Sebuah daerah bernama Desa Bongkok yang berada di Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, pernah terkenal akan varietas hasil buahnya. Namanya, salak bongkok. Namun, pada perjalanannya, varietas salak yang diambil dari nama desa aslinya itu ternyata kurang diminati masyarakat, karena mempunyai rasa asam, sepat, dan agak pahit. Ketika para petani setempat mulai meninggalkannya, produksi salak bongkok pada 2001 hingga 2002 mengalami penurunan hingga 36 persen. Kepunahan salak bongkok pun mengancam.


Dosen Jurusan Teknologi Pangan Fakultas Teknik Universitas Pasundan Dr. Ir. Leni Herliani Afrianti, M.S. mulai melakukan penelitian pada tahun 2007. Ketika itu, Leni yang akan menyelesaikan program doktor pada studi Farmakologi Bahan Alam di Institut Teknologi Bandung, memilih disertasi dengan penelitian salak bongkok dengan judul "Aktivitas Antioksidan dan Antihiperurikemia (Antiasam Urat) Ekstrak dan Komponen Aktif Buah Varietas Bongkok".

Jika melihat hasil penelitian Leni, terlihat bahwa masyarakat hanya menilai salak asam itu sekilas. Hasil penelitian Leni itu menunjukkan, salak bongkok mengandung antioksidan dan dapat dimanfaatkan sebagai produk suplemen pangan yang dapat menyediakan efek yang baik bagi kesehatan.

Leni menjelaskan, pada dasarnya buah-buahan mengandung zat-zat aktif yang dapat mencegah penyakit degeneratif. Sementara itu, penyakit degeneratif berpotensi melibatkan radikal bebas yang menyebabkan kerusakan fungsi sel-sel tubuh.

"Secara fisiologis, timbulnya radikal bebas dalam tubuh harus diimbangi dengan senyawa yang disebut antiradikal bebas yaitu antioksidan" ujar dosen Unpas kelahiran Bandung itu.

Berdasarkan hal itu, Leni yakin jika salak bongkok berpotensi dijadikan suatu produk makanan tambahan. Ia pun melanjutkan pengembangan penelitiannya, dengan membuat ekstrak salak bongkok. "Hasilnya, ekstrak salak bongkok mampu menghasilkan antihiperurikemia, atau dengan kata lain dapat mencegah penyakit asam urat," ujar Leni.

Pengembangan pun ia lakukan dengan membuat suplemen pangan yang berasal dari ekstrak salak bongkok, yang dibuat dalam bentuk tablet effervescent. Tablet effervescent sebenarnya bukan merupakan obat, dan tidak dapat dikonsumsi layaknya makanan biasa. Namun, suplemen pangan tersebut mengandung beberapa substansi yang mencegah penyakit meskipun tidak mengobatinya.

Tablet effervescent yang ia buat terbentuk dari ekstrak salak bongkok yang dijadikan serbuk granula. Granula tersebut adalah partikel-partikel padatan dari proses pembesaran ukuran yang digabungkan menjadi suatu massa. "Bahan granulasi dapat diperoleh dari pembesaran partikel-partikel primer atau pengecilan ukuran dari materi yang dikempa secara kering," ucapnya.

Keunggulan granula dan tablet effervescent adalah kemampuannya untuk menghasilkan gas karbondioksida yang memberikan efek sparkle (rasa soda). Selain menghasilkan larutan yang jernih, tablet effervescent juga menghasilkan rasa yang enak karena adanya karbonat yang dapat memperbaiki rasa.

Bila granula dan tablet effervescent dimasukkan ke air, akan terjadi reaksi kimia secara spontan antara asam natrium yang membentuk garam natrium, karbondioksida, dan air. Sementara itu, larutan karbonat akan menutupi rasa garam atau rasa lain yang tidak diinginkan dari zat obat. (Muhammad Fikry Mauludi/"PR")***

sumber : http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=168846, akses tgl 22/12/2010.


Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours