Hari-hari pertama di Seoul saya lalui dengan banyak melakukan pengamatan jeli yang biasanya menimbulkan berbagai macam gejolak perasaan menggelitik. 


Julukan negri ginseng tidak lagi mengena bagi mereka yang telah begitu melesat jauh dengan teknologi--hal yang tanpa digembar-gemborkan secara narsis, sudah dengan sendirinya melekat.

Bahkan, saat negara-negara adikuasa masih menggunakan motif loreng klasik untuk seragam angkatan bersenjata, Korea Selatan telah menggantinya dengan motif loreng digital yang begitu ikonik mirip jutaan mosaik di atas bahan tebal pakaian tentara mereka.

Melampaui Amerika Serikat yang konon menjadi sang ‘penjaga gawang tersembunyi’, para pemakan Kimchi ini begitu dimanjakan oleh teknologi – yang membuat saya berpikir usil, apa jadinya jika tenaga listrik mendadak padam.

Menghadapi alam pun mereka nampak ogah, kemana-mana kipas angin mini selalu berputar kencang dalam genggaman.

Jika di Eropa dan Amerika sambungan internet masih dianggap mahal, bangsa Hankook ini amat royal dengan wi-fi spot, pendatang tidak pernah kesulitan untuk berkomunikasi lintas benua.

Bodoh memutar mobil di parkiran, mereka juga telah menciptakan alat metal pemutar mobil yang ditanam pada lantai car port atau gang tikus.

Saat saya berpeluh berbusa menjelaskan perbedaan antara bedanya kebutuhan kodrat dan kebutuhan budaya di tanah air sendiri, orang-orang di sini nampaknya secara ‘alamiah’ sudah paham.

Boleh petakilan heboh dengan artificial intelligence dan teknologi ultra modern, tapi mereka memelihara tubuh tetap dengan hukum kodrat. Bukan hukum teknologi.

Semua tingkatan generasi masih makan kimchi, masih bangga dengan gochujang yang kerap dihina orang asing sebagai bumbu pedas aneh berbau, karena proses fermentasi yang tidak pernah digantikan dengan cara apa pun.

Sekali pun banyak negara Asia meniru budaya buka baju di layar perak atau layar kaca dan gaya menyanyi versi bule, mereka ini justru menciptakan genre baru. Mulai dari Song-Song couple yang menaklukkan dunia patah hati internasional dengan alur cerita cintanya tanpa kancing baju terbuka, hingga K-pop yang tanpa ampun dijiplak telak oleh wajah Indonesia--melihatnya seakan seperti garpu yang dipakai untuk makan sup.

Indonesia sang zamrud khatulistiwa 

Bukan bermaksud memuji-muji negri orang, yang pasti, justru istilah zamrud khatulistiwa bagi saya membuat Indonesia jauh lebih kelihatan mahal dan majestic dibanding julukan negri mana pun.

Zamrud adalah permata hijau, secara metafor merujuk pada kekayaan bangsa kita, yang begitu subur memberi banyak kekayaan untuk kita semua hidup berkecukupan dan tentu saja: sehat secara alamiah.

Tapi mengapa anjuran makan sayur untuk pasien di kota kecil (apalagi lebih jauh dari kota) bagaikan menyuruh orang menjalankan misi mustahil?

Sebegitu frustrasinya saya, hingga perlu mengajar mereka mencari pusat-pusat kehidupan para ekspatriat--bule-bule yang kebetulan bekerja di sana--karena orang-orang ini pasti tidak mau kehilangan pola makan sehatnya.

Hal yang cukup membuat saya tersinggung sekali pada awalnya: mengapa mereka justru punya ‘toko khusus’ yang isinya begitu banyak pangan sehat, sementara kita merasa gaya jika mengunyah roti dan biskuit?

Merupakan kepusingan yang amat sangat, menghadapi kenyataan bahwa ternyata segala jenis sayur yang bisa tumbuh di tanah air kita akhirnya ditanam, dipanen, dijual untuk permintaan, kepentingan orang asing.

Begitu pula laut yang kaya bukan hanya dengan varietas ikan-ikannya, tapi juga berbagai jenis cumi, udang, teripang--yang malah dilabel sebagai biang kerok kolesterol.

Rupanya itu hanya marketing of fear yang sengaja entah sudah berapa lama dikobarkan, supaya orang asing dengan murah menikmati sumber pangan mewah itu.

Buktinya Jepang sebagai pemakan seafood terbanyak di Asia mempunyai penduduk berumur panjang. Oh ya, tentu udangnya bukan saus mentega dan cuminya bukan digoreng tepung.

Lirikan jijik bangsa kita melihat teripang laut membuat orang lain menyeringai puas, karena mereka bisa beli semurah mungkin, sebaliknya menjual dengan harga ratusan kali lipat di restoran-restoran mewah tempat orang Asia Timur berkumpul.

Bukan hanya soal lezat jika dimasak dengan benar, teripang laut menyimpan sekian banyak nilai nutrisi yang telah ditelaah berbagai jurnal kesehatan, yang bukan dari Indonesia, tentunya.

Bahkan, sudah menjadi komoditi papan atas saat perusahaan suplemen mengolahnya menjadi ‘super food’, yang kembali ke negri kita berupa kapsul dalam kemasan botol dengan label bombastis.

Saat bangsa-bangsa lain berlomba menjadi trend-setter, mengapa justru zamrud khatulistiwa kita menjadi wadah bancakan mereka? Tempat orang berpesta ria menjajakan produk dan kita hanya bengong, kagum atau tanpa kata terpaksa menjadi konsumen.

Mereka bangga dengan kimchi, tapi kita lebih bangga mengunyah produk kedelai bersalut yoghurt dalam kemasan aluminium foil, ketimbang mempromosikan tempe penyet sambal terasi, yang tiap bahan bakunya lebih mendekati bentuk aslinya di alam.

Para Korea ini boleh bangga juga dengan asupan sayur sebanyak 125 kg/kapita/tahun menurut data 2015, sementara Indonesia hanya 33 kg/kapita/tahun sebagai penyandang negri zamrud khatulistiwa. Pernah ketemu gadis-gadis korea bertubuh subur? Tidak, atau tepatnya jarang.

Boleh mereka membual soal jualan kosmetiknya di negri kita, tapi gaya hidup sehari-hari itulah kuncinya.

Bahkan para ahjumma (wanita setengah baya) yang berpinggang lebar lebih sulit ditemukan. Mereka penyuka baju bersiluet pinggang, bukan pemakai blus longgar!

Rasa tercengang saya kian nampak ndeso saat menyaksikan kegilaan orang menyerbu toko besar khusus menjual barang-barang karakter tampilan produk chatting messenger mereka: mulai dari puluhan stiker beruang coklat si Brown, Moon yang mirip manusia salju, Conny si kelinci putih, hingga James si pirang berambut panjang yang ternyata lelaki, amat narsis dan mudah patah arang.

Bukan hanya kreatif, produk pun kelas dunia. Kantung laptop dengan bahan super halus bergambar si Brown, siapa yang tak jatuh hati? Kegagalan mental untuk tetap waras sering ditemui terutama saat masuk toko dengan perut masih lapar.

Jangan sampai kita pun lebih tertarik untuk mengimpor itu semua hanya demi keuntungan tanpa kreativitas, seperti super food yang menemukan pasarnya di Indonesia, karena di negara tempatnya berasal sudah dipertanyakan khasiatnya di tengah gaya hidup yang masih amburadul.

Sudah cukup sampai sekian saja negeri kita jadi lahan pesta bancakan orang asing atau produk budaya asing karena zamrud tetap lebih berkilau, lebih berharga, di tangan orang sendiri, yang paham akan nilainya.

Penulis : DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum.
Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku.
sumber : https://lifestyle.kompas.com/read/2017/07/20/090500720/negeri-pusing-jadi-bancakan-orang-asing?page=all, akses tgl 05/09/2019.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours