Di luar, Rossa, siswi kelas VI sebuah sekolah dasar di Jakarta, selalu tampak gembira. "Tapi setiap kali saya mulai bicara soal bagaimana upaya terbaik untuk menurunkan berat badannya yang kelebihan 10 kilogram, dia selalu diam, bilang 'Udahlah, Ma, mau diapain lagi', lalu dia pergi. Tak jarang dia malah menutup diri di kamar atau menangis," kata Asih, ibunda Rossa. Urusan kelebihan berat badan memang menjadi obrolan tak nyaman buat Asih. Meski cukup paham bahwa kelebihan berat badan bisa membawa masalah kesehatan, ia tak mudah menyampaikan hal itu kepada anaknya.


Menurut psikolog Sani B. Hermawan, seharusnya mengatasi masalah kelebihan berat badan pada anak diawali dengan pemahaman dulu. Sebab, memang ada anak-anak dengan metabolisme berbeda yang membuat mereka mengalami kelebihan berat badan. "Tapi selama itu tidak mempengaruhi social need mereka, seperti ketika mereka jadi enggan untuk bergaul dengan sesamanya, maka tak jadi masalah," kata psikolog dari Klinik Daya Insani, Jakarta Selatan, ini. Intervensi psikologis akan sangat dibutuhkan oleh anak-anak yang telanjur memiliki citra diri negatif dan bermasalah dalam pergaulan.

Berdasarkan laporan penelitian dari Statistics Canada, obesitas pada anak bisa mengakibatkan masalah psikologis, khususnya yang berusia kurang dari 10 tahun.

Penelitian yang dilakukan dengan sampel anak berusia 10 dan 11 tahun menyimpulkan bahwa anak-anak ini dua kali lebih berisiko memiliki citra diri yang buruk dibanding anak dengan berat badan normal. Penelitian ini dilakukan pada 1994-1995 dan melibatkan 2.879 anak. Anak-anak ini kemudian diwawancarai lagi saat mereka berusia 12, 13, 14, dan 15 tahun.

Peneliti juga menekankan citra diri anak yang kemudian membuat mereka obesitas. "Tapi sebaliknya, karena obesitas-lah mereka jadi punya citra diri yang buruk. Maka kita harus peduli akan masalah obesitas pada anak sedini mungkin," kata Julie Bernier, pemimpin penelitian dari Statistics Canada.

"Lebih parah lagi, anak-anak ini, meski tahu manfaat berolahraga, jadi makin enggan ikut berolahraga, baik karena mereka tak bisa mengikuti dengan mudah, berpikir mereka tidak bisa, maupun mereka jadi terlalu malu untuk melakukannya," kata Dr Glen Berall, pemimpin bagian anak di Rumah Sakit Umum Toronto's North York.

Menurut Sani, sebenarnya orang tua bisa mencegah anak-anak yang kebetulan memiliki kelebihan berat badan ini dari masalah rendahnya citra diri, bahkan jauh sebelum anak mengalami obesitas. "Bantu anak untuk memiliki kepercayaan diri yang kuat. Internal anak dulu yang dijaga," kata dia.

Sani mengingatkan, sambil orang tua membantu anak mengembalikan berat badan anak ke ukuran ideal lewat aktivitas dan perubahan gaya hidup serta pola makan, orang tua juga harus menjaga agar tidak memojokkan anak. "Janganlah memberikan stigma kepada anak, apalagi memojokkan anak karena berat badannya. Perkuat kepercayaan diri anak dengan mendorong anak melakukan kegiatan apa pun yang diminatinya," kata Sani.

Bukan hanya orang tua, lingkungan sekitar tampaknya juga harus mulai berhati-hati dalam menghadapi masalah obesitas. Sebab, berdasarkan penelitian, mereka yang mengalami obesitas tak jarang juga mulai mengalami masalah diskriminasi karena faktor berat badan. Penelitian yang melibatkan 1.500 orang dewasa berusia 25-74 tahun ini disurvei pada 1995 dan dilakukan lagi pada 2005 sebagai bagian dari National Survey of Midlife Development di Amerika Serikat.

Dengan menggunakan pengukuran indeks massa tubuh, peneliti dari Purdue University membandingkan indeks massa tubuh partisipan penelitian dengan persepsi mereka terhadap diskriminasi berat badan. Hasil penelitian ini kemudian diterbitkan dalam jurnal Social Psychology Quarterly.

"Seperti kita duga sebelumnya, ternyata mereka yang kelebihan berat badan memang punya masalah kesehatan lebih besar 10 tahun kemudian. Namun ternyata ada perbedaan antara mereka yang merasa obesitasnya itu menjadi penyebab diskriminasi dan yang tidak," kata Markus H. Schafer, pemimpin penelitian dan mahasiswa doktoral di bidang sosiologi dan gerontologi.

Diskriminasi terjadi pada 11 persen partisipan penelitian yang mengalami obesitas moderat dan 33 persen pada mereka yang sangat obesitas. Kedua kelompok ini mengalami penurunan paling tajam dalam hal kemampuan fungsional untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Misalnya, kemampuan untuk naik tangga dan membawa barang.

"Obesitas adalah isu psikologis. Tapi, ketika orang mulai punya interaksi negatif di dunia sosial mereka--termasuk perasaan terdiskriminasi--ini bisa jadi masalah yang semakin buruk dan berkontribusi pada penurunan kesehatan fisik," kata Schafer. Penelitian ini menyebutkan, banyak orang dengan obesitas yang "Menginternalisasi atau tanpa sadar memasukkan prasangka dan stigma yang mereka rasakan ke dalam diri mereka, dan ini menyebabkan stres, yang sangat mempengaruhi kesehatan mereka."

"Intinya adalah bagaimana keluarga akhirnya bisa menjadi tempat anak untuk menempa kepercayaan dirinya agar tak selalu berfokus pada urusan berat badan. Hargai prestasi anak di bidang apa pun yang diminatinya," kata Sani. Lalu, soal berat badan, pada akhirnya bisa mengikuti.

HEALTHDAYNEWS | VANCOUVERSUN | UTAMI WIDOWATI
sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2011/03/14/Gaya_Hidup/krn.20110314.229654.id.html, akses tgl 15/03/2011

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours