Trenggiling diduga jadi host perantara virus corona. Hewan mamalia bersisik ini memang diburu daging dan sisiknya untuk disantap di China.


Fakta-fakta seputar virus corona masih terus digali. Salah satunya soal asal muasal virus mematikan ini. Pada awal kemunculannya, virus corona dikaitkan erat dengan kelelawar. Konsumsi sup kelelawar disebut sebagai pemicunya.

Ada juga yang mengaitkan virus corona dengan ular karena hewan berbisa ini adalah pemangsa kelelawar. Baik ular dan kelelawar sama-sama menjadi olahan populer di China. Daging hewan ekstrem ini dijual bebas di Pasar Seafood Huanan Wuhan, lokasi awal munculnya virus corona.

Setelah ular dan kelelawar, kini trenggiling disebut-sebut sebagai penyebar virus corona. Peneliti di Universitas Pertanian China Selatan menyebut trenggiling 'host perantara potensial' virus corona. Mamalia bersisik ini juga jamak dikonsumsi di China.

Berikut fakta-fakta soal trenggiling yang disebut sebagai penyebar virus corona. Mulai dari jenisnya, klaim peneliti soal trenggiling dan virus corona, hingga olahannya yang populer.

1. Apa itu trenggiling?

Trenggiling atau dalam bahasa Inggris 'pangolins' adalah mamalia dari ordo Pholidota alias satwa berbisik. Trenggiling hanya memiliki satu famili bernama Manidae dengan 7 spesies dan 1 genus Manis.

Spesies trenggiling yang terkenal adalah trenggiling Jawa (Manis javanica) dan trenggiling China (Manis pentadactyla). Trenggiling biasanya hidup di hutan hujan tropis serta wilayah pertanian dan perkebunan.

Trenggiling tergolong mamalia yang tidak memiliki gigi. Hewan ini memiliki lidah panjang untuk menghisap semut. Data The International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengungkap trenggiling termasuk hewan yang paling sering diperdagangkan. Totalnya lebih dari 1 juta ekor diambil dari hutan Asia dan Afrika dalam dekade terakhir.


2. Trenggiling dan kaitannya dengan virus corona

Dikutip dari World of Buzz (10/2), tim peneliti dari Universitas Pertanian China Selatan mengatakan trenggiling mungkin jadi 'host perantara' virus corona. Hal ini diungkap setelah kelelawar dan ular banyak disebut sebagai sumber awal virus corona.

Mereka menemukan genom virus corona pada trenggiling 99% identik dengan pasien virus corona. Presiden universitas terkait, Liu Yahong mengatakan tim peneliti sebelumnya menganalisis lebih dari 1.000 hewan liar metagenom.

Hasil akhirnya menunjukkan trenggiling kemungkinan besar adalah 'host' atau 'inang' perantara virus berbahaya ini. Meski begitu, belum ada penjelasan soal jenis trenggiling mana yang menyebarkan virus corona di China.

3. Daging trenggiling dijual di pasar gelap

Trenggiling banyak dikonsumsi di China dan Vietnam, padahal hewan ini tergolong langka dan dilindungi. Karenanya jual beli trenggiling dilakukan di pasar gelap.

Dikutip dari QZ, pada 2016 sekitar 10.000 trenggiling diselundupkan ke China dari Asia Selatan setiap tahun. Pejabat terkait sudah coba menghentikan tindakan ilegal ini, hanya saja belum sepenuhnya berhasil. Trenggiling kerap dibunuh, dikuliti, dan dibekukan sebelum dijual di pasar gelap.

Selain di China dan Vietnam, trenggiling juga dikonsumsi di Hong Kong. Begitu juga di Afrika Barat dimana trenggiling dijual di pasar dengan cara dibakar lebih dulu agar semua bulu-bulunya hilang.


4. Olahan sup trenggiling

Di China, trenggiling umumnya diolah jadi sup. South China Morning Post (10/2) melaporkan tahun 2012 seorang pengguna media sosial Weibo memamerkan sup trenggiling buatan chef terkenal.

Konon trenggiling itu dimasak bersama jamur selama berjam-jam. "Rasanya sangat enak," kata pengguna Weibo. Sebelumnya di tahun 2011 juga pernah beredar foto olahan trenggiling yang dimasak bersama daging ular dan angsa. Unggahan ini menuai kontroversi karena trenggiling termasuk hewan langka.

Vice (10/2) menulis daging trenggiling berwarna gelap dengan tekstur lengket dan berserabut. Aromanya aneh saat dimasak, sedangkan tekstur dagingnya seperti daging hewan umumnya. Di Afrika, daging trenggiling juga diolah sebagai sup. Biasanya ditambahkan bawang bombay, tomat, dan paprika.


5. Dipakai sebagai obat tradisional China

Trenggiling, khususnya bagian sisiknya, banyak digunakan dalam pengobatan tradisional China. Manfaatnya untuk meningkatkan fungsi ginjal, menyembuhkan asthma, dan mengatasi psoriasis. Juga membantu proses detoksifikasi tubuh.

Biasanya sisik trenggiling akan dikeringkan dan dijadikan bubuk. Barulah bubuk itu dimasukkan dalam pil dan diminum oleh orang-orang China. Harganya sangat fantastis, per kilogram sisik trenggiling bisa mencapai 5.600 yuan (Rp 10,9 juta) di tahun 2018.

Sedangkan dagingnya dianggap sebagai kelezatan yang langka. Orang-orang China dan Vietnam rela membayar mahal demi menikmati olahan daging trenggiling. Memakan trenggiling juga menunjukkan status sosial pemakannya. Jika seseorang makan trenggiling, ia dianggap sebagai orang terpandang.

Andi Annisa Dwi Rahmawati
sumber : https://food.detik.com/info-kuliner/d-4893100/diduga-jadi-penyebar-virus-corona-trenggiling-populer-dibuat-sup, akses tgl 18/05/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours