Sirup menjadi salah satu menu pilihan pelepas dahaga saat berbuka puasa. Bicara mengenai sirup, ternyata Surabaya adalah kota pertama di Indonesia yang memiliki pabrik penghasil minuman kental dan manis tersebut.


Siropen Telasih adalah nama merek sirup tersebut. Terkenal sejak 1923, pabrik sirup ini berada di Jalan Mliwis No 5, Kota Surabaya, Jawa Timur. Ini sekaligus satu bukti bahwa saat itu Indonesia masih dijajah bangsa Belanda.

Saat Liputan6.com berkunjung, bukti peninggalan Kolonial Hindia Belanda itu jelas terlihat dari empat pilar penopang bagian depan pabrik rumahan yang tersohor di masanya tersebut. Serta diperkuat dengan aksen bertuliskan Pabrik Limoen J C Van Drongelen & Hellfach.


Hellfach sendiri adalah tempat pembuatan botol kaca di zaman Belanda. "Dulunya tempat ini juga digunakan sebagai pembuatan botol kaca untuk sirup," ucap Menajer PT Moya Kasri Wira Jatim, Laode Muhamad Alvian, kepada Liputan6.com, Kamis 30 Juni 2016.

Menurut Alvian, bangunan pabrik Siropen Telasih berdiri di atas lahan seluas 3.000 meter persegi. Saat memasuki ruangan utama, pengunjung dapat melihat ada meja di sisi kanan yang digunakan sebagai pencuci botol dan sudah dimodifikasi.


Ada pula brankas kuno zaman Belanda yang berdampingan dengan lemari tua, di dalamnya terdapat botol pertama kali Siropen Telasih beredar. Selain itu di atas lemari berkaca itu juga terdapat dua tempat ekstrak bahan sirup.

Sedangkan di sisi sudut kiri ada mini bar yang menyajikan dua varian Siropen Telasih. Yakni, Cap bulan dan Siropen Gourmet.

Aneka Ragam Rasa

Siropen Telasih dengan cap bulan ini adalah ciri khas sirup ini. Yang dikemas dalam botol yang desainnya ekslusif dan klasik. Terdiri dari delapan rasa, di antaranya mawar, coco pandan, leci, melon, jeruk kepruk, dan vanila. Sirup ini dipasarkan seharga Rp 23 ribu hingga 24 ribu.

"Itu bisa didapatkan di modern market lokal, maksudnya itu seperti toko milik per orangan seperti di Bilka (supermarket di Surabaya) salah satunya," tutur Alvian.

Sementara, Siropen Gourmet yang merupakan sirup untuk campuran kopi dipasarkan minimal seharga Rp 85 ribu. "Kalau Gourmet sendiri dijual di modern market mungkin sekitar sampai Rp 100 ribu, contohnya di Papaya, Ranch Market," ujar Alvian.

"Memang produk andalan kami selain Siropen Telasih untuk diminum juga ada Siropen Gourmet yang biasanya digunakan sebagai campuran coffee, cocktail dan mocktail dan aromanya serta bahannya juga dari gula asli tanpa pengawet," Alvian menambahkan.

Selain varian coffee dan soda juga ada hazelnut, caramel, vanila, mocha, rum, iris cream, mojito mint, chocolate, almond, pepermint, dan tiramisu.

Menurut Alvian, perusahaannya saat ini tetap mempertahankan keaslian cara pembuatan sirup tertua di Kota Pahlawan tersebut.

"Proses pembuatan serta mengelola pabrik bukanlah seperti industri yang berkembang pada umumnya saat ini. Teknologi mesin pun masih yang digunakan sangat konvensional," tutur Alvian.

Produk sirup juga menggunakan gula asli, bahkan bahan bakunya hampir tidak ada pengawet. "Sebenarnya yang membuat kami bertahan adalah proses pembuatan dan cara perlakuan bahan baku itu sendiri masih sama, kalau dari segi alat hanya alat bantu," ia menjelaskan.

Secara umum bahan sirup semua sama. "Bedanya hanya di cara memperlakukan bahannya dengan merek lain. Kalau bicara modern atau pabrikasi lebih kepada kecepatan produksinya, tapi bagi kami bukan kapasitas tapi bagaimana menghasilkan produk Itu sendiri sesuai standar sejak tahun 1923 itu," Alvian membeberkan.

Perusahaannya dapat menghasilkan Siropen Telasih rata rata 10 ribu hingga 15 ribu dalam satu bulan. "Dan itu khusus untuk sirup Telasih yang botol kaca," tutur dia.

Konsumsi Hotel, Resto dan Kafe

Boleh dikatakan, pabrik sirup ini mampu bertahan di tengah kemajuan industri. "Terbukti justru banyak hotel, restoran, dan kafe yang memilih (Siropen) sebagai konsumsinya, dan memang sejak dahulu segmentasi kami adalah horeka (hotel, restoran, kafe)," sebut Alvian.

Sekitar 80 persen pangsa pasar terbesar dari produk Siropen Telasih masih berada di wilayah Surabaya. "Dominasinya masih pada hotel, kafe, restoran, ketimbang umum," ia menegaskan.

Sisanya Jatim, dan sementara untuk wilayah luar Jatim baru sebatas melayani pesanan saja. Bagi Alvian, Siropen Telasih ini merupakan salah satu produk heritage Kota Surabaya yang memiliki nilai sejarah dan tradisional tinggi. Sebab, sebelum pabrik ini jatuh ke tangan Indonesia, Siropen Telasih tidak dapat dikonsumsi oleh semua kalangan masyarakat.

Alvian menceritakan, pabrik sirup pertama di Surabaya ini sempat beberapa kali pindah tangan. Pertama pada 1942 setelah Belanda terusir. Hingga akhirnya diambil alih oleh Jepang. Setelah penjajahan Jepang usai, pabrik rumahan ini kembali dikuasai oleh Belanda.

"Hingga terealisasinya program nasionalisasi oleh pemerintah saat itu, pada tahun 1958 diputuskan semua perusahaan milik Belanda yang ada di Indonesia khususnya Surabaya diambil alih oleh Pemerintah Indonesia," tutur Alvian

Tak ada makna tersendiri dari penamaan Siropen Telasih ini. "Maknanya siropen sendiri dari bahasa Belanda yang artinya sirup, sedangkan Telasih sendiri hanya penyebutan saja, setelah diambil pemerintah Indonesia namanya ditambahi Telasih dalam hal ini milik Badan Usaha Milik Negara lalu diserahkan ke BUMD," kata pria asal Pulau Buton tersebut.

Selanjutnya pada 1962, penyebutan pabrik kemudian diserahkan ke Perusahaan Industri Daerah Makanan & Minuman (Pimda Mamim ) Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Seiring berjalannya waktu, tepatnya 2002, pabrik Siropen Telasih masuk dalam PT Pabrik Es Wira Jatim yang merupakan holding company dari PT Panca Wira Usaha Jawa Timur (Wira Jatim).


"Memang sirup ini dulunya hanya bisa dikonsumsi oleh kalangan pedagang maupun saudagar yang saat itu menjadi mitra bisnis Belanda saat penjajahan," Alvian menceritakan.

Sirup ini juga dikonsumsi kalangan menengah ke atas atau tamu kehormatan Belanda saat itu tentunya. "Namun kala itu pribumi kita tidak bisa mencicipi Siropen," tutur Alvian.

Hingga saat ini pun biar kualitas mahal, namun Siropen mindset-nya cenderung mengandalkan bahwa produk impor lebih bagus.

"Mindset produk impor lebih bagus itu yang melekat di Masyarakat saat ini yang masih kurang dipahami," kata Alfian.

Padahal, menurut dia, sumbernya dari Belanda juga. Meskipun standar sirupnya sama.

"Bahkan warga di Belanda sendiri justru juga dijadikan konsumsi sehari-hari di sana, salah satu warga Belanda pernah ke sini untuk memesan Siropen Telasih ini," tutur Alvian.

Artinya keturunan mereka dari JC Van Grongelen, tetap ke sini. "Di sini rasa memiliki keaslian rasa sebuah sirup masih ada dalam jiwa warga Belanda itu sendiri," imbuh dia.

Sekalipun pembuatnya bukan dari tenaga kerja asal Belanda dan juga Siropen saat ini sudah bukan milik mereka lagi, tapi warga Belanda tetap merindukannya.

"Saat Itu sesuatu yang luar biasa, sekitar satu dua tahun yang lalu justru warga Belanda mengakui rasa Siropen Telasih masih asli tak pernah berubah," kata Alvian.

Mengenai penjualan di bulan Ramadan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri, ia tetap berharap Siropen Telasih bukan hanya dilirik warga Jawa Timur.

Bila berkunjung ke Surabaya, sirup merek Siropen Telasih pun sangat mudah ditemukan.

Dhimas Prasaja
sumber : https://www.liputan6.com/regional/read/2544716/cerita-sirup-pertama-di-indonesia-dulu-favorit-orang-belanda?utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.0&utm_referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F, akses tgl 09/09/2019.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours