MASALAH gizi yang sebagian besar terjadi pada balita dan anak-anak memasuki babak yang mengerikan saat ini. Beberapa daerah di Indonesia masih memiliki angka gizi buruk yang tinggi, salah satunya Kabupaten Asmat, Papua.


Berbagai faktor yang bisa menimbulkan masalah gizi pada anak-anak, salah satunya ialah kurangnya pengetahuan orangtua terhadap kecukupan gizi anak. Padahal, orangtua menjadi dua orang terdekat anak yang berperan sebagai penyedia makanan bergizi seimbang bagi anak di rumah.

“Di sini peran keluarga sangat penting, terjadinya gizi buruk berawal dari keluarga yang tidak bisa mencukupi kebutuhan gizi bagi anak-anaknya. Akibatnya bisa memunculkan stunting yang tidak bisa dihindarkan,” ucap Dr.Mursidah Thahir dari PP. Muslimat Nahdatul Ulama (NU) dan anggota komisi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam pemaparannya diacara Peringatan Hari Gizi Nasional 2018, Jakarta, Selasa (23/1/2018).

Dalam Agama Islam pula ada sebuah ayat dalam Alquran yang menjelaskan kewajiban umat Islam untuk takut pada Allah dan larangan untuk meninggalkan anak-anak dalam keadaan lemah. Ayat tersebut tertuang dalam Surat An-Nisa ayat 9 seperti yang tertulis di bawah ini.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ
وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya:
Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.

Serupa dengan Dr.Mursidah Thahir, Prof. Dr. Dodik Briawan MCN, seorang pengajar dan peneliti Departemen Gizi Masyarakat, FEMA IPB menyampaikan dalam pemaparannya, intervensi gizi perlu dilakukan dalam bentuk edukasi pada masyarakat khususnya para orangtua secara berkesinambungan. Ia juga mengatakan orangtua harus paham kebutuhan nutrisi anak-anaknya sejak dalam kandungan.

“Orangtua harus paham betul kebutuhan nutrisi anak, makanan yang baik dan tidak baik, tidak terpengaruh gaya hidup yang serba instan serta iklan-iklan produk makanan anak yang kadang menjanjikan hal yang berlebihan,” jelasnya.

Selain Dodik, Dr. Damayanti Rusli S, SpAK, Phd, dokter anggota UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik PP IDAI, menjelaskan buruknya asupan gizi yang dialami bayi sejak dalam kandungan hingga berumur dua tahun bisa menyebabkan stunting atau badan terlalu pendek pada balita, rendahnya tingkat kecerdasan anak, hingga peluang kerjanya lebih kecil.

Untuk itu, orangtua harus memenuhi gizi seimbang mulai dari masa hamil hingga anak berusia 2 tahun setelah lahir. Pasalnya, investasi gizi pada 1000 hari pertama kehidupan merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar.

“Permasalahan gizi tidak hanya akan mengganggu perkembangan fisik dan mengancam kesehatan anak, tapi juga dapat menyebabkan kemiskinan. Pertumbuhan otak anak yang kurang gizi tidak akan optimal sehingga akan berpengaruh pada kecerdasannya di masa depan. Dengan demikian, peluang kerja dan mendapatkan penghasilan lebih kecil pada anak stunting,” tandas Dr. Damayanti.

Annisa Aprilia
sumber : https://lifestyle.okezone.com/read/2018/01/23/481/1849083/kewajiban-orangtua-memenuhi-gizi-anak-menurut-para-ahli-dan-alquran, akses tgl 15/09/2019.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours