"Jangan buang kulit pisang sembarangan. 
Di sanalah ada keranjang kotoran. 
Bila adik yang sedang mulai berjalan. 
Menginjak kulit pisang di kaki kanan. 
Adik jatuh menangis mengerang-erang."

Anak Indonesia punya lagu ini puluhan tahun lalu. Orang Jepang menjawabnya tahun lalu dengan sebuah inovasi: pisang yang bisa dimakan beserta kulitnya, sehingga tidak akan membuat adik terpeleset dan menangis mengerang-erang.

Para ilmuwan di D & T Farm di Prefektur Okayama di Jepang merilis berita tersebut setelah berbulan-bulan bereksperimen dengan metode pembekuan dan pencairan. Metode ini merupakan buah karya Setsuzo Tanaka (68 tahun) yang mengerjakan proyek ini sebagai hobi selama 40 tahun.


Tanaka meniru pertumbuhan tanaman selama zaman es atau selama musim dingin panjang lainnya. Sel pertumbuhan pisang didinginkan secara perlahan-lahan hingga mencapai suhu -60° C, kemudian dipanaskan secara dramatis hingga 26° C. Suhu yang dingin memperlambat metabolisme tanaman; sedangkan semburan sinar matahari dan panas yang tiba-tiba mendukung terjadinya pertumbuhan secara dramatis.

Buah pisang — yang menyimpan benih — menjadi matang terlebih dahulu dibandingkan kulitnya, sehingga menghasilkan buah pisang dengan kulit yang lembut dan tipis yang belum sepenuhnya berkembang.


Motivasi Tanaka untuk mengembangkan pisang ini adalah karena dia ingin makan pisang yang lezat dan aman: dan orang dapat memakan kulitnya karena dibudidayakan secara organik tanpa bahan kimia.

Hasilnya adalah buah yang dikenal sebagai Pisang Mongee, yang bisa diartikan sebagai 'pisang yang luar biasa' dan mulai dijual tahun lalu di Okayama, sebuah kota di antara Kyoto dan Hiroshima. Pembeli pisang Mongee diminta untuk menunggu hingga muncul bintik-bintik coklat di kulitnya sebagai tanda bahwa pisang siap untuk dimakan, tentu saja dengan kulitnya.

SoraNews24, situs web Jepang yang pernah mencicipinya melaporkan bahwa kulit pisang Mongee relatif lebih tipis dibandingkan dengan kulit pisang biasa sehingga cukup mudah untuk dimakan. "Karena sangat tipis, tidak ada tekstur yang aneh, dan dibandingkan dengan rasa manis buahnya, kulitnya relatif tidak ada rasanya," demikian menurut situs tersebut. Para pengulas mengatakan bahwa daging buah pisang Mongee memiliki rasa tropis yang kuat dan hampir seperti rasa buah nanas.

D & T mengklaim bahwa kulit pisang Mongee merupakan sumber vitamin B6, magnesium, dan triptofan (triptofan merupakan asam amino penting pembentuk serotonin yang berfungsi menstabilkan mood serta menurunkan tingkat depresi dan kecemasan). Selain itu, kulit pisang Mongee juga kaya akan kalium, seng, polifenol, serta beberapa vitamin yang larut dalam air.

Untuk saat ini, pisang Mongee baru bisa diproduksi oleh D & T di Okayama dengan jumlah yang sangat terbatas, yakni 10 batch pisang per minggu, dan hanya dijual di sebuah kios lokal bernama Tenmanya Okayama. Harganya pun masih sangat mahal, 648 Yen per buahnya atau sekitar 82.000 rupiah (bandingkan dengan harga pisang di Jepang yang berkisar antara 158 hingga 399 Yen setiap sisirnya, pada foto di bawah ini)


Juru bicara D & T memberikan pernyataan bahwa mereka berencana meningkatkan produksinya hingga 10 kali lipat tahun ini, dan sedang mempertimbangkan untuk mengekspornya ke luar negeri. Sementara Tanaka sendiri mengatakan bahwa perusahaannya telah memposting panggilan rekrutmen untuk petani pisang di situs webnya, "Saya ingin menjual pisang tanpa bahan kimia ini di seluruh dunia.” katanya.

---

(dirangkum dari: National Geographic, Food Processing Technology, The Guardian, SoraNews24, ABC News, Mashable, The Telegraph, Fox News, dan Quartz)
sumber : https://www.bicnets.com/index.php/pangan/teknologi-pangan/1479-makanlah-pisang-mongee-dengan-kulitnya, akses tgl 03/06/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours