Dalam sebuah acara reuni salah satu SMA di Jakarta Selatan, Ramon terpana saat melihat sahabat karibnya semasa SMA, Widhi, 44 tahun. "Lho, kok, jadi bunder gitu, sih?" kata Ramon, menunjuk perut Widhi yang membuncit. Ia heran karena sebelumnya Widhi, yang semasa SMA aktif berolahraga karate dan basket, punya tubuh yang lumayan ideal. "Iya, nih, tapi wajarlah," kata Widhi terbahak.


Widhi boleh tak ada masalah dengan perutnya yang membuncit. Padahal tak sedikit penyakit yang bersarang di ukuran lingkar perut yang berukuran besar. Ada beberapa jenis lemak yang bersarang di perut. Pertama adalah lemak subkutan. Ini adalah lemak yang berada di bawah kulit. Ada lagi lemak intramuskular, yaitu lemak yang berada di sekitar otot.

Tapi yang paling perlu diwaspadai adalah lemak visceral atau lemak yang menempel di organ-organ yang berada di dalam perut. "Lemak seperti ini perlu diwaspadai karena sangat berisiko memicu munculnya diabetes melitus tipe 2," kata Prof Dr Sarwono Waspadji, MD, PhD, ahli dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan guru besar di Divisi Metabolisme dan Endokrinologi Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dalam forum Jakarta Diabetes Meeting beberapa waktu lalu di Jakarta.

Dalam sebuah penelitian yang dilaporkan di Annals of Neurology, Mei 2010, dengan meneliti lebih dari 700 orang dewasa, disimpulkan bahwa semakin berat volume lemak visceral--tanpa mempertimbangkan berat keseluruhan--ternyata semakin tinggi risiko seseorang terserang diabetes tipe 2.

Meski lebih akurat dengan alat perhitungan kadar lemak tubuh, ada patokan yang bisa digunakan tiap orang secara manual. Waspadalah jika lingkar perut lebih dari angka 90 sentimeter pada pria dan lebih dari 80 sentimeter pada perempuan. Kita juga bisa melihat dari rasio lingkar pinggang dan pinggul. Waspadalah jika Anda pria dengan rasio lingkar pinggang serta pinggul lebih dari 0,9, dan pada wanita lebih dari 0,85.

Adapun diabetes tipe 2 tak bisa dipandang enteng. Khusus di Jakarta, diperkirakan satu dari enam orang di Jakarta terkena diabetes melitus. Penelitian di Jakarta pada 2006 menyebutkan, 25,4 persen mengalami prediabetes, dan 12,8 persen sudah mengalami diabetes melitus.

Dr Dante Saksono Harbuwono, SpPD, Ketua Panitia Jakarta Diabetes Meeting, yang berlangsung pada pertengahan bulan ini, mengatakan, "Diabetes mengakibatkan berbagai komplikasi, bahkan kematian, di samping beban ekonomi yang tinggi."

Diabetes tipe 2 muncul ketika aktivitas insulin dalam tubuh terganggu, seperti resistensi insulin dan sekresi insulin. Di dalam tubuh, insulin yang diproduksi tidak bekerja dengan efisien, padahal jumlah lebih besar dibutuhkan untuk menekan kadar glukosa.

"Resistensi atau sekresi insulin ini meningkatkan trigliserida dan kolesterol LDL, serta menurunnya HDL. Memudahkan terjadinya pengerasan pembuluh darah, dan berakibat masalah pada pembuluh darah, baik besar maupun kecil," Dr Imam Subekti, SpPD-KEMD, Kepala Divisi Metabolik dan Endokrin Departemen Penyakit Dalam FKUI.

Dalam penelitian terhadap 100 pasien yang diikuti selama 15 tahun hingga rata-rata mereka berusia 55 tahun, terbukti 27 persen terkena serangan jantung, 10 persen terkena stroke, dan 23 pasien terkena retinopati.

Lalu, bagaimana cara mencegah agar perut tak telanjur membuncit? Jawabannya cuma satu. Jagalah gaya hidup sehat Anda. Jagalah indeks massa tubuh tetap pada kisaran 18,5-22,9 kg/m2, dengan mulai lebih selektif terhadap pola makan Anda. Kurangi asupan lemak hingga kurang dari 25 persen dari total kalori harian. Jagalah kadar gula darah dan hindari merokok. Tapi satu hal yang paling penting dilakukan adalah berolahraga. Menyisihkan waktu 30 menit sebanyak 3-4 kali dalam seminggu cukup untuk mengusir lemak perut.

UTAMI WIDOWATI
sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2010/11/29/brk,20101129-295217,id.html, akses tgl 29/11/2010. 

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours