Secara sederhana, suntik vitamin C adalah memasukkan cairan mengandung vitamin C ke dalam tubuh seseorang dalam dosis dan atas indikasi masalah kesehatan tertentu. Keuntungan dengan cara suntik efeknya lebih cepat, karena langsung masuk ke pembuluh darah sehingga proses regenerasi sel-sel baru lebih cepat. Terutama karena asam ascorbate— yang besar khasiatnya bagi tubuh dan kulit—tidak hilang, juga tidak terjadi iritasi lambung seperti pada terapi vitamin C secara oral.


Dosis yang dipakai untuk suntikan vitamin C adalah 1000 miligram, dan dilakukan oleh mereka yang berkompeten di bidangnya. Sedangkan mengonsumsi vitamin C secara oral (minum) biasanya untuk tambahan asupan gizi sehari-hari dengan dosis yang bervariasi, tergantung usia, kondisi tubuh, aktivitas dan juga lingkungan. Suplemen vitamin C ini, secara mudah masyarakat umum bisa mendapatkannya di banyak tempat dan dijual bebas.

Inilah yang menjadi salah satu pendorong gagasan dan minat untuk memperoleh asupan vitamin C—utamanya untuk kulit/kecantikan bagi sekelompok orang— lewat cara yang lebih praktis. Menurut Pengamat Kesehatan Masyarakat (Kesmas) dari Universitas Diponegoro (Undip) Priyadi Nugraha, suntik vitamin C mempunyai efek lebih cepat, karena langsung ke pembuluh darah, sehingga bisa langsung ke sasaran.

“Pada umumnya bisa dibilang aman untuk siapa pun (laki-laki, perempuan, anak-anak, dan orang tua) asal sesuai dengan kebutuhan, serta dibawah pengawasan dokter ahli,” kata dia. Pada umumnya suntik vitamin C tidak memiliki dampak yang negatif alias tidak berbahaya asal dalam pengawasan orang yang ahli di bidangnya. Suntikan vitamin C diperlukan pada mereka dengan beragam kondisi.

Misalnya pada pasien pascabedah atau baru sembuh dari penyakit, gizi buruk, penyakit tertentu, gaya hidup buruk, aktivitas tinggi dan juga sekarang untuk urusan kecantikan pada wanita khususnya yang menginginkan kulitnya lebih cerah dan bersih, bebas jerawat, flek-flek hitam, kulit keriput serta eksem. Suntik vitamin C, kata Priyadi, dihentikan atau tidak, bergantung pada dokter ahli yang menangani, karena sebelum terapi dilakukan, mereka pasti akan meneliti riwayat pasien, melakukan screening atau pemeriksaan medis bahkan wawancara untuk memastikan perawatan yang tepat.

“Karena kemungkinan ada orang yang alergi terhadap vitamin tertentu, terutama vitamin C dan juga memiliki masalah dengan sistem metabolisme, seperti gangguan fungsi ginjal,” imbuhnya. Bagi mereka yang tidak punya masalah kesehatan, pola makan teratur dan bergizi, bergaya hidup sehat, tidak perlu suntik vitamin C. Kebutuhan manusia akan vitamin C bisa dipenuhi melalui makanan, minuman, maupun suplemen yang menguntungkan bagi tubuh, karena vitamin C sangat dibutuhkan terutama untuk imunitas tubuh dan sebagai antioksidan, di samping banyak fungsi yang lain.

Karena tidak disimpan didalam tubuh, maka vitamin C sebaiknya dikonsumsi setiap hari. Buah Segar Berdasarkan penelitian, ada bahan makanan alternatif yang lebih alami untuk mendapatkan asupan vitamin C yang sangat melimpah, yakni pada buah-buahan segar seperti jeruk, strawberry, jambu biji, apel, pisang, anggur, dan juga pepaya. Sedang vitamin C pada sayur-mayur segar melimpah pada brokoli, tomat, kembang kol, kangkung,bayam, paprika, juga kacang polong. Priyadi mengatakan, kebutuhan vitamin C rata-rata untuk orang dewasa berkisar 60 sampai dengan 90 miligram per hari.

Sumber lain mengatakan, kecukupan vitamin C yang layak dalam keseharian sekitar 50 hingga 60 miligram per hari dan itu setara dengan satu buah jeruk. Pustaka lain menyebutkan, kecukupan vitamin C yang ideal sebesar 75 hingga 500 miligram per hari dengan catatan tentunya pada ibu hamil dan ibu menyusui konsumsi vitamin C lebih besar. “Karena selain untuk kebutuhan ibu itu sendiri, juga untuk janin yang dikandungnya.

Pada ibu menyusui kebutuhan vitamin C sangat diperlukan untuk produksi ASI,” terangnya. Aktivitas kita sehari-hari juga turut menyebabkan pemenuhan asupan vitamin C dalam jumlah yang berbeda. Pasien luka bakar, mereka yang pascaoperasi, para perokok, pecandu narkoba atau peminum miras dan olahragawan membutuhkan asupan vitamin C yang besar untuk pemulihan sel-sel dalam tubuh mereka. Bahkan pada laki-laki dewasa bisa mencapai 2000 miligram per hari.

Lingkungan kerja yang menimbulkan stress—seperti Jakarta asupan bisa sampai 500 miligram—dan sebaliknya lingkungan yang bersih atau terpolusi turut menentukan banyak sedikitnya asupan vitamin C. Faktor usia seseorang juga turut menentukan. Jadi kebutuhan akan asupan vitamin C memang bergantung pada banyak faktor seperti kondisi tubuh dan daya tahan masing- masing orang, aktivitas, gaya hidup, dan lingkungan.

Ada anggapan bahwa mengonsumsi 200 miligram per hari sudah cukup. Tapi bagi orang yang tidak hidup dengan stres atau yang tidak sehat, dosis 500 miligram sebenarnya terlalu besar. Angka itu lebih cocok untuk mereka yang tinggal di kota besar yang penuh polusi, seperti Jakarta. Suntik vitamin C dilakukan langsung masuk ke pembuluh darah. Lebih efektif, karena langsung terdistribusi ke organ tubuh, sehingga proses regenerasi sel-sel baru lebih cepat.

Terutama karena asam ascorbate tidak hilang, juga tidak terjadi iritasi lambung seperti pada terapi vitamin C secara oral. “Oleh karena itu penderita maag tetap aman bila melakukan terapi suntik vitamin C. Pada prinsipnya suntik vitamin C akan selalu aman selama dalam pengawasan dokter ahli,” terang Priyadi. Namun, jika dilakukan dalam jangka panjang dan rutin, hal itu bisa menyebabkan batu ginjal karena endapan vitamin C di dalam tubuh memungkinkan adanya kristalisasi.

Dari situlah terbentuk batu ginjal yang bisa menimbulkan penyakit. Namun apabila pengguna cukup minum air putih minimal 1,5 liter per hari atau setara dengan 8 gelas per hari, biasanya hal tersebut tidak terjadi. “Hemat saya, pada penderita batu ginjal janganlah melakukan suntik vitamin C. Namun, sebaiknya mengonsumsi kebutuhan vitamin C dari bahan-bahan alami (buah dan sayuran segar) karena pada umumnya kelebihan vitamin C dari jenis ini tidak mengakibatkan efek samping,” tutup Priyadi.

wvin/L-1 
sumber : http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=71926, akses tgl 06/01/2011

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours