Perut Gendut alias Buncit? terkadang membuat kita tidak pede. Semua orang tentu saja mendambakan bentuk tubuh yang ideal dan langsing, tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus. Tubuh yang terlalu gemuk tidak menunjukkan tubuh yang sehat, namun juga tubuh yang kurus, bukan berarti dia sedang sakit-sakitan.

Seberapa Idealkah berat tubuh Anda? Ukur di sini

Jika berbicara berat badan ideal, ada rumus yang biasa digunakan untuk mengukurnya, yaitu BMI (body mess index) alias IMT (Indeks Massa Tubuh). Rumus itu sudah sangat umum dijadikan alat hitung badan ideal. Rumusnya adalah; Berat Badan Ideal = Berat Badan (Kg): (Badan Tinggi x Tinggi Badan). Sebagai contoh, Berat Badan 50 Kg: (1,68 mx 1,68 m) = 45: 2,82 = 17,0 adalah Nilai BMI Anda.

Hasil dari rumus perhitungan BMI memiliki kriteria dan kategori dari WHO (Badan Kesehatan Dunia), kriteria tersebut adalah;


Dari rumus diatas, kamu termasuk kategori apa? Apakah Kurus, Normal, Kegemukan atau Obesitas ?. Jika terlalu gemuk atau Obesitas, maka Anda harus mulai mempertimbangkan program diet dan rajin puasa sunnah. Dan jika terlalu seimbang, mungkin Anda harus mulai menerapkan pola hidup sehat dan konsumsi makanan bergizi.

Allah tidak melihat bentuk Fisik

Pada hakekatnya, Islam tidak melihat fisik dan bentuk tubuh seseorang. Apakah Anda orang yang tampan atau cantik, demikian juga tubuh Anda tinggi semampai, atau pendek. Karena yang Allah SWT lihat adalah ketaqwaannya. Membahas bantuan dalam sebuah Hadits;

عن أبى هريرة قال قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم

Dari Abu Hurairah, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanya melihat pada hati dan amalan kalian. "(HR. Muslim no. 2564)

Bagaimana Pandangan Islam tentang Kegemukan?

Bagaimana dengan badan yang gemuk? Tuntutan dalam judul pada artikel ini. Badan yang gemuk tidak selamanya negatif. Karena ada orang yang berbadan gemuk karena faktor berbadan sehat atau berbadan sehat, dan ada juga yang punya faktor banyak makan juga bermalas-malasan yang butuh kegemukan. Dan inilah yang tercela dalam Islam.

Dalam salah satu Hadits, Rasulullah SAW bersabda

خيركم قرني, ثم الذين يلونهم, ثم الذين يلونهم, إن بعدكم قوما يخونون ولا يؤتمنون, ويشهدون ولا يستشهدون, وينذرون ولا يفون, ويظهر فيهم السمن

Generasi terbaik adalah generasi di zamanku, kemudian masa setelahnya, kemudian generasi setelahnya. Sesungguhnya pada masa yang akan datang ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, mereka bersaksi sebelum memenangkan kesaksiaannya, bernazar tapi tidak berhasil, dan nampak pada mereka kegemukan ” . (HR. Bukhari 2651 dan Muslim 6638)

Menurut Keterangan al-Qurtubi (wafat 671 H), Hadits ini adalah celaan untuk orang gemuk. Karena gemuk yang bukan bawaan penyebab banyak makan, minum, santai, foya-foya, selalu tenang, dan terlalu mengikuti hawa nafsu. Ia adalah hamba bagi dirinya sendiri dan bukan hamda bagi Tuhannya, orang yang suka seperti ini pasti akan terjerumus bagi yang haram.

Al-Qurthubi juga menantang, tradisi banyak makan, hobi kuliner, adalah kebiasaan orang kafir. Dia melanjutkan, Allah mencela orang kafir karena banyak makan. Barangsiapa yang banyak makan dan minum, maka ia akan semakin banyak rakus dan tamak, semakin malas dan banyak tidur di malam hari. Siang digunakan untuk makan dan minum, sedangkan malamnya hanya untuk tidur. (Tafsir al-Qurthubi, 11/67)

Mula Ali Qori mengatakan,

وَأَمَّا مَا وَرَدَ أَنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ السَّمِينَ; فَمَحْمَلُهُ إِذَا نَشَأَ عَنْ غَفْلَةٍ وَكَثْرَةِ نِعْمَةٍ حِسِّيَّةٍ كَمَا يَدُلُّ عَلَيْهِ رِوَّانِ

" Perkiraan yang menunjukkan bahwa Allah membenci orang gemuk, dibahas jika gemuk ini terjadi karena kelalaian, terlalu banyak yang dinikmati kenikmatan yang diperoleh, dibahas yang membahas tentang kebencian bagi orang gendut". (Jam'ul Wasail fi Syarh as-Syamail, 1/34).

Komentar Umar bin Khattab ra terhadap orang yang Perutnya Buncit

Dalam suatu kisah, Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu pernah bertemu seseorang di jalan, dan bertanya bertanya; “ Kenapa perutmu besar seperti ini (buncit)? “, Tanya Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. " Ini karunia dari Allah ," jawab orang tersebut. "Ini bukan berkah, tapi azab dari Allah!" , seru Umar.

Umar pun melanjutkan: “ Hai sekalian manusia, hai sekalian manusia. Hindari perut yang besar. Karena membuat kamu malas menunaikan shalat, merusak organ tubuh, menyebabkan banyak penyakit. Makanlah kalian secukupnya. Agar kalian semangat menunaikan shalat, terhindar dari sifat boros, dan lebih giat beribadah kepada Allah . ”

Dalam kisah diatas, Umar mengundang kaum Muslimin untuk memperhatikan bentuk tubuh agar terhindar dari kegemukan. Karena badan yang gemuk dapat mendatangkan sifat malas dalam beribadah, mau bekerja, dan dapat mendatangkan berbagai penyakit.

Bentuk Fisik Rasulullah SAW

Ternyata Rasulullah Muhammad SAW adalah suri tauladan dari segala sisi, termasuk bentuk tubuh. Lebih dari itu kita bahas, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah sakit, kecuali hanya 2 kali dalam pembicaraan. Bentuk punggung juga sangat ideal, dada dan perutnya datar, tidak besar dan buncit perutnya.

Dari Al-Hasan, dari Hindi, ia berkata, “ Rasulullah itu berdada lebar. Antara perut dan dada sama. "(HR. Ath-Thabarani dan Az-Zabidi)

Dari Ummu Hani, ia menuturkan, "Saya tidak melihat bentuk perut Rasulullah kecuali saya ingat lipatan kertas-kertas yang digulung antara satu dengan yang lain ." (HR. Ath-Thabarani) dalam riwayat lain: “perutnya bagai batu-batu yang bersusun”

Istilah “batu-batu yang tersusun” jika pengertian kita sekarang adalah sikspek dan atletis. Jelas dalam riwayat ini, sebagaimana diketahui, Rasulullah SAW pun tidak buncit.

Gemuk yang tidak tercela

Bagi Anda yang memiliki perut yang buncit, badan yang gemuk namun tidak karena banyak makan dan bermalas-malasan. Tidak termasuk lemak yang tercela. Dia tetap menjadi menguntungkan, berjuang bagi umat, dan berhasil melakukan kegiatan yang bermanfaat. Sebagai bentuk kesopanan yang diberikan badan yang kuat dan sehat.

Aisyah deskripsi,

أن النبى -صلى الله عليه وسلم- كان يوتر بتسع ركعات فلما بدن ولحم صلى سبع ركعات ثم صلى ركعتين وهو جالس

“Meskipun Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan witir 9 rakaat, setelah beliau mulai gemuk dan berdaging, beliau shalat 7 rakaat. Kemudian shalat 2 rakaat sambil duduk. ” (HR. Ahmad 26651 dan Bukhari 4557)

Karena faktor usia, Rasulullah SAW pun mulai gemuk dan badannya mulai berdaging. Namun gemuknya Rasulullah SAW sama sekali tidak menjauh dari amalan Ibadah, baik wajib maupun Sunnah. Rasulullah SAW hanya menyesuaikan ibadah sunnahnya sesuai dengan kemampuannya. Shalat Witir 9 rakaat sambil berdiri, menjadi 7 rakaat dengan berdiri dan duduk 2 rakaat dengan duduk. Jumlah rakaatnya tetap, namun 2 rakaat terakhir dia SAW dilakukan dengan cara duduk.

Kesimpulan

Bila badan Anda gemuk, dan perut Anda buncit. Coba evaluasi diri apakah pola makan sudah cukup baik atau cukup yang menyebabkan kegemukan? Jika makan berlebihan, cobalah dan imbangi dengan memperbanyak puasa sunnah dan olahraga. Karena Islam tidak menyukai kegemukan yang diakibatkan banyak makan dan bermalas-malasan.

Namun jika kegemukan Anda bukan karena banyak makan dan tidak bermalas-malasan, maka kegemukan tersebut bukan termasuk lemak yang tercela. Karena yang dinilai negatif adalah sifat berlebihan dalam makan, sifat malas dalam beribadah dan beraktifitas. Sebagai bentuk fisik manusia, bagi Allah tidak berarti selain prestasi ibadah dan nilai taqwa dari setiap hamba. [WARDAN / DR]

sumber : https://darunnajah.com/perut-buncit-dalam-pandangan-islam/, akses tgl 26/06/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours