumping mematikan pabrik lokal. Empatbelas pabrik terigu megap-megap. Hanya Bogasari yang eksis karena mempunyai segalanya. Padahal produk Turki yang memenuhi pasar Indonesia itu diindikasikan salah satu penyebab Balkan Endemic yang mewabah di Eropa, faktor penyebab kerusakan ginjal. Juga terigu China dicampur rambut manusia yang diharamkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) tetapi toh tetap terkonsumsi.

Kekuatan mie instan Indonesia itu yang membuatnya selalu disoal. Tidak hanya di luar negeri, tetapi juga di dalam negeri. Diributkan dengan tudingan monopoli agar produk asing masuk dan menguasai pasar Indonesia. Dan perang dagang itu penyebab biasnya tata aturan, dengan ‘kandungan racun’ sebagai  alat penggusur agar produk itu dijauhi.

Di tengah pelarangan masuknya produk mie instan ke Taiwan memberi pelajaran, bahwa kita memang masih terbiasa geger sendiri. Tidak punya kerelaan bersaing sehat agar terbentuk kebanggaan nasional. Malah lebih suka asing masuk merajai pasar dalam negeri ketimbang produk dalam negeri eksis. Tapi bagaimana dengan kandungan racunnya?

Simak ungkapan Paracelsus (1493 – 1541) tentang racun. “Semua zat itu racun. Tidak ada zat yang bukan racun. Hanya dosis yang tepat yang membedakan antara racun dan obat”. Paracelsus adalah dokter, astrologer, okultis, pionir zat kimia, kedokteran dan mineral, serta dianggap sebagai bapak toksikologi (ilmu racun?).

Jadi, kenapa kita ribut racun kalau itu telah menjadi bagian dari konsumsi kita? Rasanya kita perlu melihat sesuatunya dari potensi yang menjadi penguat negeri ini dalam menghadapi pasar bebas dan global.

Djoko Suud Sukahar, 
budayawan menetap di Jakarta.
(nrl/nrl)
sumber : http://www.detiknews.com/read/2010/10/13/135133/1463762/103/politik-mie-racun?nd991107103, akses tgl 13/10/2010.

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget