Minum minuman beralkohol kerap dijadikan alternatif penghilang stres di akhir pekan dengan konsumsi yang terbatas. Bahkan, ada beberapa orang yang menjadikan minuman keras sebagai ‘makanan utama’ mereka atau lebih dikenal dengan istilah drunkorexia.

Serius? Yuk, kenali apa itu fenomena ini dan apa bahayanya bagi tubuh!

Apa itu drunkorexia?

Pada dasarnya, drunkorexia merupakan istilah populer di kalangan anak muda yang menggambarkan seseorang membatasi asupan kalorinya agar dapat minum minuman beralkohol.

Istilah yang belum diresmikan oleh badan kesehatan ini berasal dari ketakutan seseorang terhadap kenaikan berat badan ketika minum alkohol. Fenomena ini kerap terjadi pada wanita yang masih kuliah. Namun, tidak menutup kemungkinan pria juga mengalaminya.

Umumnya, orang yang memiliki drunkorexia tidak akan makan sebelum ia pergi ke pesta atau bar. Hal ini bertujuan agar mereka dapat menyeimbangkan kalori ketika mengonsumsi alkohol.

Pada beberapa kasus, perilaku ini tidak hanya membatasi asupan kalori, melainkan juga olahraga yang berlebihan, bahkan setelah minum. Walaupun bukan diagnosis resmi, fenomena ini berisiko menimbulkan gangguan makan, seperi anoreksia, dan dapat berbahaya bagi kesehatan tubuh.

Penyebab munculnya drunkorexia

Sebenarnya, fenomena drunkorexia ini sudah ada sejak lama, terutama di Australia. Hal ini dibuktikan lewat penelitian yang dilakukan oleh University South of Australia. Peneliti dari studi tersebut mencoba menganalisis pola minum 479 mahasiswi Australia yang masih berusia 18-24 tahun.

Hasil dari penelitian menunjukkan setidaknya ada 82% peserta dengan drunkorexia selama tiga bulan terakhir. Bahkan, lebih dari 28% di antara mereka sengaja tidak makan, minum minuman beralkohol tanpa gula, dan berolahraga untuk mengurangi kalori yang dicerna.

Penelitian ini juga dibagi menjadi dua bagian. Pertama, peneliti mengukur kebiasaan minum alkohol yang dilaporkan peserta. Kedua, mereka mencoba meneliti pola pikir peserta yang berkaitan dengan kurang dapat mengontrol diri sendiri dan isolasi sosial.

Pada kenyataannya, kedua faktor tersebut memiliki kecenderungan menjadi penyebab mengapa drunkorexia muncul pada beberapa orang.

Mereka merasa perilaku ini dilakukan sebagai upaya untuk mengelola rasa cemas. Bahkan, tidak sedikit pula yang minum alkohol karena berharap diterima di sebuah kelompok atau budaya.

Maka dari itu, tidak mengherankan jika mahasiswi yang mengikuti penelitian ini menunjukkan ketergantungan terhadap alkohol. Selain untuk menurunkan berat badan, mereka tidak ingin dikucilkan dari lingkungan sosialnya.


Drunkorexia tentu saja bahaya

Sudah bukan rahasia umum lagi ketika minum alkohol berlebihan hanya akan menimbulkan dampak serius bagi kesehatan. Terlebih lagi, asupan kalori yang dibatasi agar dapat minum alkohol menambah risiko terhadap gangguan makan. Perilaku ini tentu akan memunculkan ancaman serius bagi kesehatan fisik dan mental seseorang.

Beberapa bahaya yang dapat muncul dari drunkorexia, terutama ketika berada di usia produktif antara lain:

  • kebiasaan minum alkohol berlebihan akibat minum dengan perut kosong
  • tubuh berisiko kekurangan nutrisi
  • menghambat sintesis protein dan perbaikan otot
  • memperlambat proses pemulihan dan tubuh tidak terasa bugar 
  • berkurangnya kemampuan mengambil keputusan 
  • berpotensi mengalami hipoglikemia, sirosis, hingga kerusakan otak dan jantung
  • terlibat dalam perilaku makan yang tidak sehat

Oleh karena itu, perilaku ini perlu diwaspadai dan tidak boleh disepelekan jika Anda atau orang terdekat mengalaminya.

Tips mencegah perilaku drunkorexia

Walaupun perilaku ini kerap ditemui di luar negeri, bukan tidak mungkin masyarakat Indonesia juga mengalami hal yang sama. Agar Anda dan orang terdekat tidak berisiko mengembangkan penyakit akibat drunkorexia, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegahnya.

1. Makan tetap teratur

Salah satu cara untuk mencegah perilaku drunkorexia adalah dengan makan secara teratur. Pasalnya, asupan makan yang dibatasi sebelum minum alkohol bisa membuat perut terlalu lapar dan Anda cenderung makan berlebihan meskipun sudah larut malam.

Apabila Anda hendak ke bar atau ke pesta, usahakan untuk makan dalam porsi yang tidak terlalu banyak. Hal ini bertujuan agar perut tidak terlalu lapar dan mengurangi risiko makan berlebihan.

Tubuh membutuhkan karbohidrat, protein, dan lemak setiap hari agar tetap berfungsi. Melewatkan jam makan agar dapat minum alkohol malah akan menurunkan fungsi organ tubuh lainnya.

2. Mengetahui batasan

Selain makan teratur, mencegah perilaku drunkorexia juga dapat dilakukan dengan mengetahui batasan terhadap tubuh sendiri. Artinya, Anda perlu merencanakan dan memastikan asupan alkohol yang akan diminum hari itu agar dapat terpantau dengan baik.

Jangan lupa untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh dengan minuman non beralkohol, seperti air mineral biasa. Semakin banyak alkohol yang Anda konsumsi, semakin tinggi risiko terhadap pengambilan keputusan yang ceroboh hingga dapat menyebabkan cedera.

Maka dari itu, Anda juga perlu memeriksa kadar alkohol dalam darah agar bisa mengetahui batasan terhadap diri sendiri.

3. Memilih jenis minuman dengan cermat

Untungnya beberapa minuman baik beralkohol maupun tidak mempunyai tingkat kalori yang lebih sedikit dibandingkan lainnya. Perilaku drunkorexia sebenarnya bisa dicegah dengan membatasi jumlah minuman yang dikonsumi agar asupan kalori terjaga.

Apabila Anda khawatir terhadap asupan kalori, periksa kembali jenis alkohol apa yang akan dikonsumsi. Sebagai contoh, minuman alkohol yang dicampur dengan bir akan meningkatkan jumlah kalori di dalamnya. Maka itu, Anda mungkin bisa mulai memilih jenis minuman dengan bijak.

4. Rutin berolahraga

Bagi Anda yang terbiasa membatasi asupan kalori demi minum alkohol dan berolahraga terlalu ekstrem, sebaiknya mulai mengurangi kebiasaan tersebut. Olahraga memang penting, tetapi perlu diimbangi dengan pola makan yang sehat.

Bahaya dari drunkorexia dapat dihindari dengan mulai meluangkan waktu untuk berolahraga, seperti hiking atau sekadar jalan biasa. Rutin berolahraga dan makan teratur membuat tubuh lebih sehat dan bugar, sehingga dapat mengurangi risiko dari bahaya minum alkohol berlebihan.

5. Mencari bantuan

Apabila Anda telah mencoba berbagai cara menghindari drunkorexia dan tetap tidak berhasil, sudah saatnya untuk mencari bantuan. Cobalah memulai mencari saran dan dorongan dari orang lain yang mendukung Anda menjalani hidup sehat, seperti keluarga atau teman.

Walaupun sampai saat ini belum ada kelompok pendukung khusus untuk drunkorexia, kelompok rehabilitasi gangguan makan dan penyalahgunaan alkohol pun turut membantu Anda keluar dari fenomena ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro | Ditulis oleh: Nabila Azmi
sumber : https://hellosehat.com/hidup-sehat/fakta-unik/drunkorexia/, akses tgl 17/07/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours