Pada 29 November 2018 situs CNN Travel merilis sebuah hasil poling bertajuk “50 of the world’s best desserts”. Dalam rilisnya itu, CNN menyebut bahwa cendol berasal dari Singapura. Kontan para netizen dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia bereaksi dengan melakukan aksi saling mengklaim cendol sebagai miliknya.


Memang, tidak ada yang patut disalahkan dari aksi saling klaim cendol antarnegara jiran. Tapi juga tidak ada yang patut dibenarkan perihal siapa paling berhak mendaku cendol sebagai miliknya, mengingat toh minuman sejenis ini tersebar di berbagai negara Asia Tenggara dengan beragam nama namun rasanya cukup identik, mulai dari nama cendol yang digunakan di Indonesia, Malaysia, dan Singapura; bánh lọt di Vietnam, lot chong di Thailand, dan mont let saung di Myanmar. Keserupaan rasa mungkin tercipta mengingat tepung beras, santan, dan gula aren sebagai bahan cendol adalah bahan makanan khas yang pokok dikonsumsi di Asia Tenggara.

Meski terkesan sebagai identitas kuliner bersama, tapi secara historis dari mana asal mula cendol sendiri? Tidak ada bukti sejarah yang pasti perihal dari mana muasal dan sejak kapan cendol ada. Meski begitu, jejak cendol berkerabat erat dengan dawet, minuman yang juga berbahan campuran gula aren, santan, dan tepung beras. Dawet sendiri adalah minuman khas Jawa Tengah; dan salah satu yang terkemuka dalam kuliner Indonesia adalah dawet ayu dari wilayah Banjarnegara.

Arkeolog Timbul Haryono dalam hasil penelitiannya Inventarisasi Makanan dan Minuman dalam Sumber-Sumber Arkeologi Tertulis (1997), menemukan kata dawet dalam Kakawin Kresnayana karya Mpu Triguna dari masa Kerajaan Kediri yang ditulis sekira 1104 M. Dalam pupuh 51 bait 24 dalam kakawin itu tertulis: “gajah waŋkaynya… anarasah/dawet lwirnyatumpuk gila-gila kasatan kapanasan.” Adapun arkeolog Belanda H.I.R. Hinzler dalam hasil penelitiannya Eten en drinken in het Oude Java (makanan dan  minuman di Jawa Kuna, 2005) menerjemahkan teks itu dalam kalimat Belanda: “olifanten worden vergeleken met droge dawet balletjes” (gajah-gajah ibarat gumpalan dawet panas). Hal menarik dari kalimat itu adalah gajah tunggangan dalam medan perang antara Kresna dan Rukma yang diumpamakan seperti gumpalan dawet. Tersirat pada masa kuna tepung beras sebagai bahan dawet diolah menjadi gumpalan besar, sebagaimana Hinzler mendefinisikan dawet dengan “kokos-meelballetjes drank” (minuman santan dengan bola-bola tepung). Untuk membayangkan apa yang didefinisikannya, Hinzler lantas merekonstruksi bahan-bahan dawet pada masa kuna yang kurang lebih meliputi air, santan, gula, tepung beras, dan daun pandan; serta peralatan untuk membuatnya yaitu alat penyaring dan panci. Adapun resepnya direkonstruksi sebagai berikut:

maak van het rijstemeel, het zout, eventueel van een beetje suiker en van uitgeknepen pandan sap een deeg. Breng water in een pan aan de kook. Pers het deeg door de zeed, zodat er kleine bolletjes of sliertjes gevormd worden. Laat de bolletjes of sliertjes in het kokende water gaar worden. Maak een drank van echte kokosmelk, pandan en suiker. Voeg de balletjes toe. Dien koud op.

(Buat adonan dari tepung beras, garam, sedikit gula dan air perasan pandan. Didihkan air dalam wajan. Tekan adonan melalui ayakan/saringan sehingga bola kecil atau irisan-irisan kecil terbentuk. Bola-bola atau irisan-irisan kecil lalu dimasak dalam air mendidih. Buat minuman dari santan, pandan, dan gula. Tambahkan bola-bola [tepung]. Sajikan dalam keadaan dingin)

Selain kata bolletjes (bola-bola), Hinzler juga menggunakan kata sliertjes (irisan-irisan kecil) yang mengindikasikan bahwa tepung beras dapat dibentuk menjadi variasi bola atau irisan kecil. Maka itu kata dawet dimaknai Hinzler dengan: “deze drank is nu ook bekend onder de naam cendol” (minuman ini kini beken dengan nama cendol).

Pernyataan Hinzler mengindikasikan bahwa cendol merupakan turunan dari dawet. Meski kemudian cendol menjadi lebih “beken” dari dawet sebagai “leluhurnya”, namun hingga awal abad ke-19 di Jawa istilah cendol ternyata belumlah beken. Hal itu tampak tersirat dari Serat Centhini, Pustaka Keraton Surakarta yang disusun di bawah pimpinan Adipati Anom Amangkunegara (kemudian menjadi raja dengan gelar Susuhanan Pakubuwana V) sejak 1814 hingga rampung pada 1823. Pustaka keraton berjumlah 12 jilid yang sarat mengandung khasanah kuliner Jawa ini disinggung kata dawet sebanyak dua kali, yaitu pada jilid tujuh pupuh 382 bait 24 – 27 dan jilid sebelas pupuh 663bait 6 – 7. (Sunjata et.al., 2014). Menariknya, dari keseluruhan jilid tidak disebut-sebut kata cendol. Ini mengesankan bahwa pada awal abad ke-19 ketika Serat Centhini disusun, kemungkinan cendol belum muncul sebagai minuman populer di Jawa pada masa itu.

Seorang penjual dawet di Pasar Malang, Jawa Timur circa 1935

Hingga akhir abad ke-19, dawet masih populer sebagai jajanan rakyat yang dijajakan di berbagai wilayah di Jawa. Di pasar-pasar dapat ditemukan penjual dawet dengan tandu melengkungnya serta gentong penyimpan dawet dan mangkuk-mangkuk yang menjadi ciri khasnya. Diaspora orang Jawa yang turut membawa budayanya turut pula membawa dawet ke berbagai wilayah di Hindia hingga luar negeri. Persebarannya bahkan mencapai ke Suriname di Amerika Selatan. Sepanjang tahun 1890 hingga 1939, berlangsung gelombang migrasi orang Jawa yang dikirim oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda untuk dipekerjakan di berbagai perkebunan Suriname. Dalam perkembangannya, para imigran Jawa ini akhirnya berintegrasi menjadi warga negara Suriname yang diakui secara resmi sejak 1975. (Meel, 2011: 95). Proses integrasi ini diikuti pula dengan berintegrasinya budaya Jawa di Suriname, sebagaimana diungkapkan oleh Faber & van Binnendijk dalam Sranan: Cultuur in Suriname (Sranan: Budaya di Suriname, 1992):

Er zijn vele andere Javaanse elementen die deel zijn gaan uitmaken van de algemene Surinaamse cultuur. Het meest in het oog springend is de bijdrage van de Javaanse keuken: welke Surinamer kent niet bami, nasi, télo (gebakken cassave), pitjil (sort gado-gado) of dawet (kokosdrank)? Daarnaast hebben de Javanen diverse planten, vruchten en kruiden geïntroduceerd die nu Surinaams gemeengoed zijn geworden

Terjemahan:

“Ada banyak unsur Jawa lainnya yang telah menjadi bagian dari budaya umum masyarakat Suriname. Hal yang paling mencolok adalah kontribusi masakan Jawa: siapa sih orang Suriname yang tidak tahu mie, nasi, télo (goreng singkong), pitjil [semacam gado-gado –maksudnya pecel] atau dawet (minuman kelapa)? Selain itu, orang Jawa telah memperkenalkan berbagai tanaman, buah-buahan dan herbal yang kini telah menjadi bagian dari budaya Suriname”

Pada kenyataannya hingga kini dawet telah menjadi bagian dari budaya kuliner di Suriname. Ini menunjukkan bukti betapa orang-orang Jawa tidak dapat melepaskan selera dirinya dari kuliner “kampung halamannya”. Kemampuan adaptifnya di manapun mereka berada memungkinkan dawet (dan kuliner Jawa lainnya) berdiaspora menembus batas-batas geografis. Jadi jika Hinzler menyatakan bahwa dawet kemudian beken dengan nama cendol tidaklah keliru mengingat cendol merupakan transformasi dari dawet. Meski penamaannya berbeda, namun keduanya memiliki bahan dan rasa yang nyaris sama. Transformasi ini tampaknya tidak dapat dipisahkan dari kreativitas orang-orang Jawa dalam memodifikasi dawet menjadi cendol dengan pertimbangan lebih menarik dan unik (suatu hal yang sangat umum dilakukan dalam seni kuliner, kapanpun dan di manapun).

Jika dawet adalah leluhur cendol, lantas mengapa cendol “berpisah” nama dari leluhurnya? Tampaknya ini bermula dari kreativitas para leluhur di Jawa pada masa lalu ketika menciptakan alat ayakan bambu untuk mengayak tepung hingga membentuk gumpalan (cendol) mungil panjang. Dalam buku masak De Indische tafel (hidangan Pribumi) karya J. Braam (1933) ditampilkan wujud tjendol-zeef (ayakan cendol) disertai petunjuk bagi pembacanya cara menggunakan alat ini untuk mencetak cendol.

Tjendol-zeef (ayakan cendol) no. C dalam buku Indische tafel karya J. Braam (1938)

Bukti bahwa cendol juga merupakan transformasi dari dawet, terbaca dari berbagai literatur kolonial seperti kamus, buku masak, hingga karya sastra. Cendol sendiri mulai menjadi bagian dari kosakata populer di lingkungan masyarakat kolonial sejak masa awal abad ke-20.  Dalam bahasa Pecuk (bahasa campuran Belanda, Melayu, dan Jawa pada masa kolonial) kata cendol bahkan disinonimkan dengan dawet. Sebuah kamus Pecuk susunan Fred S. Loen (1994), Petjoh Indisch woordenboek, memuat entri “dawet (tjendol): stroopje van Javaanse suiker en santen met daarin stukjes maizenapudding” (dawet [cendol]: minuman manis dari bahan gula Jawa dan santen dengan potongan puding maizena).

Dari segi kata kiranya sudah jelas keterkaitan erat antara cendol dengan dawet. Namun yang agak ganjil dari apa yang didefinisikan Loen adalah penyebutan tepung maizena (tepung jagung) sebagai bahan dawet, mengingat bahan yang lazim digunakan di Jawa adalah tepung beras. Namun pada kenyataannya bukan cuma tepung maizena, tepung sagu pun bisa dipakai sebagai alternatif membuat cendol. Hal itu misalnya tertulis dalam kamus Melayu – Belanda, Maleisch-Nederlandsch woordenboek (1916) susunan H.C. Klinkert yang mengartikan tjendol sebagai “drank of dünne brij, bestaande uit gekookte sago door een zeef gedrukt en vermengd met kokosmelk, suiker en een weinig zout” (sejenis minuman atau butiran bubur, terbuat dari sagu matang yang ditekan menggunakan saringan serta dicampur dengan santan, gula dan sedikit garam). Dalam kamus Melayu lainnya, seperti karya A.A. Fokker, Miniatuur Maleisch woordenboek (1900) dan Ph. S. van Ronkel, Maleisch Woordenboek (1918) disebutkan pula sagu sebagai bahan cendol. Ini menandakan tepung sagu adalah bahan yang masa itu umum dipakai di kawasan Melayu, berbeda halnya dengan di Jawa yang umum menggunakan tepung beras.

Itu dari segi bahan. Adapun secara terminologis, kata cendol juga menarik ditelisik maknanya. Dalam kamus pedoman bahasa Jawa – Belanda, Javaans – Nederlands handwoordenboek (1938) susunan Th. Pigeaud, tjèndol diartikan: “klonter (suikerpalmmerg); dikke stroop m klonters” (gumpalan [sumsum aren]; sirup kental dengan gumpalan). Arti cendol dalam kamus ini lebih ditekankan sebagai kata bentuk (gumpalan) yang kemudian digunakan menjadi nama minuman. Ini diperjelas dalam kamus Madura – Belanda, Madoereesch – Nederlandsch woordenboek susunan H.N. Kliaan (1904 – 1905). Kata tjendhúl (baca: cendol) diartikan: “een drank van kokosmelk en suiker, waarin klonters van rijstemeel; ook de klonters van rijstemeel” (minuman dari santan dan gula, berisi gumpalan-gumpalan dari tepung beras; juga [diartikan] gumpalan-gumpalan dari tepung beras). Jelas, pada dasarnya kata cendol merujuk gumpalan-gumpalan tepung beras yang menjadi isi utama minuman manis dari campuran gula aren dan santan ini.

Mengapa kata cendol banyak muncul dalam berbagai literatur kolonial? Tidak lain karena sifat minuman manis ini yang merakyat, dikenal, dan mudah diterima oleh berbagai kalangan. Orang-orang Belanda yang pernah mengalami hidup di Indonesia masa kolonial sukar untuk melupakan cendol. Seperti tersirat dari kenangan seorang sastrawan Indo, Paula Gomes, ketika ia menapak tilas Jakarta sebagaimana dituliskan dalam novelnya Sudah, Laat Maar (Sudah, Biar Saja [1975]): “In een bètjak zocht ik de plekjes op die mij bekend moesten zijn. Pasar Baroe, de winkelstraat waar ik in het Hoenkwee-huis tjendol gedronken had, klappermelk met Javaanse suiker en rode en groene glibbertjes. (di sebuah becak, saya menelusuri tempat-tempat yang perlu saya singgahi. Pasar Baru, kawasan perbelanjaan tempat saya [dulu] pernah minum cendol di Restoran Hoenkwee-Huis, minuman dari santan, gula Jawa, dan gumpalan berwarna merah dan hijau).

Berkat inovasi dan kreativitas, sejak dahulu cendol digemari oleh berbagai kalangan masyarakat dari segala usia. Karena digemari, maka tidak heran jika cendol kemudian berdiaspora dari Jawa ke berbagai wilayah Indonesia hingga Asia Tenggara. Ini fenomena lumrah dalam dunia kuliner (seperti halnya tren Thai Tea saat ini). Maka dari itu tidak perlu heran, meski nama cendol umum dipakai baik di berbagai wilayah Indonesia maupun di Malaysia dan Singapura, tapi berkat inovasi dan kreativitas sangat mungkin minuman ini menjadi beragam dan berbeda, mulai dari segi bahan, topping, dan tampilannya.

Dengan memahami sejarah cendol, maka alangkah elok jika hubungan Indonesia dengan negara jiran sebagai sesama penikmat cendol terjalin manis semanis minuman ini!

Referensi
  • Anonim. 1935. “Een dawet verkoper op de pasar te Malang, Oost-Java”, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_dawet_verkoper_op_de_pasar_te_Malang_Oost-Java._TMnr_60005853.jpg, Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen , (diakses pada 16 Januari 2019) Braam, J. 1933. Indische tafel. Rotterdam: Nijgh & van Ditmar.
  • Faber, Paul & Chandra van Binnendijk (ed.). 1992. Sranan: Cultuur in Suriname. Amsterdam: Koninklijk Instituut voor de Tropen.
  • Fokker, A.A. 1900. Miniatuur Maleisch woordenboek. Gouda: Van Goor.
  • Gomes, Paula. 1975. Sudah, Laat maar. Amsterdam: Em. Querido. 
  • Haryono, Timbul. 1997. Inventarisasi Makanan dan Minuman dalam Sumber-Sumber Arkeologi Tertulis, Yogyakarta: Pusat Kajian Makanan Tradisional PAU Pangan Gizi Universitas Gadjah Mada.
  • Hinzler, H.I.R. 2005. Eten en drinken in het Oude Java. Leiden: KITLV.
  • Kliaan, H.N. 1904 – 1905. Madoereesch – Nederlandsch woordenboek. Leiden: E.J. Brill.
  • Klinkert, H.C. 1916. Nieuw Maleisch-Nederlandsch woordenboek, met Arabisch karakter, naar de beste en laatste bronnen bewerkt. Leiden: E.J. Brill.
  • Loen, Fred S. 1994. Petjoh Indisch Woordenboek. Rotterdam: Insulinde.
  • Meel, Peter. 2011. “Continuity through Diversity: The Surinamese Javanese Diaspora and the Homeland Anchorage”, Wadabagei Journal, vol. 13, no. 3, https://www.researchgate.net/publication/303685846 (diakses pada 15 Januari 2019).
  • Ph. S. van Ronkel. 1918. Maleisch Woordenboek: Maleisch – Nederlandsch. Nederlandsch -Maleisch. In de officieele Maleische spelling. Gouda: Van Goor.
  • Pigeaud, Th. 1938. Javaans – Nederlands handwoordenboek. Batavia: J.B. Wolters.
  • Smith, John Rose. 2018. “50 of the world’s best desserts“, https://edition.cnn.com/travel/article/world-50-best-desserts/index.html (diakses pada 10 Desember 2018).
  • Sunjata, Wahjudi Pantja, Sumarno & Titi Mumfangati. 2014. Kuliner Jawa dalam Serat Centhini. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pelestarian Nilai Budaya.
*Tulisan ini dimuat dalam buku Asal-Usul Dawet sebagai Minuman Menyegarkan di Indonesia (Yogyakarta, Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada, 2019)

Fadly Rahman
sumber : https://sejarahmakanan.com/dawet-dan-cendol-sumbangsih-kuliner-jawa-ke-mancanegara/, akses tgl 31/05/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours