“Maamaaaa, minta ayam crispy dong” kata Afiqa merengek ke Mama Mia. Hampir tiap hari Afiqa minta makan pakai ayam crispy. Ayam crispy atau ngetop dengan sebutan 

Ayam fried chiken, sekarang tidak hanya dijual di restoran fast food yang ada di mall-mall atau supermarket. Di pasar dan di pinggir jalan mama juga sering melihat banyak gerobak-gerobak yang menjual ayam crispy, harganya lebih murah lagi, mama jadi seneng dan tidak kerepotan lagi menyiapkan lauk untuk Afiqa anak cantik tersayangnya.

Kalau tidak ada ayam crispy, tahan dia tidak makan seharian sampai mama kebingungan merayunya. “Kalau ga ada ayam crispy, aku mau nugget ajahhhh”, kata Afiqa sambil jerit-jerit dan merengut.

Mama Mia sebagai mama gaul yang sering update berita baik di facebook, twitter atau situs berita online lainnya, belakangan ini jadi ketakutan masak ayam untuk lauk di rumah, karena berita yang beredar di media sangat santer dan serem kalau ayam broiler itu berbahaya dikonsumsi karena banyak kandungan hormonnya dan banyak residu antibiotiknya. Apalagi teman-teman arisan mama suka ngerumpi kalau ayam broiler itu bisa menyebabkan penyakit kanker dan bisa bikin cepat dewasa kelamin pada anak. Aduuhhh, tambah pusing deh mama mikirinnya, belum lagi dengar rengekan Afiqa yang tiap hari minta ayam crispy’lah, nugget’lah, sosis’lah dan teman-teman sejenisnya yang lain.

Pernah sekalinya mama coba bikin ayam crispy pakai ayam kampung, si Afiqa jerit-jerit lagi,“ayamnya keras maaaa, ga empuk kaya biasanyaaaa!!!” Ayam kampung selain harganya yang aduhai mahal juga ternyata tidak bisa menggantikan ayam crispy, nugget dan sosis kesukaan Afiqa. Walaupun demikian daging ayam kampung juga memiliki keunggulan tersendiri jika dimasak dengan resep yang tepat sehingga rasa semakin lezat. Mama jadi tambah bingung, kemanaaa kemanaaa kemanaa.... Si Mama sama bingungnya dengan Ayu Ting-Ting yang nyari alamat ga ketemu-ketemu. Kemana lagi harus mencari solusi yaaaa......??????

Rasanya Mama Mia tidaklah sendiri, masalah ini pasti juga dirasakan oleh banyak mama yang lain dimanapun berada, dimana kebiasaan mengkonsumsi ayam broiler sudah mendarah daging dan menjadi suatu kebutuhan pokok yang tak tergantikan. Bagaimana tidak, ayam broiler atau yang sering kita sebut ayam ras pedaging mulai dipelihara dan dikenal di Indonesia sekitar tahun 1950 dan mulai populer pada tahun 1980. Hingga kini ayam broiler telah dikenal masyarakat Indonesia dengan berbagai kelebihannya. Hanya 5-6 minggu sudah bisa dipanen. Dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat dan menguntungkan, maka banyak peternak baru serta peternak musiman yang bermunculan di berbagai wilayah Indonesia. Alhasil, masyarakat Indonesia semakin familiar dengan adanya olahan daging ayam broiler di meja makannya.


Ayam broiler sebagai ayam ras pedaging bertumbuh sangat cepat dan mampu mengubah makanan yang ia makan menjadi daging dengan sangat efisien, tetapi kelebihannya itu harus ditunjang dengan pemeliharaan yang baik. Tanpa pemeliharaan yang baik daya tahan tubuhnya akan menurun dan mudah terserang penyakit. Hal inilah yang kemudian menjadi faktor resiko timbulnya pemakaian obat-obatan yang berlebihan dalam pemeliharaan ayam broiler. Walaupun tidak semua peternakan ayam broiler menggunakan obat-obatan yang berlebihan namun terbatasnya jumlah tenaga pengawas obat hewan tentunya juga mempengaruhi terhadap pengawasan di lapangan. Data Balai Veteriner Lampung, pada tahun 2013 di Provinsi Lampung, ditemukan 20 kasus positif residu antibiotika dari 315 sampel bahan asal hewan yang diambil secara aktif service, dan 11 kasus positif residu antibiotika dari 365 sampel bahan asal hewan yang didapat secara pasif service. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada penggunaan antibitiotika pada hewan yang tidak sesuai dengan dosis dan aturan pemakaian. Sementara untuk residu hormon, tidak ditemukan kasus positif.

Secara genetis ayam broiler mampu mengolah makanan dengan cepat begitu makanan dikonsumsi olehnya, sehingga memiliki karakteristik ekonomi sebagai penghasil daging dengan konversi makanan irit dan siap dipotong pada usia relatif muda, karenanya issue pemakaian hormon pada pemeliharaan ayam broiler agar ayam cepat gemuk adalah tidak tepat.

Mengapa Ayam PROBIOTIK bisa menjadi alternatif pilihan untuk hidup yang lebih sehat???

Di Kota Metro Lampung terdapat sekelompok Peternak Ayam yang memelihara ayam broiler dengan menggunakan Probiotik dan Herbal sebagai pengganti Antibiotik. Ayam PROBIOTIK adalah ayam broiler yang dipelihara dengan menggunakan Probiotik dan Jamu-jamuan/herbal tanpa menggunakan bahan-bahan kimia seperti antibiotika atau obat hewan yang lain sehingga menghasilkan daging yang sehat dan berkualitas dengan citarasa yang khas. Dengan pemanfaatan tanaman herbal seperti jahe, kunyit, sambiloto, temu lawak, temu ireng dan lain-lain dengan formulasi tertentu, dapat meningkatkan daya tahan tubuh ayam sehingga tidak mudah terserang penyakit dan menghilangkan perlemakan daging yang berlebihan. Sehingga ayam PROBIOTIK tidak mudah terserang penyakit dan memiliki kualitas daging yang baik karena tidak banyak lemak. Produk ayam probiotik yang dihasilkan berupa karkas ayam segar dan produk olahan seperti nugget dan kripik dengan pasaran lokal Metro dan Bandar Lampung serta sebagian besar pasar Jakarta, Bali dan Surabaya.

Produk ini juga telah melewati beberapa test antara lain Negatif Residu Antibiotika dan Negatif cemaran mikroba dari Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor dan Laboratorium Kesmavet Propinsi DKI Jakarta, Negatif Avian Influenza (Flu Burung) dari Balai Veteriner Lampung, Negatif cemaran mikroba dari Laboratorium Kesmavet Kota Metro. Rumah Potong Ayam PROBIOTIK tersebut sudah memenuhi Standar Nasional Hygiene dan Sanitasinya dibuktikan dengan telah memiliki Sertifikat NKV (Nomor Kontrol Veteriner) dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung dan Sertifikat HALAL dari MUI Lampung.

Pada puncak peringatan Hari Pangan Sedunia ke-37 Kota Metro pada tanggal 29 November 2017 di Lapangan Mulyojati Metro Barat, Kelompok Peternak Ayam ini mendapatkan Penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara Tingkat Kota Metro dalam kategori Pelopor Ketahanan Pangan.


Sejalan dengan mulai diberlakukannya Permentan Nomor 14 Tahun 2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan dimana penggunaan antibiotika imbuhan pakan (feed additive) dilarang digunakan sejak tanggal permentan tersebut ditetapkan dan mulai efektif ditahun berikutnya, penggunaan Probiotik dan Herbal sebagai pengganti Antibiotik adalah salah satu langkah bijak yang dapat dilakukan. Dengan ayam PROBIOTIK, Mama Mia dan kita semua tidak perlu galau lagi mengkonsumsi ayam broiler atau memberikan olahan ayam broiler untuk orang-orang tercinta di rumah. Hidup adalah pilihan, dan di tangan kita pilihan itu berada. Semoga pilihan hidup sehat menjadi pilihan kita semua. Salam PROBIOTIK.......!!!(red’18)

Oleh. drh. Ruri Astuti Wulandari
Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Metro Lampung
sumber : http://kesmavet.ditjenpkh.pertanian.go.id/index.php/berita/tulisan-ilmiah-populer/210-ayam-probiotik, akses tgl 21/06/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours