Makanan Fungsional adalah makanan yang mampu memberikan efek positif/menguntungan bagi kesehatan  manusia di samping efek nutrisi yang secara prinsip memang  dimiliki oleh makanan. Makanan Fungsional yang juga di kenal dengan nama Functional food ini sangat berpengaruh pada kesehatan manusia untuk jangka waktu ke depannya. Salah satu negara yang telah mengakui manfaat makanan fungsional ialah Negara Jepang, yang diberi nama FOSHU (Food for Specified Helath Use) dan mendukung secara penuh pengembangan konsep makanan fungsional.


Setelah membaca pengertian diatas, bisa saja timbul pertanyaan dalam benak kita? Apakah berarti makanan fungsional dapat berfungsi sebagai obat? tentu saja jawabannya tidak. Seorang ahli Mary K.Schimld dalam satu paparannya menyampaikan ada satu hal utama yang membedakan antara pangan dan obat. Obat bersifat sebagai treatment (perlakuan penyembuhan), sedangkan makanan fungsional lebih bersifat mengurangi resiko penyakit. Terutama penyakit degeneratif. Pada obat, efek harus dirasakan segera, sedang pada pangan fungsional lebih pada keuntungan di masa mendatang. Pemberian obat lebih ditujukan pada sekumpulan tertentu (orang dengan penyakit tertentu). Sedangkan makanan fungsional berpeluang dimanfaatkan oleh siapa saja dengan kemungkinan cakupan konsumen yang lebih luas. Dari segi keamanannya, pertimbangan penggunaan obat lebih didasarkan pada pertimbangan keuntungan lebih besar dari resiko, sedangkan pada pangan fungsional sisi keamanan harus menjadi pertimbangan utama.

Makanan Fungsional harus memberikan peran khusus dalam proses metabolisme tubuh seperti meningkatkan imunitas tubuh, mencegah penyakit tertentu, membantu pemulihan tubuh setelah menderita sakit, menjaga kondisi fisik dan mental serta memperlambat proses penuaan.

Pada era globalisasi seperti saat ini di Inonesia telah terjadi perkembangan penyakit di Indonesia yaitu transisi/perubahan penyakit infeksi menjadi penyakit degeneratif. Penyakit degeneratif merupakan suatu penyakit yang muncul akibat proses kemunduran fungsi sel tubuh yaitu dari keadaan normal menjadi lebih buruk. Contoh penyakit degeneratif diabetes melitus, stroke, jantung koroner, kardiovaskular, obesitas, dislipidemia dan sebagainya. Transisi menjadi penyakit degeneratif ini karena perubahan perilaku hidup manusia yang menjadi lebih konsumtif makanan yang mengandung lemak tinggi, misalnya  Fast Food, Junk Food dan makanan lainnya.

Hal tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan, masyarakat dihadapakan pada banyak pilihan makanan. Sejalan dengan itu juga, masyarakat lebih banyak memilih makanan cepat saja yang tinggi dengan lemak jenuh, yang tentu saja potensi penyakit degeneratifnya tinggi. Selain itu, juga mulai terjadi perubahan dalam aspek psikologis seseorang, dalam bentuk ingin mencoba makanan lain yang mempunyai unsur “gengsi” yang lebih tinggi yang merupakan salah satu cara memenuhi perubahan  gaya hidup yang lebih modern dan “ tidak katrok”. Sehingga perubahan gaya hidup (life style)  juga pasti di ikuti dengan perubahan pola konsumsi (eat style). Pola yang seperti banyak di jumpai di daerah perkotaan yang mana daerah perkotaan merupakan daerah urbanisasi dan daerah industri. Dan tidak banyak yang tahu bahwa makanan-makanan tersebut dapat menimbulkan penyakit degeneratif dalam jangan waktu yang cukup lama 10-20 tahun yang akan datang. Selain itu, karena kurangnya kesadaran manusia untuk mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran yang merupakan salah satu makanan fungsional dan mengandung banyak komponen gizi yang dapat menghambat proses terjadinya penyakit degeneratif.

Buah-buahan dan sayuran merupakan makanan yang kaya akan serat. Mengapa harus makanan kaya serat? Karena serat makanan ini dapat meningkatkan massa feses, menurunkan kadar kolesterol plasma dan menurunkan respon orgnik glisemik dari makanan.

Selain mengandung kaya serat, buah-buahan dan sayuran juga mengandung antioksidan yang tinggi sepert vitamin A, beta karoten, vitamin C, Vitamin E, Selenium, Flavonoid, dll. Yang mana antioksidan ini berfungsi menangkap senyawa serta mencegah terjadinya reaksi berantai. Buah-buah an yang mengandung antioksidan yang tinggi adalah Apel, Jeruk, Nanas, Mangga, Jambu Biji, Jambu Monyet, Jambu Air, dan Pisang. Sedangkan jenis sayuran yang mengandng antioksidan yang mengandung antioksidan yang tinggi adalah Bayam, Brokoli, Cabe Hijau, Daun Pohong, Kubis.

Sebagai contoh makanan fungsional yaitu Apel, dalam sebuah penelitian, mengkonsumsi buah apel 5 buah bagi perokok dalam satu minggu secara rutin dapat mengurangi resiko terjadinya Kanker Paru-Paru. Karena dalam apel mengandung flavonoid dan polifenol yang merupakan antioksidan. Atau, konsumsi 400-800 gram serat/ hari dapat mengurangi resiko penyakit kanker.

Jika kita tengok konsumsi buah-buah dan sayuran di masyarakat Di banyak negara makanan fugsional telah berkembang sangat pesat. Hal tersebut dilandasi oleh beberapa alasan yaitu 1) meningkatnya kesadaran akan pentingnya makanan dalam pencegahan penyakit ; 2) tutntutan konsumen akan adanya makanan yang memiliki sifat lebih, yaitu kandungan ingredient fungsional; 3)pengalaman masyarakat mengenai alternative medicine ; 4)studi epidemiologi mengenai prevalensi penyakit tertentu yang ternyata dipenuhi oleh kebiasaaan makan dan bahan yang dimakan oleh suatu kelompok. Berikut ini menggambarkan 9 besar negara penghasil makanan fungsional.

Dari tabel tersebut diketahui bahwa Amerika Serikat merupakan negara yang paling tinggi dalam perdagangan makanan fungsional, tetapi kenaikan menyolok terlihat pada Jepang.

Indonesia masih sangat kurang. Beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab adalah mahalnya buah-buahan, dan kurangnya variasi pengolahan buah dan sayuran menjadi makanan siap saji yang mudah dikonsumsi. Oleh karena itu perlu adanya pengolahan pengembangan makanan fungsional tanpa mengurangi nilai-nilai zat gizi  yang terkandung. Jika mengurangi hanya sedikit saja. Misalnya pengolahan sop buah, salad buah, atau yang lainnya teknologi pangan lainnya.

Bagaimanakah produksi dan pengembangan makanan fungsional di Indonesia ????? Di Indonesia belum ada data tentang besarnya produksi dan pengembangan makanan fungsional. Pengembangan makanan fungsional di suatu wilayah tidak saja menguntungkan kesehatan bagi manusia tetapi juga merupakan peluang bagi industri pangan. Sehingga bisa dikatakan bahwa makanan fungsional sebagai investasi sehat masa depan.

Oleh karena itu, untuk mengurangi jumlah penderita penyakit degeneratif yang semakin banyak, setiap manusia harus mempunyai kesadaran untuk mengubah pola hidup sehat salah satunya melalui pola konsumsi makanan fungsional sebagai alternatif untuk mengurangi resiko penyakit di masa yang akan datang. Seandainya Tuhan telah mentakdirkan kita hidup selama 60 tahun , dan pada umur 25 tahun telah menderita salah satu penyakit degeneratif, makan sisa umur 35 tahun itu akan kah kita hidup bersama penyakit? Tentu saja tidak. Functional Food make me a health person in the future.

Ratna  Safitri
Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
sumber : https://agromedia.net/makanan-fungsional-investasi-sehat-masa-depan-2/, akses tgl 23/06/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours