Ketika menikmati kesegaran es krim, kelezatan cokelat, atau kelembutan margarin, sebenarnya kita sedang mengkonsumsi emulsi. Bahan emulsifier sendiri ada yang alamiah atau buatan, dan keduanya tetap patut diwaspadai kehalalannya.


Pada umumnya bahan makanan terdiri dari air yang cukup tinggi, karena pada dasarnya mahkluk hidup di dunia ini mengandung kurang lebih 70% air. Bahkan di dalam biji-hijian kering pun masih terdapat air, apalagi pada produk seperti daging, buah-buahan, dan sayur-sayuran.

Secara alamiah lemak atau minyak juga banyak dikandung dalam makanan dan minuman sehari-hari. Kandungan lemak ini biasanya terdapat pada susu, cokelat, daging, kacang, dan sebagainya. Namun air dan minyak selamanya tidak akan bisa menyatu. Jika dipaksa dicampurkan, maka keduanya akan memisah kembali.

Hal tersebut terjadi karena adanya tingkat polaritas diantara kedua zat tersebut. Dimana air merupakan molekul yang memiliki gugus polar dan minyak memiliki gugus non polar. Tetapi mengapa susu murni yang berasal dari sapi atau kambing bisa menyatu? Itulah yang disebut dengan emulsi, keduanya bisa menyatu karena terdapat bahan pengemulsi (emulsifier) alamiah, berupa protein yang menjembatani keduanya.

Oleh karena itu makanan atau minuman olahan yang terdiri dari lemak/minyak dan air secara bersamaan, maka di dalamnya pasti ada bahan pengemulsi. Nah, bahan pengemulsi inilah yang perlu diwaspadai segi kehalalannya sebab tidak semua pengemulsi itu halal. Kok bisa?

Secara umum bahan pengemulsi dibagi menjadi dua yaitu emulsifier alami dan emulsifier buatan (sintetis). Pengemulsi alami biasanya terbuat dari bahan-bahan alam, seperti biji kedelai, kuning telur, dll. Di dalam biji kedelai misalnya, terdapat minyak yang cukup tinggi disamping air. Keduanya dihubungkan oleh lecithin yang juga terdapat pada biji-bijian dan produk hewani seperti telur dan otak.

Nah, jika lecithin ini berasal dari biji kedelai maka dari segi kehalalan akan lebih aman. Namun, tidak menutup kemungkinan lecithin diekstrak dari bahan lain seperti otak dan telur binatang sehingga kehalalannya harus diwaspadai.

Sedangkan bahan pengemulsi buatan atau sintetis berasal dari rekayasa manusia yaitu lemak yang direkayasa. Untuk sumber lemaknya bisa bermacam-macam ada yang berasal dari minyak bumi (sintetis), lemak nabati, dan lemak hewani. Sumber lemak hewan inilah yang harus diwaspadai termasuk proses pemotongannya.

Oleh karena itu ketika mengkonsumsi produk-produk emulsi, seperti cokelat, margarin, susu bubuk instan, es krim, dsb jangan lupa melihat bahan pengemulsi yang dipakai. Keterangan tersebut biasanya biasanya dapat dilihat pada ingredien bahan pada kemasan produk emulsi atau yang halal sudah tercantum logo halal LPPOM MUI.

( dev / Odi ) 
Sumber :
- LPPOM MUI
- http://www.detikfood.com/read/2010/06/21/175922/1383125/901/mewaspadai-emulsi-pada-makanan, akses tgl 20/11/2010.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours