Dunia kini makin terasa sempit. Bukan karena bumi mengkerut, melainkan karena berdasarkan penelitian saat ini, sedang terjadi proses menuju ledakan jumlah penduduk bertubuh besar. Diperkirakan, lebih dari 100 juta penduduk di dunia menderita obesitas dan jumlahnya terus meningkat cepat. 


Obesitas didefinisikan sebagai kelebihan lemak tubuh berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) standar yang digunakan oleh World Health Organization (WHO) dan International Obesity Task Force. Di banyak negara, banyak pria cenderung mengalami obesitas dengan body mass index (BMI) 25-25,9 kg/m2 dan kaum perempuan mengalami kegemukan hingga obesitas dengan BMI lebih dari 30 kg/m2.

Bagaimana dengan Indonesia. "Indonesia mengalami masalah gizi ganda, di satu sisi mengalami kekurangan gizi, ada pula yang kelebihan gizi yang angkanya meningkat terus, dari kelebihan berat badan hingga obesitas," kata dr. Victor Tambunan, MS, SpGK, dokter Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia Cabang DKI Jakarta (PDGKI Jaya), dalam paparan media tentang keamanan obat antiobesitas di Jakarta, pekan lalu.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Nasional (Riskesdas) 2007, prevalensi obesitas dengan perhitungan indeks massa tubuh (IMT) lebih besar atau sama dengan 30 kg/m2, terdapat pada laki-laki sebesar 9,16 persen dan 11,02 persen pada wanita dewasa. Bila tren berlanjut, kemungkinan besar 40 persen penduduk Indonesia akan mengalami obesitas pada 2025.

Selama ini disepakati bahwa batas normal BMI adalah 18,5-24,9kg/m2. Memang standar IMT punya keterbatasan, yaitu tidak bisa digunakan pada anak-anak dalam masa pertumbuhan, wanita hamil, dan orang yang berotot besar seperti atlet. Namun yang menjadi keprihatinan bukan karena angka atau soal kosmetik, melainkan karena obesitas adalah sumber penyakit.

Kondisi ini kemudian dilihat oleh banyak produsen obat sebagai peluang dengan memproduksi obat antiobesitas. "Memang banyak yang ditawarkan. Tapi yang dibutuhkan masyarakat adalah program penurunan berat badan yang efektif dan aman dengan pendekatan holistik di bawah pengawasan dokter," kata Dr Johannes Chandrawinata, MND, SpGK, ahli gizi dari RS Belinda Bandung.

Umumnya, para dokter gizi akan menyarankan penderita obesitas mengubah gaya hidup, pola makan, dan pilihan obat, jika diperlukan. Tiga pilar menuju berat badan ideal bisa dilakukan oleh pengidap obesitas sendiri. Nah, soal obat, "Kita harus memeriksa riwayat pasien untuk menentukan obat," kata Dr Johannes. Dia mengingatkan seharusnya, obat atau jamu untuk menurunkan berat badan tidak berefek buruk, seperti terlalu sering buang air kecil dan buang air besar, yang menyebabkan gagal ginjal.

Konsumen harusnya mewaspadai berbagai klaim tentang obat obesitas ini. "Karena obat antiobesitas termasuk obat keras yang hanya dapat diperoleh dengan resep dokter di apotik legal dan telah melalui penilaian BPOM, baik dari aspek khasiat, keamanan, dan mutu," kata Dra Endang Woro Tedjowati, MSc, Direktur Penilai Obat dan Produk Biologi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Ia mengingatkan, sebelum mengkonsumsi obat, telitilah informasi produk, brosur yang meliputi indikasi, dosis penggunaan, kontraindikasi, dan efek samping.

Saat ini, telah beredar obat obesitas di pasaran dengan dua jenis cara kerja. Pertama yang bekerja langsung pada saluran pencernaan, sedangkan yang kedua yang bekerja di bagian saraf pusat.

Obat yang bekerja lokal di organ usus, misalnya, Orlistat. Zat aktif ini dapat menghambat 30 persen penyerapan lemak, sehingga mengurangi asupan kalori. Cukup aman bagi pengidap penyakit metabolis dan kardiovaskular. "Karena ada kemungkinan menghambat penyerapan vitamin yang larut dalam lemak, maka biasanya diberikan suplemen penyerta," kata Johannes.

Untuk obat yang bekerja di saraf pusat, misalnya Diethylpropion yang bekerja dalam jangka pendek dan beredar di Indonesia. Ada lagi Phentermine yang tidak beredar di Indonesia. Obat ini hanya ada di Amerika Serikat. Lalu Rimonabant yang tidak sempat beredar di Indonesia, serta Sibutramine yang bekerja dalam jangka panjang. Sibutramine pernah beredar di Indonesia dan ditarik oleh BPOM sejak Oktober lalu.

BPOM menarik Sibutramine karena berdasarkan studi Sibutramine on Cardiovascular Outcome Trial (SCOUT) menyebutkan, adanya peningkatan risiko kejadian kardiovaskular pada pasien dengan riwayat penyakit kardiovaskular. "Kami mengikuti pihak luar dengan tindakan terberat, yaitu ditarik dari pasaran," kata Endang Woro. Efek Sibutramin yang dilaporkan, di antaranya, mulut kering, insomnia, kepala terasa melayang, konstipasi, nausea, tachycardia, dan palpitasi atau jantung berdebar-debar, hipertensi, berkeringat, dan perubahan rasa.

UTAMI WIDOWATI
sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2010/12/08/brk,20101208-297393,id.html, akses tgl 08/12/2010. 

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours