Budaya makan saat ini dianggap sedang 'sakit'. Saat ini, restoran lebih mengedepankan proses serba cepat dan santai. Dalam pratiknya itu berarti, duduk dalam ketidaknyamanan yang berisik, masuk dan keluar dengan terburu-buru dalam waktu satu jam,  dan pengunjung dikenakan biaya untuk kesenangan.


Beberapa tahun belakangan ini, pengusaha makanan lebih memilih membuka tempat makan yang disebut grill, bar, diner, cervetaria, bodega, kedai, kafe, bistro, pub.

Jadi, peringatan ke 250 tahun kata 'restoran' pada 2015 ini jadi hal penting. Cerita ini sudah begitu sering diulang, tetapi tidak ada yang benar-benar yakin asal-usul kata restoran.

Alkisah, pada 1765, seorang laki-laki dari Paris yang disebut Monsieur Boulanger memunculkan kata 'restaurant' yang secara harfiah berarti restoratives atau sup bergizi, seperti dilansir dari laman Independent.

Lima belas tahun lalu, seorang sejarawan bernama Rebecca Spang mengecam cerita tersebut, mengatakan itu sebagai fiksi. Dia tidak menemukan jika Boulanger benar-benar ada. Tetap saja, banyak kandidat lain mengklaim sebagai ayah dari kelahiran restoran pertama.

Spang punya versinya sendiri. Menurutnya, Roze de Chantoiseau yang pertama kali membuat usaha restoran, menurut sebuah arsip sejarah, di rue Saint-Honore pada 1773.

Secara pribadi saya mengandalkan informasi dari Jean Brillat-Savarin, yang buku briliannya berjudul Physiologie du Gout (1825) masih jadi referensi untuk semua hal yang berkaitan dengan filsafat makanan.

Brillat-Savarin mengatakan bahwa restoran milik Monsieur Beauvilliers tersebut terletak di rue de Richelieu pada 1782, dan bernama La Grande Taverne de Londres.

“Sampai akhir 1770,” Brillat-Savarin melanjutkan, “Beauvillier memiliki resep yang cerdas, pilihan anggur, lingkungan yang elegan, juga makanan yang dapat diandalkan.”

Ini adalah pertama kalinya pihak ketiga memberikan rancangan total dan pengalaman pelayanan kepada konsumen. Pada 1789 Revolusi pecah di Paris, dengan para majikan restoran yang dipenggal kepalanya.

Karena sejarah ini restoran di era apapun mengungkapkan kesibukan bermain menciptakan hidangan kontemporer. Kata 'rasa' dihubungkan antara sensasi mulut dengan budaya.

Pada hari Brillat-Savarin,  restoran Paris populer Les Freres Provencaux menawarkan 12 sup, 24 kudapan hors d'oeuvres, 110 makanan pembuka, 24 ikan, 12 jenis patry, 15 jenis roti, 50 lauk dan 50 makanan penutup. Sebuah formalitas estetika menyertai hidangan tersebut.

Windratie
sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150515114253-262-53394/di-manakah-restoran-tertua-di-dunia-berasal, akses tgl 10/09/2019.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours