Titik Kritis Haram pada Bakmi, Apa Saja?

Bakmi. Siapa yang tak suka hidangan yang satu ini? Rasanya, hampir setiap orang menyukai bakmi. Selain rasanya yang nikmat, bakmi pun mudah ditemui dari mulai pedagang kaki lima hingga restoran terkemuka. Terlebih, masakan yang satu ini bisa disajikan secara cepat.


Bakmi adalah salah satu jenis mi yang dibawa ke Indonesia oleh saudagar dari Cina. Hidangan yang lezat ini biasa pula disebut yamien atau yahun. Bakmi yang kini dijual di berbagai kedai telah diadaptasi dengan menggunakan bumbu-bumbu khas Nusantara.

Umumnya, bakmi terbuat dari tepung terigu atau bakmi kuning. Selain itu, ada pula yang terbuat dari bahan beras, yakni dikenal dengan nama kwetiaw. Berburu makanan lezat, kini menjadi salah satu kebiasaan masyarakat perkotaan. Salah satu hidangan yang dicari adalah bakmi yang enak, lezat, dan harganya terjangkau.

Selain kelezatan, bagi konsumen Muslim, faktor kehalalan menjadi hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Ya, mengikuti perkembangan zaman memang sulit untuk dihindari. Namun, dalam hal gaya hidup, termasuk dalam hal memilih makanan, seorang Muslim harus berpedoman pada aturan syariat.

Lalu, adakah titik kritis keharaman dalam hidangan bernama bakmi? Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Lukmanul Hakim, mengungkapkan, mi yang menjadi bahan dasar olahan bakmi berasal dari terigu gandum pada dasarnya halal.

"Namun, di Indonesia, terigu harus ditambah vitamin yang dapat berasal dari hewan. Oleh karena itu, harus diketahui persis sumbernya," ungkap Lukmanul.  Tepung terigu yang diproduksi di Indonesia pada umumnya difortifikasi/ditambahkan vitamin dan mineral untuk memperkaya nilai gizinya.

Titik kritis kehalalan tepung terigu, kata Lukmanul, ada pada bahan aditif/fortifikasi, yaitu mineral dan vitamin. Dari segi kehalalan, menurut dia, yang patut dicermati adalah penambahan vitamin larut lemak dan mudah rusak selama penyimpanan, misalnya vitamin A. Agar vitamin A mudah larut dalam produk pangan berair (aqueous) dan agar tidak mudah rusak selama penyimpanan, vitamin A biasanya disalut (coating).

"Bahan penyalut tersebut ada kemungkinan berasal dari gelatin. Gelatin merupakan protein yang diperoleh dari hidrolisis kolagen yang secara alami terdapat pada tulang atau kulit binatang. Gelatin harus dibuat dari hewan halal yang penyembelihannya dilakukan secara syariah Islam," papar Lukmanul.

Selain itu, bakmi biasanya diolah dengan berbagai bahan tambahan seperti sayuran, daging ayam, serta seafood. Untuk memperoleh rasa dan aroma yang sedap, dalam memasak bakmi, juga dicampurkan beberapa bahan tambahan, seperti minyak dan bumbu. Bumbu dalam bakmi biasanya terdiri atas kecap, penyedap, dan minyak.

"Nah, selain bahan mi-nya sendiri, titik kritis haram pada bakmi terletak pada bahan tambahan dan bumbu-bumbu yang ditambahkan tadi. Jika bahan tambahannya berupa daging ayam atau daging sapi pun harus dipastikan bahwa proses penyembelihannya melalui cara-cara yang telah ditentukan oleh syariah Islam sehingga halal," ungkap Lukmanul.

Dalam  bumbu, kata dia, yang patut dicermati adalah adanya penyedap rasa berupa Monosodium Glutamat. Menurutnya, bahan tersebut adalah produk mikrobial, yang media pertumbuhan bakterinya bisa saja melalui media yang haram. Pastikan, bumbu yang dipakai telah memiliki sertifikat halal dari lembaga yang diakui MUI.

"Di dalam tambahan bumbu juga terdapat kecap dan minyak. Sumber minyak tersebut tentu bermacam-macam, ada yang menggunakan minyak sayur dicampur kaldu. Nah, kaldu ini bisa berasal dari ayam, sapi, maupun daging babi," ungkap Lukmanul.

Selain minyak, dalam masakan bakmi, juga sering terdapat angchiu, sejenis arak yang dipakai untuk tumisan masakan. "Karena mengandung arak, angchiu ini jelas haram," papar Lukmanul menegaskan.

Mengingat begitu beragamnya kandungan bahan campuran yang terdapat dalam sebuah masakan mi, Lukmanul mengimbau agar konsumen Muslim lebih bijaksana sebelum memutuskan untuk mengonsumsi bakmi. Caranya, pastikan terlebih dahulu restoran yang menjajakan makanan tersebut telah memenuhi syarat kehalalan dari MUI.

"Dengan cara ini, kita bisa terhindar dari risiko memakan makanan haram," papar Lukmanul. Mengonsumsi makanan halal dan baik merupakan perintah yang diwajibkan ajaran Islam. ed; heri ruslan (-)

Oleh Dyah Ratna Meta Novia
sumber : http://republika.co.id:8080/koran/52/123017/Titik_Kritis_Haram_pada_Bakmi_Apa_Saja, akses tgl 13/11/2010. 

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget