Ads (728x90)

Ada jenis makanan yang sebenarnya halal dikonsumsi, tetapi tidak memenuhi unsur tayib yang diperintahkan agama. Ketentuan pentingnya tayib dalam makanan sebagaimana termaktub dalam ayat, “Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 168).


Lantaran tidak terpenuhi unsur tersebut, makanan itu tidak boleh dikonsumsi. Mengonsumsi makanan itu bisa menyebabkan bahaya bagi kesehatan tubuh. Salah satu faktor eksternal yang memengaruhi makanan atau minuman tak laik menjadi asupan tubuh ialah keberadaan alkohol.

Menikmati teh manis di pagi hari, memang nikmat. Tapi, kenikmatan itu bisa berbuah keharaman, bila minuman alami itu telah bercampur dengan unsur yang diharamkan. Misalnya, kasus yang terjadi dengan teh yang dicampur dengan jamur Manchuria. Jamur tersebut dicampurkan ke dalam teh untuk memunculkan cita rasa istimewa.

Selain itu, penggunaan jamur tersebut diyakini bisa menyembuhkan sejumlah penyakit. Proses pencampurannya dilakukan selama kurang lebih tujuh hari. Dalam buku Tanya Jawab Soal Halal, pakar pangan IPB, Dr Anton Apriyantono, menyarankan agar menghindari jamur sejenis Manchuria tersebut sebagai bahan campuran meminum teh.

Apalagi, bila prosesnya dilakukan dalam jangka panjang. Dalam kasus Teh Manchuria, misalnya. Hal ini mengingat fermentasinya memerlukan waktu tujuh hari dengan substrat teh manis. “Proses semacam ini akan menyebabkan rawan terjadinya fermentasi alkohol. Dalam kurun waktu tersebut, kadar alkoholnya bisa jadi mencapai satu persen lebih,” paparnya.

Menurut Anton, jika teh manis (tanpa ada usaha penurunan pH) dalam kondisi terbuka dan ditumbuhi jamur, besar kemungkinan akan terjadi fermentasi alkohol. Bisa berasal dari jamur yang ditambahkan ataupun yeast yang berada di lingkungan. Hal ini bisa dianologikan dengan proses pembuatan teh cider. Dalam prosesnya, teh bergula ditambah dengan starter yang mengandung bakteri asetat dan yeast sehingga teh cider yang terbentuk di samping mengandung asam asetat juga alkohol.

Demikian halnya dengan pembuatan Kombucha tea. Prosesnya juga melibatkan bakteri yang sama. Kadar alkohol cider dapat mencapai 5.86 persen. Berdasarkan hasil pengukuran kadar alkohol Kombucha tea yang pernah dilakukan, ia mendapatkan kesimpulan bahwa setelah dua hari fermentasi kadar alkoholnya mencapai satu persen. “Jumlah itu semakin lama semakin meningkat,” kata Anton.

Oleh karena itu, ia mengingatkan agar melihat kadar alkoholnya saat hendak membeli teh. Tak terkecuali teh jamur sebagaimana kasus Teh Manchuria. Penting pula mengetahui proses pembuatannya agar terhindar dari mengonsumsi zat yang diharamkan. Sebagai identifikasi awal, terdapat atau tidakkah unsur alkohol di dalamnya, dapat ditandai melalui bau alkohol. Aroma alkohol adalah ciri paling jelas.

Rep: Nashih Nashrullah/ Red: Chairul Akhmad
sumber : https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/06/19/m5ufhe-halalan-thayyiban-titik-kritis-teh-jamur, akses tgl 13/11/2019.

Posting Komentar

Blogger