Gemuk ternyata tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan tapi juga bagi lingkungan. Tidak percaya? Sebuah penelitian yang dirilis di International Journal of Epidemiology pada 19 April 2009 menyebutkan orang gemuk berkontribusi dalam percepatan pemanasan global. Kegemukan dengan pemanasan global memang tidak terkait langsung, namun kegemukan memiliki efek domino yang signifikan terhadap meningkatnya temperatur Bumi. 

Penjelasannya, orang yang kelebihan berat badan mengonsumsi kalori 18 persen lebih banyak daripada orang kurus. Kebutuhan kalori orang bertubuh gemuk jelas lebih banyak ketimbang orang kurus. Untuk menopang energi normal, orang gemuk membutuhkan 1.680 kilogram kalori per hari dan 1.280 kilogram kalori untuk aktivitas hariannya. Hal itu menjadikan permintaan pasokan makanan meningkat. Pasokan makanan berkaitan erat dengan produksi bahan makanan yang beberapa di antaranya menerapkan proses produksi kurang ramah lingkungan. Contohnya, industri peternakan yang kerap menghasilkan gas metan, salah satu gas penyebab efek rumah kaca.

Peningkatan produksi makanan akan meningkatkan pula distribusi bahan makanan ke berbagai penjuru daerah. Kegiatan distribusi tidak terlepas dari penggunaan kendaraan yang membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar. Artinya, emisi gas karbondioksida (CO2) yang berasal dari pembakaran kendaraan pengangkut makanan pun bertambah.

Penggunaan bahan bakar berkaitan pula dengan biaya distribusi. Semakin besar jumlah bahan bakar, biaya distribusi pun semakin tinggi. Tidak jarang, peningkatan biaya itu dibebankan kepada konsumen yang "diselipkan" pada harga makanan. Harga makanan pun naik apalagi jika suplai bahan bakar semakin terbatas. Kenaikan harga makanan membuat beberapa daerah miskin tidak mampu membeli makanan.

Selain berasal dari kebutuhan makanan orang gemuk, pemanasan global juga secara tidak langsung berasal dari perilaku sehari-hari orang gemuk. Berdasarkan penelitian, orang gemuk cenderung enggan berjalan jauh atau bersepeda ketika melakukan perjalanan. Mereka pun lebih nyaman berkendara dengan mobil. Perilaku mereka itu berkorelasi terhadap kemungkinan pemborosan bahan bakar secara besar-besaran.

"Masyarakat perlu membalik tren global yang menuju ke arah kegemukan. Mereka juga harus menyadari bahwa menjaga bobot tubuh agar tidak kegemukan menjadi faktor kunci dalam mengurangi emisi karbon dan memperlambat perubahan iklim," jelas Phil Edwards dan Ian Roberts, peneliti dari London School of Hygiene and Tropical Medicine seperti dikutip Reuters.

Para peneliti itu mengasumsikan setiap orang gemuk bertanggung jawab terhadap satu ton emisi CO2 yang diproduksinya. Hal itu disebabkan produksi emisi gas orang gemuk lebih banyak ketimbang orang kurus. Kalkulasinya, 1 miliar orang gemuk akan menambah sekitar 1 miliar ton CO2 setiap tahunnya. Para ahli dari Uni Eropa pun melakukan penelitian serupa. Mereka mengalkulasikan setiap satu penduduk Uni Eropa, memproduksi 11 ton emisi penyebab rumah kaca tiap tahunnya.

Edwards dan Roberts lantas membandingkan dengan kondisi di Vietnam yang notabene sebagai negara dunia ketiga. Vietnam, yang merupakan negara miskin, produksi emisi gas CO2-nya tergolong kecil. Salah satu penyebabnya, disinyalir mereka tidak mampu mengusahakan makanan dalam jumlah besar. Hal itu berkorelasi pula dengan tingkat konsumsi masyarakat Vietnam yang lebih rendah 20 persen dari masyarakat Amerika Serikat (AS) atau Eropa. Di AS maupun Eropa sekitar 40 persen penduduknya mengalami obesitas.

Produksi emisi yang berasal dari bahan bakar kendaraan di Vietnam juga terbilang lebih rendah. Para peneliti mengestimasikan pada satu miliar penduduk yang bertubuh kurus menghasilkan 1 GT (1.000 juta ton) CO2 lebih rendah ketimbang orang gemuk.

Secara umum, di setiap negara di dunia, rata-rata indeks massa tubuh (BMI) meningkat. BMI merupakan suatu pengukuran yang menghubungkan berat badan dengan tinggi badan. Seseorang dikatakan mengalami obesitas jika memiliki nilai BMI sebesar 30 atau lebih. Tercatat, dalam kurun waktu tahun 1994 hingga 2004, rata-rata BMI laki-laki di Inggris meningkat dari 26 ke 27,3. Sedangkan BMI rata-rata perempuan meningkat dari 25,8 ke 26,9. Sebagian orang di Australia, Argentina, Belgia, atau Kanada kini secara meyakinkan semakin gemuk.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksikan peningkatan populasi obesitas di dunia pada 2015 mencapai 700 juta orang dan individu yang kelebihan berat badan sebanyak 2 miliar orang. Namun menurut Edwards, semua masalah itu ada solusinya "Kebijakan transportasi perkotaan yang menganjurkan seseorang untuk lebih sering berjalan dan bersepeda dapat mereduksi permintaan global pada konsumsi bahan bakar," katanya. Penurunan tingkat pemakaian kendaraan bermotor juga turut mengurangi emisi gas CO2.

Kebijakan transportasi dan produksi makanan merupakan aspek yang tidak boleh diabaikan. Meski demikian, menurut Dr David Haslam dari National Obesity Forum, mengambinghitamkan orang gemuk sebagai penyebab pemanasan global tidaklah bijak.

"Sesungguhnya dengan keluarnya studi tersebut bisa menimbulkan aksi diskriminatif pada orang obesitas. Mereka kini jadi target acuan kesalahan karena fisiknya. Padahal, penyebab perubahan iklim dan peningkatan harga makanan lebih kompleks daripada apa yang terpapar," ujar Haslam.

Belakangan, anjuran-anjuran yang mendiskreditkan orang gemuk semakin tinggi. Contohnya, masalah perlunya pengenaan pajak pada mereka saat berkendara dengan mobil pribadi atau angkutan umum. Usulan itu mengacu pada kecenderungan orang gemuk yang menghabiskan bahan bakar lebih cepat ketimbang orang berbobot tubuh normal. Haslam menambahkan kebijakan itu mutlak tidak dapat dilaksanakan. Pasalnya definisi kegemukan yang berlaku pada tiap-tiap orang sangat bervariasi.

Studi itu kemudian menjadi tidak relevan apabila menilik dari sudut genetika. Sebagian orang secara genetis cenderung berbobot lebih besar dari orang lainnya. Kelly Brownell, Direktur University Rudd Center for Food Policy and Obesity mengatakan stigma yang menuding orang gemuk berkontribusi terhadap perubahan iklim tidak dapat dibenarkan. Hal itu seperti menafikan penyebab fundamental lain yang lebih berat. Sebagai contoh, penjualan junk food atau makanan cepat saji kepada anak kecil dan pengabaian program kesehatan di sekolah. Kedua hal itu sebenarnya lebih krusial daripada langsung menyalahkan orang gemuk.

"Bila menyalahkan konsumsi berlebih orang gemuk hingga menyebabkan harga-harga makanan naik, lalu bagaimana dengan orang kurus yang memiliki proses metabolisme boros. Orang dengan kategori ini dapat memakan apa saja yang mereka inginkan dan tetap kurus," tutur Brownell.

Sementara itu Rosie Mestel, peneliti genetika dan penulis di Los Angeles Times memaparkan siapa pun yang mengonsumsi makanan yang bukan dari halamannya sendiri berkontribusi pada pemanasan global. Sebagai contoh, biaya distribusi sayuran yang akan dijual ke supermarket New England dari California atau Meksiko sangat signifikan. Jika seseorang kelebihan berat badan 20 persen dari berat normal, maka 20 persen makanan didistribusikan kepada 30 hingga 40 persen populasi yang obesitas.

Pemakan daging juga bisa disalahkan atas kontribusinya pada pemanasan global. "Coba pertimbangkan biaya produksi dan transportasi untuk mengantarkan daging ke pasar. Ini menjelaskan pemakan daging lebih signifikan dalam mempercepat proses pemanasan global," ujar Mestel. (hag/L-2)

sumber : http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=6258, akses tgl 07/09/2010.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours