Sebelum dikenal sebagai makanan, keong sawah atau tutut termasuk hama padi. Keong ini hidup ini sawah yang penuh air dan 'merajalela' jelang padi mulai tumbuh.


Siput adalah hewan herbivora atau pemakan tumbuhan. Karena tinggal di area dengan lahan persawahan yang luas dan air yang banyak, keong sawah pun akan menyantap tumbuhan yang ada di sekitarnya. Sayangnya, keong sawah ini seringkali menyantap tanaman padi budidaya dibanding dengan gulma di sawah. Tak heran, keong sawah kerap jadi musuh petani dan padi.

Tak cuma dimakan, keong-keong ini juga seringkali memanfaatkan batang padi untuk lokasi bertelur.

Karena perkembangbiakannya yang cepat, membuat petani seringkali kelabakan untuk mengatasinya. Berbagai cara dilakukan misalnya dengan melepas bebek di area sawah (sebagai musuh alami keong), memungut satu-satu, sampai penggunaan pestisida.

Tak cuma itu, memanfaatkannya sebagai bahan pangan juga dilakukan untuk membantu mengurangi populasi hama keong sawah. Selain itu, keong juga jadi bahan pangan pilihan masyarakat karena mudah didapat, murah, dan enak.

Mengutip berbagai sumber, tak semua keong sawah bisa disantap.

Keong sawah sendiri secara umum dibagi menjadi keong yang beracun dan tak beracun. Keong sawah beracun adalah keong mas. Seperti namanya, keong ini memiliki cangkang atau rumah keong yang berwarna keemasan.

Sedangkan keong sawah yang tak beracun adalah keong dengan warna cangkang yang sedikit hijau sampai kehitaman. Keong sawah jenis inilah yang kerap disebut sebagai tutut.

Hewan yang masuk dalam kelompok molusca atau bertubuh lunak ini juga punya nama lain seperti keong godang, siput sawah, siput air, kraca, dan lainnya.

Masyarakat biasa mengolah keong sawah ini dengan berbagai cara, misalnya ditumis, digoreng, disayur, atau direbus. Ada yang mengolahnya langsung bersama cangkang ataupun dihilangkan cangkangnya terlebih dulu.

Tekstur dagingnya yang kenyal dan rasanya yang gurih dianggap jadi daya tarik keong sawah.

Selain itu, kandungan gizi yang tinggi juga diklaim bisa dipakai sebagai alternatif sumber protein di masa depan.

Mengutip Persatuan Ahli Gizi Indonesia dalam buku Tabel Komposisi Pangan Indonesia (2009), keong sawah mengandung protein 12 gram, lemak 1 gram, energi 64 kkal, air 81 gram, karbohidrat 2 gram, dan kalsium 217 miligram.

Semua nilai gizi tersebut bisa didapatkan dalam 100 gram keong. Sebagai perbandingan, satu ekor keong sawah dewasa memiliki berat daging antara 4-5 gram. (chs/chs)

Christina Andhika Setyanti
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20171206090346-262-260417/keong-sawah-hama-padi-yang-jadi-bahan-pangan-murah, akses tgl 07/07/2020.

Share To:

PERSAGI Bandung

Post A Comment:

0 comments so far,add yours