Kita tinggal di negri yang teramat unik. Dari sekian banyak kekisruhan politik, kegaduhan ekonomi hingga kengerian penyakit katastropik, wajah-wajah semringah tak peduli mewarnai lembaran kehidupan dari hari ke hari. 


Tak heran jika Indonesia berada di peringkat ke dua teratas dengan pelajar yang paling bahagia di dunia, sekali pun menempati nomor dua dari bawah untuk penilaian kemampuan akademik yang meliputi matematika, sains dan bahasa.

Ada hal yang juga tidak bisa masuk di akal saya, manakala para mahasiswa rumpun kesehatan begitu giras membuat kampanye pangan sehat, tapi mereka mengakui sebagai anak kos tak dapat mengelakkan diri dari gorengan hingga pangan kemasan yang katanya ‘praktis’.

Dari alasan tidak sempat dan tidak mampu mengolah pangan sendiri, hingga konsiderasi budget yang mepet (padahal mereka sesungguhnya belum pernah menghitung dengan cermat untung ruginya mengolah pangan sendiri).

Apa itu pangan ‘ultra proses’? Sama sekali bukan hal yang asing. Mulai dari roti yang diproduksi masal, berbagai cokelat kemasan, minuman bersoda hingga teh dalam kotak dan botol plastik yang beraneka aroma itu.

Bukan hanya itu, beragam bakso, nugget, mi instan dan sup dalam kantong, lauk beku dalam kotak yang siap dipanaskan, hingga semua jajanan serta minuman yang mengandung gula tinggi baik yang transparan maupun tersembunyi.

Deretan pangan tersebut telah dipublikasikan oleh BBC News tanggal 15 Februari tahun ini, yang membuat pembacanya terpaku sekaligus tercenung.

Tapi, barangkali lewat dari bahasan di negeri kita. Tertimpa oleh iklan yang justru mempromosikan konsumsinya, bahkan menampilkan wajah-wajah meyakinkan sebagai promotor.

Paparan bukan hanya terhadap orang dewasa. Tapi justru mengenai anak-anak, yang nalarnya belum sempurna dengan kemampuan memilih yang belum dapat dipertanggungjawabkan.

Dari jurnal ilmiah yang diterbitkan Oxford, “Children's exposure to food advertising on free-to-air television: an Asia-Pacific perspective” para peneliti mengambil contoh 4 negara: Tiongkok, Malaysia, Korea Selatan dan Indonesia.

Yang amat mencengangkan, anak-anak Indonesia terpapar iklan pangan 3-4 kali lipat lebih tinggi ketimbang tiga negara lainnya, dengan 21 iklan makanan dalam 1 jam tayang televisi.

Sementara orang dewasanya, memperdebatkan siapa yang menjadi presiden, gubernur, bupati atau sekadar menikmati fasilitas khusus sebagai anggota dewan.

Tidak ada satu pun yang menyelamatkan anak-anak ini dari manisnya kematian melalui kenikmatan lidah – setelah sebelumnya didera kemunduran prestasi, obesitas, dan penyakit yang mendera di usia muda.

Data yang amat mengerikan itu pastinya mempunyai latar belakang yang lebih menakutkan di baliknya.

Begitu kuatnya pengaruh dan perombakan total pola makan dan gaya hidup manusia, sudah direncanakan matang oleh pelaku industri dan ritel pangan yang selama sekian puluh tahun mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk ahli gizi.

Tidak lagi mengejutkan. bilamana masih ada beberapa pendapat yang secara berpihak menuduh jurnal kesehatan cenderung membuat orang lompat pada kesimpulan yang menyesatkan.

“Kita masih dalam perjalanan panjang untuk memahami dampak pemrosesan pangan hingga menyebabkan masalah kesehatan, jadi jangan buru-buru, lah!” begitu pendapat Martin Lajous dan Adriana Monge dari National Institute of Public Health di Meksiko.

Sementara Profesor Sanders dari King’s College London membedakan antara roti buatan sendiri di rumah yang disebutnya dengan istilah ‘artisan,’ sementara produk bakeri kenamaan barulah masuk kategori ultra-proses.

Walaupun demikian, produk ultra-proses sudah berkontribusi antara 25-50% total kalori asupan pangan manusia sehari-hari di Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Selandia Baru dan Brasil.

Angkanya bisa jadi lebih besar di Asia Tenggara saat sekarang. 

Produk ultra-proses dijagokan sebagai pangan yang aman dari kontaminasi, praktis, terjangkau dan membuat lidah ketagihan, sebetulnya berasal dari rangkaian proses pengolahan bahan secara fisik, biologis, dan kimiawi.

Jadi amat lucu sebetulnya, bila belakangan ini banyak orang menolak mengonsumsi ‘obat kimia’ dari dokter, tapi jika dilihat sehari-hari asupan makanannya tak jauh dari pangan ultra-proses.

Badan Pengawas Obat dan Makanan akan tertinggal jauh jika masih berkutat dengan sebatas formalin, pewarna makanan dan ‘zat berbahaya lainnya’, tapi belum melirik produk sampingan akibat ultra proses seperti akrilamida, amino-heterosiklik, dan poli-aromatik-hidrokarbon.

Zat-zat tersebut muncul sebagai ekses pangan yang diolah dengan suhu tinggi, yang dikenal dengan reaksi Maillard.

Belum lagi bahan kemasan yang berkontak langsung dengan produk yang akan dimakan.

Bukan hanya tukang jualan makanan pinggir jalan yang menggunakan styrofoam, masih banyak produk pabrik yang diam-diam memakai material sejenis yang juga mengandung bisfenol-A, dengan dampak gangguan hormonal dan risiko kanker.

Masih ditambah adanya ‘food additives’ seperti sodium nitrat dalam daging olahan atau titanium dioksida yang juga potensial menyebabkan kanker.

Sanggahan akan semakin kencang bermunculan saat negara tidak mempunyai pegangan penelitian sahih dalam negri yang tidak punya konflik kepentingan, apalagi jarangnya akademisi bernyali yang berani buka suara.

Justru yang kian santer adalah jumlah korban penyakit degeneratif dan kanker yang dianggap lebih masuk akal sebagai suratan nasib, polusi yang tak terelakkan atau kesialan yang diturunkan dari generasi ke generasi – ketimbang menuduh pangan ultra proses yang terjangkau, praktis, disukai, dan kekinian.

Sayangnya, kesempatan hidup hanyalah sekali. Dan hak setiap warga negara untuk hidup bebas dari keterbelakangan, kebodohan dan miskinnya informasi yang jujur tidak boleh dilangkahi.

Sekali pun dianggap sebagai pelajar yang amat bahagia di seluruh jagad, betapa memalukannya jika siswa kita belajar di sekolah hanya demi lulus ujian.

Hanya di negeri ini barangkali, siswa sibuk ‘belajar soal’, bahkan menghafalkan jawabannya sebelum ujian. Ketimbang mencari pemahaman apa yang tengah dipelajarinya.

Mungkin itu juga metafor bagaimana orang mencari makanan praktis. Bahkan, didapat dengan mudah hanya dengan jangkauan telepon layanan jasa antar. Ketimbang belajar memelihara tubuh, agar masih berfungsi dengan baik saat rezeki mampir untuk dinikmati – bukan mengalir ke praktek dokter.

DR.dr.TAN SHOT YEN,M.HUM.
sumber : https://lifestyle.kompas.com/read/2018/06/30/070500920/pangan-ultra-proses---sukses-ekonomi-berbuah-kematian-dini?page=all, akses tgl 21/08/2019.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours