Daging apa saja yang dimakan orang Jawa kuno?

Ayam dan Babi dalam relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur.

Jamuan mereka sering kali sangat bersahaja, terdiri dari domba, kambing, atau seperempat sapi dan kerbau panggang. Dengan itu mereka mengadakan pesta besar-besaran.

Nasi ditumpuk begitu tinggi, setinggi bahu orang yang duduk bersila. Ayam dan unggas panggang, serta berbagai jenis makanan kering dari daging lembu, ditumpuk sebanyak-banyaknya, di mana-mana. Seolah itu merupakan pemborosan yang nista.

Namun tidaklah demikian. Begitu raja dan kaum bangsawan selesai makan, sisanya dipindahkan bersama tikarnya. Lalu diberikan semuanya kepada para pelayan raja. Bagi kaum bangsawan, jika ada yang tersisa, mereka membawanya pulang untuk dinikmati bersama anak-anak mereka atas tanggungan raja.

Begitulah kebiasaan dalam jamuan besar di Jawa sebagaimana dicatat Van Goens pada 1656. Duta VOC dari Batavia itu beberapa kali berkunjung ke Keraton Mataram di bawah Amangkurat I (1645-1677).

Dalam acara semacam itulah rakyat bisa makan daging. Seperti disebut Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin, penyediaan daging yang nampak berlebihan seperti ini bukan hanya menjadi ajang pamer kebesaran penguasa. Itu juga cara membagi-bagi persediaan daging yang terbatas kepada rakyat.

Ma Huan, penerjemah resmi yang mendampingi Laksamana Cheng Ho, terkejut dengan kebiasaan makan orang di Nusantara, khsususnya di Jawa. Dalam Yingya Shenglan, dia tercengang melihat makanan orang Jawa ketika datang pada awal abad ke-15. “Makanan penduduk sangat kotor dan buruk, contohnya ular, semut, dan semua jenis serangga serta cacing, mereka panaskan sebentar di atas api dan langsung dimakan,” katanya.

Di luar itu, rakyat jelata biasanya lebih sering makan ikan, baik tawar maupun laut, karena mudah didapat. “Ikan ini kelihatannya agak tersebar di berbagai tempat dan dengan demikian dapat dinikmati oleh orang kaya maupun miskin, priyayi, atau rakyat jelata,” jelas Reid.

Pada masa yang lebih kuno, raja juga punya kebiasaan menjamu rakyatnya makan beragam daging hewan dalam sebuah pesta, biasanya penetapan desa perdikan. Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, mengatakan daging dan ikan dibedakan tegas dengan istilah serapan dari bahasa Sanskreta, yaitu mamsa untuk daging dan matsya untuk ikan.

Kakawin Nagarakrtagama mencatat jenis daging yang dihidangkan di Keraton Majapahit. Ada daging domba, kerbau, ayam, babi liar, lebah, ikan, dan bebek. Dijelaskan pula sederetan daging yang tidak dihidangkan kepada orang-orang yang taat pantangan Hindu, meskipun itu banyak digemari oleh rakyat biasa.

“Kodok, cacing, penyu, tikus, anjing, alangkah banyaknya orang yang menggemari daging-daging ini mereka dibanjiri daging-daging ini, sehingga mereka tampak sangat senang,” tulis Mpu Prapanca.

Berbagai daging yang sering dikonsumsi juga disebutkan dalam beberapa prasasti. Di antaranya babi ternak (celeng), babi hutan (wok), kerbau (kbo/hadangan), kijang (kidang), kambing (wdus), sapi (sapi), kera (wrai), serta dikenal juga kalong (kaluang).

Adapun yang masuk kategori unggas adalah bebek (andah), sejenis burung (alap-alap), angsa (angsa), ayam (ayam) dan telur (hanttrini), kemungkinan telur ayam.

“Mengingat ayam sudah dijinakkan sejak masa bercocok tanam, dan penggambarannya dapat dilihat pada relief Karmawibhangga (di kaki Candi Borobudur, red.),” tulis Kresno Yulianto Sukardi, arkeolog Universitas Indonesia, dalam makalahnya “Sumber Daya Pangan Pada Masyarakat Jawa Kuno: Data Arkeologi-Sejarah Abad IX-X Masehi”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV.

Seseorang tengah berburu burung dengan alat sumpit dalam relief Karmawibhangga.

Dalam panil relief yang sama digambarkan juga babi. Pada masa itu mungkin sudah diternakkan. Pasalnya berbagai jenis babi memang sudah ditemukan di hutan-hutan Asia Tenggara selama ribuan tahun, bahkan diternakkan paling tidak sejak 3000 tahun SM.

Ketersediaan Daging

Babi termasuk dalam daging yang paling banyak tersedia selain ayam dan kerbau. Kata Reid, babi adalah pengalih yang paling efisien dari padi-padian ke daging. Ia merupakan sumber utama daging di daerah di mana Islam belum masuk.

Sementara kerbau, meski banyak peternak cenderung enggan menyembelihnya karena lebih berharga sebagai hewan pembajak. “Kerbau yang lebih kuat ada di mana-mana tapi tingkat reproduksinya yang lambat, satu atau lebih anak tiap tiga tahun atau lebih,” jelas Reid.

Baik kerbau, kambing, maupun unggas, seperti itik sudah sejak lama telah diternakkan secara sungguh-sungguh. Hal ini dapat diduga berdasarkan Prasasti Sangsang (829 Saka/907 M). Isinya antara lain menyebutkan batas jumlah hewan yang tidak dikenai pajak bila dijual dalam wilayah sima: 20 kerbau, 40 sapi, 80 kambing, dan itik satu wantayan.

Soal perdagangan hewan juga tertulis dalam Prasasti Kubu Kubu (827 Saka/905 M). Selain kerbau, kambing, sapi, dan itik, ayam termasuk hewan yang dijual. “Hewan ini barangkali sengaja dijual untuk dimakan atau dipelihara oleh masyarakat pada masa itu,” jelas Kresno.

Orang sedang menyembelih kambing dalam relief Karmawibhangga.

Bukan cuma hewan yang masih hidup yang diperdagangkan. Arkeolog Titi Surti Nastiti dalam Pasar di Jawa Masa Mataram Kuno Abad VIII-XI Masehi menemukan kata hajagal dalam prasasti dan naskah. Itu merujuk pada pemotong hewan ternak atau tukang jagal.

“Sangat mungkin pada masa Mataram Kuno, selain hewan ternak telah dijual pula daging secara eceran,” lanjutnya.

Lagi-lagi, pembelinya tak sembarangan. Mengingat sampai masa kini pun, bagi penduduk desa daging masih merupakan makanan mewah untuk dikonsumsi sehari-hari. “Mereka mengkonsumsi daging hanya pada hari-hari besar seperti hari raya atau bila ada yang berkenduri,” kata Titi.

Oleh Risa Herdahita Putri
Sumber: https://historia.id/kuno/articles/makan-daging-masa-jawa-kuno-PyRY2, akses tgl 16/09/2019.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours