Kodok, Antara Gizi Dan Larangan Mengonsumsinya

Katak atau nama ilmiahnya Fejervanya Cancrivora merupakan hewan Amphibi (Hidup dua alam) yang tinggal di daerah rawa-rawa seperti sawah, kebun yang becek, gorong-gorong dan sebagainya. Hewan yang berkulit licin, berwarna hijau ataupun merah kecoklat-coklatan ini juga sempat menjadi perbincangan karena diduga menjadi salah satu hewan yang menjadi penyebab lahirnya virus corona.

Kegemaran masyarakat China mengkonsumsi makanan ekstrim yang salah satunya adalah katak, dengan berbagai olahan bahkan dengan memakannya hidup-hidup.

Salah satu olahan daging katak yang cukup terkenal adalah Swike atau Swikee. Masakan asal tionghoa ini adalah masakan yang berbahan dasar paha katak. Hidangan ini dapat ditemukan dengan beberapa bentuk mulai dari sup, goreng, ataupun tumisan.

Dalam segi medis katak merupakan hewan yang kaya akan protein. Dikutip dari Popular-word.com. Marc Lawrence yang merupakan seorang ahli gizi mengatakan ” daging katak jauh lebih berprotein dan rendah lemak ketimbang dada Ayam”. Mark menjelaskan, katak sarat akan omega 3, kalium, Vit. A, 0,3 gram lemak, 16 gram protein per porsinya.

Namun, lawrence tidak menampik bahwa sebagian besar hidangan katak memiliki banyak kekurangan. ” kombinasi bumbu seperti kecap hitam dan saus tiram sejatinya membuat masakan tersebut berkadar garam tinggi, selain itu banyak pula hidangan katak yang diolah dengan bumbu yang kuat di mana pada akhirnya akan menurunkan kadar nutrisinya” ujarnya


Dina Puyang Sari mahasiswi Poltekkes Kemenkes Palembang mengatakan walaupun katak memiliki banyak manfaat untuk kesehatan namun juga memiliki resiko. ” perlu diketahui dari ratusan jenis katak, yang bisa di konsumsi hanya beberapa saja. Selain racunnya yang jika dikonsumsi dapat menyebabkan kanker, stroke, gagal ginjal dan lain-lain di dalam tubuh katak juga sering ditemukan cacing yang tentunya sangat berbahaya untuk kesehatan” ujar mahasiswi semester 6 keperawatan ini.

Dina juga mengatakan lebih memilih mengkonsumsi makanan lain yang aman dari segi medis. ” jadi kalau aku pribadi lebih memilih alternatif lain yang lebih aman dari segi medis saja” ujarnya

Di dalam hukum Islam juga semua ulama sepakat dengan keharaman membunuh katak, berdasarkan hadist Rosullullah yang diriwayatkan dari Abdurrahman bin Utsman,

Dari Utsman Al Quraisyi Ra, berkata bahwa ada seorang dokter bertanya kepada nabi Shallaullahu alaihi wasallam tentang katak yang akan dijadikan sebagai obat, maka nabi Shallaullahu alaihi wasalam melarang untuk membunuhnya” (H.R. Nasa’i dan Abu Daud)

Menurut Isnan Wahyudi selaku guru di pondok pesantren Nurul Hikmah, Banyuasin, pada dasarnya setiap hewan yang dilarang untuk dibunuh maka dilarang juga untuk dimakan. “kaidahnya setiap hewan yang dilarang dibunuh maka dilarang memakannya atau haram” ujarnya

Di dalam beberapa riwayat juga mengatakan bahwa katak dilarang dibunuh karena merupakan salah satu hewan yang gemar bertasbih dan juga salah satu hewan yang membantu memadamkan api ketika nabi Ibrahim dibakar.

Dari Abdurrazaq rahimallah dan kitab Al Mushannaf, Rosullullah Shallaullahu alaihi wasalam bersabda “berilah keamanan bagi kodok ( jangam membunuh) karena sesungguhnya suara yang kalian dengar adalah tasbih, taqdis, dan takbir. Sesungguhnya hewan-hewan meminta izin kepada Rabb-nya untuk memadamkan api dari ibrahim, maka diizinkanlah bagi kodok. Kemudian api menimpanya maka Allah menggantikan untuknya panas api dengan air” (H.R. Annas bin Malik, Shohih, Abu Said asy Syaamiy Ibrahim bin Abi Ablah dan Abaan bin Shahih, keduanya Tsiqah).

Reporter : Intan Mira Bela, Mahasisea Magang Prodi KPI FDK UIN RF
By Sandrie Gawoh
Read more: https://maklumatnews.com/2020/02/07/kodok-antara-gizi-dan-larangan-mengonsumsinya/, akses tgl 19/06/2020.

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget