Bagi Anda yang mengonsumsi salah satu produk suplemen atau menggeluti olahraga angkat beban pastinya pernah mendengar tentang fat burner. Fat burner merupakan salah satu suplemen yang klaimnya dapat membakar lemak dalam tubuh. Suplemen ini banyak dikonsumsi oleh individu yang ingin menurunkan berat badan atau untuk sekedar meningkatkan performa.


Senyawa apa saja yang terkandung dalam fat burner? Apa fungsi senyawa tersebut dan bagaimana dampaknya apabila kita konsumsi senyawa tersebut?

Fat burner mengandung zat tertentu yang memiliki fungsi termogenesis. Ada yang mengandung senyawa ephedrine dan non-ephedrine. Senyawa ephedrine dalam fat burner masuk dalam kategori PEDs alias Performance Enhancing Drugs, merupakan obat adiktif yang dilarang oleh International Olympic Committee (IOC).

Ephedrine merupakan bentuk sintetis dari rempah herbal Cina ephedra atau ma huang. Secara biokimia, kerja ephedrine menyerupai amphetamine sehingga dapat mempengaruhi otak dan sistem saraf pusat (sebagai stimulan). Ephederine dapat meningkatkan produksi panas (termogenesis), menurunkan nafsu makan, dan meningkatkan aktifitas fisik. Karena efek tersebut, kebanyakan atlet menggunakan ephedrine untuk meningkatkan aktivitas fisik dan performa neuromuskular.

Menggunakan ephedrine terus menerus untuk meningkatkan performa bukanlah solusi yang tepat. Penelitian menunjukkan bahwa efek fat burner dari ephedrine akan melambat atau berhenti setelah 12 minggu. Mengonsumsi ephedrine secara berlebih juga dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, membuat jantung berdebar, gelisah, insomnia, mual, muntah dan pusing.

Selain fat burner yang mengandung ephedrine, ada juga fat burner yang tergolong non-ephedrine. Fat burner non-ephedrine umumnya mengandung ekstrak teh hijau, ekstrak citrus aurantium, dan ekstrak coleus forskohlii. Citrus aurantium merupakan stimulan lemah yang memiliki sifat kimia menyerupai ephedrine dan kafein. Citrus aurantium mengandung senyawa synephrine yang dapat menurunkan nafsu makan, meningkatkan metabolisme dan peningkatan panas tubuh. Citrus aurantium dalam dosis tinggi dapat meningkatkan tekanan darah dan gangguan jantung.

Zat lainnya yang terkandung dalam fat burner non-ephedrine adalah ekstrak teh hijau. Ekstrak teh hijau mengandung epigallocatechin gallate (EGCG) dan flavanol yang berfungsi sebagai antioksidan kuat. Selain itu Ekstrak teh hijau juga dapat meningkatkan thermogenesis, pengeluaran kalori dan menurunkan berat badan. Menurut penelitian oksidasi lemak tubuh akan meningkat apabila mengonsumsi teh hijau ± 6 cangkir (setara 100-300 mg EGCG).

Coleus forskohlii mengandung forskolin yang dapat meningkatkan aktivitas adenyl cyclase dan meningkatkan cAMP (cyclic adenosine monophosphate) dalam sel lemak. Hal tersebut secara tidak langsung memicu aktivitas enzim pemecah lemak, sehingga pembakaran lemak sebagai energi akan meningkat.

Menurut penelitian, efek dari fat burner non-ephedrine relatif kecil atau tidak ada. Hal ini dikarenakan kandungan senyawa dalam fat burner tersebut terlalu rendah sehingga belum bisa memberikan manfaat yang signifikan dalam mengurangi lemak, khususnya menurunkan berat badan.

Mengonsumsi makanan yang tepat dan berolahraga dengan benar akan menghasilkan penurunan berat badan yang lebih baik dan dapat bertahan dalam jangka panjang serta minim efek samping.

Kontributor: Anisyah Citra
Sumber : 
- Bean, Anita. 2009. Sport nutrition the complete guide 6th edition. London: A & C Black
- https://www.apki.or.id/fat-burner-perlu-kah/, akses tgl 30/10/2019.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours