Generasi micin. Kalimat ini kerap merujuk pada remaja yang memiliki kepribadian negatif. Tak memiliki manfaat dan lemah dalam berpikir.


Istilah ini dinilai tak mendasar. Karena, nyaris tak pernah ditemukan dampak negatif micin bagi kesehatan tubuh manusia. Justru sebaliknya. Monosodium glutamat (MSG) cukup membantu menaikkan selera makan bagi kalangan lansia.

Hal itulah yang diungkapkan ahli gizi, Dr Johanes Chandrawinata, MND, SpGK saat media gathering di PT Ajinomoto, Mlirip, Kecamatan Jetis, Kamis (29/11).

Menurutnya, ia tak pernah menemukan hasil penelitian oleh lembaga kredibel atas penggunaan MSG yang mengganggu kesehatan. ’’Masih banyak pemahaman masyarakat yang tidak benar. Misalnya, MSG dianggap berbahaya dan merusak kesehatan,’’ terangnya.

Pada kenyataannya, selama bertahun-tahun, berbagai studi menyimpulkan bahwa MSG aman. MSG berdasarkan peraturan BPOM dan Kementerian Kesehatan dinyatakan aman dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 33 Tahun 2012.

Dalam aturan itu juga diterangkan, batas asupan harian dalam mengonsumsi MSG yang tak berlebihan. ’’Artinya ini menunjukkan bukan barang berbahaya, serta konsumsinya secukupnya dan sesuai selera,’’ ujarnya.

Menurut Johanes, yang harus dikhawatirkan adalah konsumsi garam, bukan MSG. Seperti kita ketahui, kandungan natrium pada garam bisa mencapai 36 persen. Sedangkan natrium di MSG hanya 12 persen.

’’Konsumsi yang tinggi akan natrium bisa menyebabkan hipertensi,” katanya. Senada ditegaskan Ketua PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeang Mohammad Faqih.

Dikatakan dia, munculnya pemahaman MSG membodohkan, sekadar mitos saja. Karena, informasi tersebut tidak disertai data yang akurat. Masih banyak pemahaman masyarakat atas MSG tidak benar.

Terpisah, Direktur dan Factory Manager PT Ajinomoto Indonesia Yudho Koesbandriyo, menambahkan, Ajinomoto terus melakukan upaya edukasi ke masyarakat untuk mempertahankan pasar.

Karena, tahun ini, pertumbuhan perusahaan yang memproduksi Bahan Tambahan Pangan (BTP), bumbu ekstrak daging sapi dan ayam, tepung bumbu, bumbu siap pakai, saus tiram dan mayonaise itu hanya berkisar 3 persen-4 persen.

Sementara di tahun 2019, pihaknya mentargetkan peningkatan produksi dan pasar yang mencapai 5 hingga 10 persen. ’’Inginnya setinggi-tingginya, tapi melihat situasi ekonomi yang ada, di target tersebut sudah bagus,’’ tambah Yudho.

Untuk mencapai target tersebut, pihaknya melakukan upaya pengembangan pasar ekspor. Saat ini, produk MSG (Monosodium Glutamat) atau yang lebih familiar disebut vetsin Ajinomoto, sekitar 30 hingga 40 persen sudah ekspor.

Ekspor dilakukan melalui PT Ajinex Internasional, yang pabriknya berada satu komplek dengan pabrik Ajinomoto Mojokerto. Negara tujuan ekspor, di antaranya sudah di Jepang, China, Singapura, Korea Selatan, dan negara-negara di Asia Timur lainnya.

Selain itu juga ekspor ke negara-negara timur tengah (middle east), seperti Pakistan, Saudi Arabiya dan lainnya. ’’Selain ekspor MSG, di Timur Tengah kami juga ekspor Masako (ekstrak bumbu daging sapi dan ayam), dan ada bumbu khusus untuk di wilayah sana,’’ pungkas Yudha.

(mj/ron/ris/JPR)
sumber : https://radarmojokerto.jawapos.com/read/2018/11/30/106028/monosodium-glutamat-menaikkan-selera-makan-lansia, akses tgl 02/09/2019.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours