Uang, Makanan, Atau Alquran

VIRAL video di medsos yang mengunggah wawancara anak muda dengan seorang Ibu berumur 50 tahun. Beliau bernama Suharti, bekerja sebagai petugas kebersihan jalan.


Bekerja 2 shift, dari pukul 6 sampai pukul 11 siang, istirahat 2 jam, dilanjutkan pukul 1 sampai 3 sore, setiap hari kecuali hari Ahad. Untuk ruas jalan yang cukup panjang itu beliau berdua bersama temannya.

Sementara awal istirahat, seorang anak muda laki datang mewawancarai Ibu itu. Anak muda datang dengan sopan lalu menawarkan tiga pilihan. Si Ibu diminta untuk memilih salah satu; uang, makanan, atau Alquran.

Ibu itu memilih Alquran. Merasa aneh mengapa beliau memilih Alquran, bukan uang atau bukan makanan, pemuda itu bertanya alasannya. Ibu itu menjawab lugu, ”ya karena ini pedoman hidup”.

“Karena semua hidup berpedoman diri sini ya Bu?” lanjut si pemuda.

“Iya, walaupun saya belum hafal ya… cuma anak-anak saya sekarang lagi kepingin ini (Alquran)”.

“Iya alhamdulillah ya, kenapa Ibu tidak milih uang?” pemuda itu menyela ingin tahu.

“Karena uang bisa dicari.” Jawab ibu itu jelas.

“Kalau makanan?” lanjut si pemuda bertambah penasaran.

“Bisa dibeli. Kalau pedoman hidup kita tidak punya kan repot. Bisa sesat semua kita ini,” Ibu itu melanjutkan jawabannya dengan lancar dan penuh antusias.

MasyaAllah, terkesiap perasaan dalam dada. Sementara sejak awal, timbul dugaan dalam diri bahwa si Ibu akan memilih uang, setidaknya makanan karena “langsung” bisa digunakan. Namun, ternyata dugaan ini terpental. Benar-benar di luar dugaan. Si Ibu memilih suatu yang sangat mendasar, kebutuhan hidup yang hakiki.

Langsung atau tidak Ibu tadi telah membuka lebar pandangan hati ini akan pelajaran pilihan dalam hidup; memungut pilihan untuk kebutuhan yang hanya sesaat, sementara dan langsung habis, atau pilihan tajam ke depan, jaminan keuntungan yang tak berkesudahan. Ialah agar hidup tidak sesat, tidak keliru, berarti kehidupan yang menjamin selamat.

Belum sempat lepas kekaguman terhadap si Ibu, terlintas kembali ingatan akan sejumlah 500 pekerja pabrik di Inggris. Datang peneliti dari Harvard University dengan tujuan mengadakan penelitian bidang psikologi. Subyek penelitian adalah 500 pekerja pabrik. Ketika para pekerja makan siang, makanan yang mereka pilih diamati.

Mereka hanya dibagi ke dalam dua kelompok; pertama, yang memilih makanan yang natural, sayur dan makanan olahan rumah, kedua, mereka yang memilih junk food, dan makanan siap saji. Dilakukan evaluasi lanjutan terhadap kondisi rumah tangga mereka, prestasi kerja, jumlah hari sakit, jumlah hari tidak masuk kerja, kekompakan mereka dalam satu tim.

Dari hasil analisis, diperoleh data bahwa mereka yang memilih mengonsumsi junk food, makanan siap saji, berpengawet, adalah mereka yang kondisi rumahtangganya belum baik dibandingkan dengan pekerja yang menyukai makanan natural, bersayur hasil olahan rumah. Prestasi kerja mereka kurang bagus, kerjasama tim yang buruk, lebih sering tidak masuk kerja dan lebih sering sakit.

Apa hubungannya dengan Ibu di atas. Ternyata sesuai hukum ketertarikan, jiwa yang baik cenderung menyukai hal-hal yang mendukung kebaikannya. Sedangkan jiwa yang kurang baik ditunjukkan oleh apa-apa yang menjadi pilihannya.

Ibu itu memilih Alquran. Dapat dikatakan bahwa Ibu itu memiliki keimanan, kecintaan kepada Alquran lebih utama dibandingkan dengan uang dan makanan. Atau boleh disimpulkan, Ibu itu memilih masa depan jangka panjang, memilih nonfisik yang kekal daripada memilih fisik yang segera rusak dan hancur. Keimanan yang mengagumkan.

Rupanya, ingatan ini kembali terbang kepada kejadian 15 abad yang lalu. Ketika Nabi Muhammad memilih menghindar dari gemerlap dunia untuk menyendiri. Beliau memilih berthannuts di gua Hira, menjauh dari hiruk pikuk dunia, padahal istri Beliau kaya raya, andai membeli seluruh kekayaan Qurays di Mekkah beliau mampu.

Namun, seluruh keadaan itu tidak dihiraukannya, Beliau lebih memilih bertahannuts, akhirnya beliau menerima Alquran. Wahyu Allah swt yang disampaikan melalui malaikat yang mulia Jibril as. Bukankah di dalam hal ini Beliau Nabi “memilih” Alquran daripada dunia? Dalam kriteria ini si Ibu benar-benar menyerupai pilihan Nabi.

Kalau demikian, wajar kalau di dalam hati ini bertambah kekaguman kepada derajat keimanan Ibu yang tepat meneladani pilihan Rasulullah Muhammad SAW.

Terhadap pilihan ini, Allah SWT. menyatakan perbedaan antara orang beriman dan orang kafir dalam surat Ibrahim ayat 3, “…mereka orang kafir lebih mencitai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat….”.

Sesuai ayat ini Ibu tersebut termasuk orang yang bukan kafir, beliau adalah golongan orang-orang beriman.

Tersebut di dalam Alquran antara lain surat Fusshilat (41:41) Alquran disebut sebagai adz-Dzikr. Sedangkan di dalam surat al-Imran ayat 190, ahli dzikir dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang sangat mendalam ilmunya, uulul albaab.

Jadi di samping Ibu itu adalah orang beriman, beliau sebenarnya berhak menyandang gelar orang yang sangat berilmu.

Istimewanya beliau, paling tidak didapat dalam dua hal; pertama, beliau ‘tidak punya’ tetapi beliau tergolong orang kaya sejati karena “tidak butuh” dunia, buktinya beliau memilih Alquran daripada uang dan makanan.

Kedua, beliau termasuk orang yang ilmunya mendalam walau secara gelar dan pekerjaan sepertinya beliau bukan orang berilmu. Ilmu yang dimaksud adalah, kesanggupan besar untuk lebih mengenal (aalim) Allah swt. Ialah melalui Quran. Karena sejatinya yang disebut ilmu di dalam Islam adalah, kesanggupan untuk lebih mengenal Allah swt. dari pengetahuan yang diperoleh. Ibu itu telah menjadi contoh.

Alhamdulillaah, terima kasih Ibu, karena telah mengajarkan kepada kami hakikat kaya dan ilmu yang sejati!

Abdurachman 
Gurubesar FK Unair, yang juga takmir Masjid FK Unair
sumber : https://rmol.id/read/2020/05/08/433922/uang-makanan-atau-alquran, akses tgl 25/05/2020.

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget